Saturday, May 19, 2007

Pengamen London

GADIS ini bukan tengah berhadapan dengan sesosok patung, tapi manusia yang mematung, sebagai modus jualan jasa di sebuah sudut kota London. Ini sebenarnya bukan hal yang istimewa dan satu-satunya, karena di belahan wilayah lain juga ada modus yang serupa. Misalnya ada sosok miniatur manusia-patung liberty di jejalalan di kota New York, atau figur Lenin, Stalin, Marx di Moskow, dan machonya gladiator di sekitar Colosseum di kota Roma.

Modus kreatif ini, bagiku, sangat menarik untuk memberi pengingat pada realitas yang terjadi di sekitar kita di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Kota ini sekarang sudah begitu banyak dikerumuni oleh pengemis dan tukang parkir. Ya, kukira mereka sama, ya pengemis. Pengemis meminta uang tidak dengan jualan jasa, tapi menyodorkan keibaan secara vulgar dan transparan. Tak ada "seni"-nya sama sekali. Pun demikian dengan tukang parkir yang berposisi seperti menjadi pemegang otoritas wilayah trotoar atau jalan yang sebenarnya milik umum, bukan hak tunggal mereka. Mereka menyebalkan karena hanya menengadahkan tangan ketika kita menuju motor atau mobil setelah keluar dari bilik ATM (padahal cuma ngecek apa transferan sudah masuk atau belum!), atau sehabis memfotokopi sesuatu (yang ongkosnya cuma setengahnya ongkos parkir). Diancuukk!
Jualan jasa yang estetik seperti di London ini kukira juga mengingatkan kembali fungsi sosial terhadap para performance artists yang merebak di banyak kota, khususnya Yogyakarta. Pada "karya" ini, jaring komunikasi lebih kental ketimbang beberapa seniman performance art yang larut dengan egosentrisme yang tak jarang gagal dipahami oleh publik. Marina Abramovich, salah satu "godmother" performance art sejagad itu mungkin lupa memberi proses pembelajaran aspek komunikasi itu pada seniman genre seni ini di Indonesia. Atau jangan-jangan seniman kita malah yang telah banal dengan praktik kreatifnya itu?
Apa Malioboroman versinya juragan t-shirt Dagadu perlu dibikin toys atau sosok "utuh"-nya di Malioboro untuk foto-foto bareng dengan pelancong yang datang di jalur etalase (ekonomi) Yogyakarta itu?

4 comments:

Okky Puspa Madasari said...

Hmm...keren blognya.Konsisten dengan profesinya. Selama ini sering baca tulisannya di media dan sering denger namanya aja...salam kenal:)

Fany said...

*liat foto* wah itu manusia ya, bukan patung.. kreatif juga ya..

Tapi kalau di sini malah suka dikira orang aneh (negative) kalo ada yg perform seperti itu..

godot said...

kuss, pindah neng wordpress wae. :P

kuss-indarto said...

emang knp, Dot? Lha nek dotcom mironan yo? hehehe