Monday, July 30, 2007

Lukisan Indonechina?

(Foto: lukisan Tue Minjun, Untitled, 2005, oil on canvas, 220.3 x 200 cm)

Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat di harian Suara Merdeka Semarang, Minggu, 29 Juli 2007)

Sekurang-kurangnya dalam 5 tahun terakhir ini, nama-nama perupa China kontemporer seperti Yue Minjun, Fang Lijun, Ju Ming, Wang Guangyi, Xue Jiye, Zhou Chunya, dan sederet nama lain, mulai mengental dalam ingatan kolektif masyarakat seni rupa Indonesia. Beberapa di antara mereka merupakan the best-known top money-maker artists yang mulai "menguasai" pasar balai lelang seni rupa dunia. Berhamburnya karya-karya mereka di sini dalam kurun waktu tersebut terasa memberi banyak pengaruh yang tak bisa dielakkan. Pada satu sisi, kenyataan ini cukup memprihatinkan karena interest pasar di jagad seni rupa Indonesia relatif banyak tersedot karena beralih mengoleksi karya-karya seniman China. Apalagi kedatangan mereka justru langsung diberi kesempatan dan ruang yang sangat optimal oleh galeri-galeri ternama di Indonesia. Ini begitu dirasakan oleh banyak seniman di Indonesia, terutama bagi mereka yang kesulitan dalam menemukan momentum yang tepat untuk berkompetisi secara wajar.

Sedang para kolektor Indonesia pun mengakui mulai banyak melirik karya-karya seni rupa China sebagai subyek koleksinya dengan alasan capaian estetiknya kuat dan mampu menjadi komoditas investasi yang menjanjikan. Bagi para pemilik galeri, profesionalitas perupa China ini mampu menjawab kebutuhan kualitas dan kuantitas material pameran seperti yang diagendakan, yang selama ini tak jarang gagal terwujud ketika menghadapi seniman tanah air.

Sementara implikasi positif yang dapat ditangguk dari hingar-bingar merebaknya karya seni rupa China adalah mulai bergesernya cara pandang dan cara berpikir para seniman Indonesia sebagai bagian penting dari strategi berkesenian mereka. Hipotesis awal ini, kalau benar, tentu amat menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut karena implikasi positif ini akan membawa optimisme dalam perkembangan seni rupa Indonesia.

Pergeseran cara pandang dan cara berpikir yang saya maksud adalah ritus kreatif kesenimanan yang lebih profesional ketimbang habitus yang selama ini dialami. Meski hal ini belum sangat kentara terjadi pada banyak seniman Indonesia, tetapi dalam beberapa kali perbincangan dengan beberapa seniman di Yogyakarta, mereka banyak menerima pembelajaran baru yang positif dari profesionalitas perupa China. Misalnya, strategi menghadapi galeri atau ruang seni yang mengajak berpameran yang menuntut si seniman untuk memenuhi kuantitas jumlah karya tanpa mengorbankan kualitas tiap karya. Lalu juga laku profesional dalam soal ketepatan waktu menghasilkan karya sesuai kesepakatan dengan pihak galeri. Seniman "jenis" ini seperti dicubit sensibilitasnya untuk mengejar ketertinggalan yang selama ini bahkan tak terpikirkan olehnya dalam memberlakukan laku manajemen dan profesionalitas kesenimanannya. Hal-hal tersebut selama ini, seolah bukan menjadi urusan yang melekat dengan diri seniman.

Senyampang dengan hal itu, gelombang pasang hadirnya karya-karya seni rupa China juga ditangkap oleh para seniman Indonesia sebagai sumber gagasan dalam proses kreatif yang selama ini hanya berputar-putar mengacu pada situasi kreatif dalam negeri. Kalau toh mereka mencoba mengacu pada kecenderungan dan perkembangan dari seni rupa Barat, jumlah mereka terbatas dan imbas ke pewacanaan seni rupa juga minimal. Apalagi implikasinya terhadap pasar sangat sedikit. Maka kecenderungan yang bisa ditangkap secara sekilas dalam aspek visual pada karya-karya seniman Indonesia sekarang ini adalah karya-karya yang memiliki keterkaitan cukup melekat dengan kecenderungan karya-karya para perupa China kontemporer yang hadir di sini. Aspek visual yang menonjol adalah, pertama, menguatnya karya-karya yang mengedepankan basis realisme yang kuat, rinci, halus, dengan penggarapan yang serius. Penggarapan dengan kepekaan teknis virtuoso ala seniman jaman renaisans dulu, kini banyak merebak dan digeluti oleh banyak seniman di sini. Kedua, aspek simplisitas atau kesederhanaan visual dengan menyingkirkan pola dan bentuk visual yang ornamentik atau penuh "hiasan". Pada umumnya subyek visual terlihat tunggal dengan memberi penekanan pada tema yang kuat.

Modus dan out-put kreatif seperti ini banyak menghinggapi seniman kita, di antaranya F. Sigit Santoso. Pameran tunggalnya di Edwin Gallery pada Agustus-September 2003 yang bertajuk plesetan Painthink, saya kira, menjadi titik balik penting dalam melihat pergeseran alur kreatifnya. Rentetan karya yang terpajang waktu itu seperti sebuah alur metamorfosa dari karya yang naratif dengan pendekatan visual surealitik menuju karya-karya cynical realism (realisme sinis) yang penuh simplisitas secara visual namun kuat dan bernas dunia gagasannya. Terlebih bila menyimak karya-karyanya yang terakhir, kesan tersebut kian menguat. Kecenderungan ini disadari Sigit sebagai bagian dari keterpengaruhan dirinya oleh karya kontempoter China yang sederhana dan "gampang" (secara waktu) dalam menuntaskannya. Dengan ditunjang oleh kemampuan teknis yang sangat memadai, bagi Sigit, pencapaian visual ala perupa China bukanlah masalah besar. Kini problem ide yang harus terus diasah agar karyanya lebih tajam dan mendunia.

Kecenderungan serupa juga dialami oleh Budi "Swiss" Kustarto yang semakin fokus memotret gambaran dirinya seperti yang dilakukan oleh Yue Minjun. Atau juga Nurkholis yang kira-kira dalam empat tahun terakhir ini praktis telah "menghentikan" modus kreatifnya yang mengedepankan teknik body printing. Karya-karyanya yang selalu masuk sebagai finalis dalam kompetisi seni lukis di Beppu Jepang dalam tiga tahun terakhir ini merupakan karya dengan pendekatan realisme yang kuat dan dengan penyederhanan bentuk yang ektsrim, terutama bila dibandingkan dengan karya sebelumnya yang selalu riuh dalam tiap kanvasnya.

Seniman yang lebih muda usia, terutama yang saya lihat di Yogyakarta, juga banyak yang mengadopsi modus dan pola kreatif seperti saya sebut di atas. Mereka mencari subyek yang kuat untuk lalu digali dan difokuskan sebagai sumber gagasan yang tunggal. Sebut saja Iwan Hartoko yang menggali visual hamburger, Bayu Yuliansyah dengan visual rokok yang variatif. Kemudian ada Rinaldi yang "menguliti" buah kelapa, David Armi Putra yang menampilkan parung wajah yang terkoyak, Julnaidi MS yang mengeksposisikan "kota batu", dan masih banyak lagi serentetan contoh lainnya.

Pun demikian dengan para perupa di hanya kota lain. Misalnya, di Semarang, para perupa yang telah banyak "melek informasi" mulai memalingkan kecenderungan yang stereotip dengan apa yang terjadi pada banyak perupa di belahan wilayah lain di Indonesia. Simak saja kanvas-kanvas mereka yang, sebagai amsal, mengemuka dalam pameran Imagined Affandi (yang kurang imajinatif) beberapa waktu lalu di Jakarta.

Pola keterpengaruhan visual itu saya kira dengan jelas memberi gambaran bahwa "banjir bandang" seni rupa kontemporer China dijadikan sebagai "alat pembenar" bagi seniman Indonesia untuk menampilkan karya yang simpel yang selama ini relatif sulit diterima di lingkungannya sendiri. Tapi memang, di luar hal itu, masih juga ada pertanyaan yang mengemuka: kalau modus kreatif itu tak bisa disebut sebagai sebuah epigonisme, apakah spirit tentang simplisitas visual ala Yue Minjun dan lainnya itu juga telah ditangkap lebih dalam secara konseptual oleh seniman kita? Atau baru "pokoknya lukisan yang simpel"?

Seperti kita tahu, karya-karya Yue Minjun dengan figur manusia-manusia tertawa lebar berangkat dari kesadaran politis dirinya sebagai aktivis yang bersentuhan dengan "Tragedi Tiananmen" di Lapangan Merah, Beijing, 1989. Manusia-manusia yang tertawa adalah obsesinya tentang kebebasan membuka mulut, keleluasaan untuk berbicara bagi rakyat yang tak banyak diakomodasi oleh rezim penguasa China waktu itu. Ini problem ideologis yang menjadi titik pijak konseptual atas kemunculan karya-karya Yue Minjun. So, adakah hal yang ideologis (meski tak mesti sebangun dengan kasus Yue Minjun) pada banyak karya seniman Indonesia yang "simpel-simpel" itu? Ataukah kita baru terpukau pada aspek eksotisme visualnya semata, namun abai pada modus, cara berpikir, etos kreatif, dan ideologi yang mendasari kelahiran karya mereka? Apa kita benar-benar tengah dikepung lukisan kechina-chinaan yang tanpa ruh?

No comments: