Wednesday, June 14, 2017

Embuh. Entah.

Kabar tentang tutupnya majalah remaja Hai, bagi saya, cukup mengharukan—meski kemudian harus dipupus dengan permakluman bahwa fakta ini adalah bagian kecil dari keniscayaan. Zaman telah bergerak, gadget telah menyita begitu banyak prosentase perhatian sekian miliar manusia planet tua ini. Dan buku, majalah, Koran serta sekian banyak bahan bacaan fisik yang tercetak di atas kertas telah terasa lampau, dan lalu secara pelahan ditinggalkan.

Majalah Hai, meski di bawah grup penerbitan terbesar di Indonesia, yakni Kelompok Kompas Gramedia, toh tak bisa beringsut menghindari vonis kematiannya. Tiras yang menurun tajam seiring dengan bergesernya pola konsumsi informasi masyarakat dari tradisi cetak menuju tradisi digital, semakin tak terelakkan.

Realitas ini menambah deret panjang terempasnya media cetak oleh gelombang tsunami internet dan media digital yang tak bisa dielakkan. Di internal Gramedia sendiri naga-naganya ada penyusutan daya serap konsumen yang makin terasa. Saya jumput secuil data dari Gramedia sebagai jaringan toko buku terbesar di Indonesia itu mencatat bahwa tiras atau jumlah satuan buku yang tercetak dan terdistribusi lewat Gramedia pada tahun 2012 sebesar 33.565.472 eksemplar, tahun 2013 turun menjadi 33.202.154 eksemplar, serta tahun 2014 turun lagi menjadi 29.883.822 eksemplar. Tahun-tahun terakhir ini diduga kembali turun, meski saya belum melacak datanya. Hanya ada secuil fakta yang mungkin cukup representatif menggambarkan sebuah realitas: toko buku Gramedia di salah satu mal terbesar di Yogyakarta, yakni Ambarukmo Plaza, tergerus kaplingnya. Yang sebelumnya begitu luas, sekarang berkurang sekitar 25%-nya. Saya hanya menduga-duga: toko buku dan penerbtan sebesar Gramedia saja mulai tergerus pendapatan dan anak-anaknya, apalagi penerbitan yang skalanya lebih kecil?

Tapi, uniknya, di seberang fakta yang disodorkan dari dan tentang Gramedia, saya melihat data yang lain, yang tak kalah menariknya. Perpusnas (Perpustakaan Nasional), lewat parameter yang bisa diacu dari ISBN yang terdaftar di lembaga ini, mencatat bahwa ada buku baru mencapai angka 36.624 judul pada tahun 2013, dan meningkat tajam pada tahun 2014 menjadi 44.327 judul. Dari sisi kuantitas judul buku, ini jauh melampaui angka-angka yang tak terbayangkan sebelumnya. Beberapa sumber pernah merilis bahwa jumlah judul buku yang terbit pada tahun-tahun sebelum pemerintahan Soeharto jatuh paling banyak berkisar antara 2.000 hingga 3.000 judul buku pertahun.

Lompatan angka-angka itu tentu saja cukup membanggakan, meski kalau kemudian kita melongok keluar, kebanggaan itu belum bisa membuat kita menepuk dada, karena pada kurun waktu yang kurang lebih sama, India telah mampu menerbitkan sekitar 60.000 judul, dan negeri panda China dengan 140.000 judul buku. Itu baru dengan sesama negara Asia.

Lalu, kalau kembali pada soal kasus matinya majalah Hai, tampaknya memang kita tak bisa menampik jalannya sejarah. Dia seperti jarum jam yang tak bisa dihentikan. Majalah mingguan berskala dunia, Newsweek pun telah beberapa tahun lalu menjadi korban. Apalagi “hanya” majalah Hai yang berskala nasional dan tingkat spesifikasinya masih dianggap mengambang—sehingga masyarakat pembacanya mungkin kurang memiliki fanatisme yang kuat. Akhirnya ya, apa boleh buat, perpindahan konten media menuju format digital menjadi salah satu kemungkinan untuk tetap survive, meski karakternya ada perubahan.

Itu juga berlaku pada barang cetakan yang lain, yakni buku. Kini sudah ada tantangan yang lain yakni e-book yang bisa relatif lebih lekas datang ke pembaca. Saya bisa mendapatkan buku seni rupa yang terbit di Eropa atau Amerika setahun terakhir. Baru! Kinyis-kinyis! Saya tinggal nge-download dan lalu nge-print (seiring usia, mata tak kuat melototi layar komputer terlalu lama, haha), jadilah buku yang siap diserap ilmunya dari situ.

Itu alternatif yang paling efektif dan murah. Dibanding misalnya membeli secara online, atau titip ke saudara atau teman yang tengah ke mancanegara, pasti lebih mahal. Atau beli di beberapa toko buku di Singapura yang begitu updated ketimbang semua toko buku apapun di Indonesia. (Heran, negeri mungil tapi toko-toko bukunya lebih lengkap menyediakan buku-buku seni rupa ketimbang di negeri sebesar Indonesia).

Tapi, ah, ya sudahlaaahhh…

Toh dua tahun terakhir ini Indonesia (eh, Jakarta dan Surabaya) sudah dijadikan lahan untuk pameran besar buku Big Bad Wolf yang menyediakan jutaan buku dalam sekali pameran, meski “konon” itu sekadar limpahan setelah dipamerkan di Malaysia. Ya sudahlaaahhh… toh membaca buku bisa dianggap kudet ketimbang membaca linimasa medsos yang selalu riuh dan menjadi tren perbincangan, dari warung angkringan, dalam pembukaan pameran seni rupa, hingga arisan keluarga. Membaca itu, membaca itu, membaca itu, ah, tidur aja lagi deh. Micek wae, daripada perut semangkin lapar. Hahaha! Zzzzzz… ***