Wednesday, July 15, 2009

Narasi-narasi dari Jagat Virtual





oleh Kuss Indarto

(Teks ini dimuat dalam katalog pameran tunggal "Virtual Displacement" karya Rusnoto Susanto, di Taman Budaya Yogyakarta, 15-21 Juli 2009)

Ada titik perkembangan kreatif dalam karya-karya Rusnoto, terlebih dalam kurun 2 tahun terakhir. Pada satu sisi, terjadi pergerakan yang gradual dari kecenderungan kreatif atas karyanya yang bisa ditengarai sebagai abstrak murni menuju abstrak figuratif. Dari tahap penuh coreng-moreng yang mengedepankan jejak manual yang ekspresif, menuju tahap penuh gurat-gurat terukur yang terkelola layaknya tapak-tapak digital yang impresif. Kecenderungan ini terasa memberi percik kesan “pendewasaan” atas karyanya yang tak lagi sekadar menorehkan “beban” ekspresi, namun juga didalami dengan muatan konseptual. Kata “pendewasaan” tentu membawa risiko yang debatable karena ini tidak berkait secara melekat dengan problem usia seorang seniman, namun lebih pada kegigihan dan ketekunannya untuk mempertautkan dunia visual/bentuk yang ditorehkannya di atas kanvas beserta dunia substansi/ide yang melambari atau mengiringi ketika dunia itu akan/tengah dimunculkan di atas karya.

Oleh karena itu, pada sisi yang lain, apresian bisa menyimak bahwa karya-karya Rusnoto pada pameran tunggal kali ini juga memiliki pergerakan yang terasa menguat secara konseptual. Dorongan ini, tentu bisa diyakini oleh situasi batin dan sistem pengetahuannya yang bergerak menuju progresivitas. Pada poin ini, Rusnoto—dugaan saya—teramat diuntungkan ketika masuk dalam sebuah komunalitas besar bernama Yogyakarta sebagai kampus pembelajaran yang sesungguhnya. Di samping secara resmi menjadi mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta, kawasan Yogyakarta yang dinamis dan penuh hiruk-pikuk kreatif ini betul-betul telah menjadi academia yang sarat pengetahuan untuk terus-menerus ditimbanya.

Dan kemudian sistem pengetahuan yang bergerak membaru (setidaknya bagi dirinya) tumbuh dari kawasan dan situasi yang mendukungnya ke arah yang lebih progresif. Konsep kreatif yang mendasari proses kekaryaannya ini, yang bertajuk Virtual Displacement, dengan jelas mempertontonkan geliat kritisismenya dalam menyimak tiap gejala sosial yang berkelindan di lingkungan sosial kemasyarakatan di seputar mata kepala dan batinnya. Memang tidak semua gejala dipelototinya. Namun ada kotak penegasan atas tema yang diambilnya, yakni gejala umum yang mempertautkan antara realitas kemasyarakatan dan relasinya dengan teknologi, terkhusus pada teknologi digital. Ini memang sebuah gejala global yang berimbas teramat banyak terhadap berbagai kawasan. Kini, kita bisa mengalami bersama bahwa kemajuan teknologi telah memberi pembentangan kemungkinan jagad hingga perluasan medan pengalaman yang berbeda yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Kalau kita kembalikan pada hal yang lebih mendasar terhadap kemajuan teknologi ini, masyarakat telah mengalami bersama-sama sekaligus bersikap dalam tiga kemungkinan, seperti dipaparkan oleh Yasraf A. Piliang (2007). Pertama, utopianisme (utopianism), sebagai pandangan optimis tentang peran positif sains dan teknologi. Utopianisme ini sebagai merupakan kecenderungan pemikiran tentang sebuah 'masyarakat tanpa cela' (perfect society) di masa depan. 'Utopia' dalam bahasa Yunani berarti 'tak-bertempat'. Istilah 'utopia' ini bisa diterapkan untuk menggambarkan sebuah masyarakat imajiner yang berada di sebuah tempat yang jauh, sebagai model kehidupan masyarakat masa depan yang demokratis dan tanpa kelas, dengan orang-orang yang bijak. 'Utopia' menjadi sebuah istilah generik untuk melukiskan segala bentuk narasi yang menceritakan sebuah komunitas di masa depan di mana segala sesuatu berlangsung indah, menyenangkan dan tanpa cela. Ahli komunikasi Marshal McLuhan (yang termashur lewat jargonnya: Medium is Message), misalnya, secara optimis melihat teknologi sebagai sebuah utopia 'perpanjangan manusia' di masa depan. Dengan teknologi, kita bisa meyakini bahwa segala keterbatasan, hambatan dan kekurangan manusia (fisik, psikis, spiritual) dapat diatasi melalui kekuatan sains dan teknologi, khususnya teknologi realitas virtual (virtual reality), yang dapat menawarkan sebuah 'dunia baru', yang sepenuhnya dibangun secara artifisial (artificial reality)-inilah pandangan tekno-romantisisme (techno-romantism).

Berikutnya, kedua, distopianisme (dystopianism), yakni sebagai pandangan pesimis tentang sains dan teknologi. 'Distopia' merupakan sebuah tempat atau kondisi yang di dalamnya segala sesuatu dilukiskan tampil dalam kondisi seburuk-buruknya. Visi distopia tentang masa adalah lukisan tentang masalah-masalah serius yang ditimbulkan oleh perkembangan sains dan teknologi dan ketidakmampuan manusia mengatasi dan menanggungkan setiap bahaya, risiko dan bencananya. Untuk itu, harus ada upaya serius untuk membendung bahkan menghentikan pertumbuhan sains dan teknologi, yang bila tidak dilakukan akan membawa pada bencana dan kehancuran manusia. Perkembangan sains dan teknologi yang 'melampaui' menyediakan terlalu banyak fungsi dan produk, yang semakin menjauhkan manusia dari alam. Teknologi informasi, misalnya, menjadikan setiap individu sebagai subyek yang berjarak dengan dunia realitas, semacam 'penjarakan pengalaman' (distanciation). Di sini, teknologi juga berpotensi menciptakan ketakpuasaan dan kesadaran tak bahagia yang abadi.

Dan poin ketiga, 'hiper-topianisme' (hypertopianism), yakni pandangan 'fatalis' tentang sains dan teknologi. Ini menyangkut persepsi tentang pelukisan dunia yang kehilangan batas, kategori serta ukuran. 'Hiper-topia' dapat dijelaskan sebagai 'tempat yang melampaui', yang mendekonstruksi segala batas, definisi dan kategori-ketegori yang ada. Bila pandangan utopianisme mempunyai definisi dan batas-batas tentang apa yang disebut 'baik', 'sempurna', 'bahagia'; dan, pandangan distopia mempunyai definisi dan batas-batas tentang apa yang disebut 'buruk', 'merusak' dan 'bencana'; pandangan hiper-topianisme tidak mempunyai definisi dan ukuran-ukuran itu, disebabkan ia dibangun oleh prinsip 'fatalisme' (fatalism). Sains dan teknologi dipandang telah berkembang ke arah kondisi 'melampaui' (hyper), yang tidak menyediakan lagi ruang untuk refleksi di dalamnya. Manusia tunduk pada kekuasaan sains dan teknologi, menempatkan dirinya di hadapan produk-produknya sebagai 'mayoritas yang diam' (the silent majorities), dan menjadi bagian dari setiap struktur yang diciptakannya.

Dalam kaitan dengan tiga kemungkinan sikap ini, kehadiran karya-karya Rusnoto memang tidak secara sengaja mengambil titik tegas. Ketiga poin tersebut sangat mungkin mencair dalam sebuah pemahaman yang longgar, yakni bahwa kehadiran teknologi digital pantas untuk diterima secara arif, dikelola dengan cermat, dan kemudian dipraktikkan dalam ruang pemahaman yang selaras dengan kebutuhan dan situasi. Karya-karya Rusnoto seperti masih bergerak untuk membuat narasi atas situasi yang berada di sekelilingnya, dan belum mempersuasi kepada apresian atas sikap pribadinya terhadap kehadiran teknologi. Dalam kapasitasnya sebagai seniman juga bagian dari masyarakat dunia ketiga yang ramai-ramai menjadi konsumen atas gempuran kehadiran teknologi, karya juga sikap dan pemikiran Rusnoto, seperti tampil sebagai seorang penyaksi. Dia tengah mengabarkan atas semua yang dialami saat ini.

Cara ungkapnya yang secara visual bergeser dari kecenderungannya sekitar dua tahun lalu, telah cukup selaras dalam menjemput garis kesesuaiannya dengan torehan temanya. Beberapa citraan yang tertera hampir pada tiap kanvasnya seperti simbol visual yang merujuk pada bangunan citra berbau teknologis terasa tertata cukup rapi, terukur bagai diolah lewat standar baku yang berkait dengan barang teknologi, dan semacamnya. Semuanya, untuk sementara ini, berjalan “baik-baik saja”. Selebihnya, Rusnoto mesti memberi agenda yang tegas, misalnya, tentang sikapnya terhadap geliat progresivitas teknologi yang terasa menusuk agresif di segala kisi kehidupan kita. Dari sini, dimungkinkan karyanya akan lebih “berbunyi”, dan tidak sekadar menjunjung eksotisme visual. Semoga!