Saturday, February 06, 2010

Komik lokal lekat di hati





Th. D. Wulandari & Herry Suhendra

(Tulisan ini telah dimuat di harian Bisnis Indonesia, Minggu, 24 Januari 2010)

Perkembangan komik pada beberapa tahun terakhir ini banyak menemukan muara aktualisasi dan aksentuasinya. Karya itu bergerak tidak saja di ruang media cetak yang relatif terbatas lahannya, tetapi juga lewat artikulasi lain.

Mereka hadir di buku-buku komik yang disokong dan selaras dengan kebutuhan LSM tertentu yang ingin memediasikan programnya lewat komik. Demikian juga lembaga pemerintahan yang ingin programnya gampang dikomunikasikan ke masyarakat. Komik juga bergerak di ruang virtual yang kini telah menjadi media pilihan paling popular bagi generasi muda. Terakhir, komik kian popelar di kalangan tertentu dengan maraknya lukisan anak muda yang berkecenderungan komikal (comical).

Apa pun bentuknya, gejala popularisasi komik ini memberi tanda penting bagi gerakan komik di Indonesia. Komik tidak lagi diberi perspektif yang stereotip, yakni sebagai bacaan anak-anak dan bahkan mengganggu perkembangan studi formal anak-anak. Namun, dia telah menjadi bacaan bagi banyak kalangan yang lintas usia dan golongan, sekaligus sebagai media pembelajaran anak-anak dan umum yang relatif efektif.
Apakah komikus ini akan konsisten ke depan dengan mengetengahkan tema-tema aktual, yang bernuansa tradisional atau modern bahkan kontemporer? "Soal konsistensi itu saya kira akan dikembalikan pada visi dan ideologi kreatif setiap komikus atau seniman komik," kata kurator seni rupa Kuss Indarto.

Dia berpendapat generasi komikus sekarang sudah masuk dalam pola kerja kreatif yang industrial. Anak-anak muda ini lebih bisa memenuhi target kerja sesuai dengan skedul yang mereka tentukan.

Mulai banyak sebuah komunitas komik yang bekerja secara kolektif untuk sebuah karya. Ada pembagian kerja yang terstruktur dan saling mendukung. Tentu ini beda dengan komik Ganes TH, Wid NS, atau Teguh Santosa, yang mulai dari gagasan cerita, sket, penintaan hingga finishing yang dikerjakan sendiri.

Komikus kini terbantu oleh teknologi. Mereka bisa berkarya dengan relatif cepat karena dukungan perangkat teknologi. Kemampuan menggambar mungkin setara dengan Teguh Santosa, misalnya, tetapi menjadi lebih dahsyat karena disokong oleh efek visual yang dihasilkan oleh teknologi.

Generasi komikus sekarang juga relatif banyak terbantu oleh dukungan derasnya informasi yang mendukung secara referensial. Wid NS dulu secara terus terang mengaku bahwa tokoh Godam ciptaannya merupakan adaptasi dari tokoh Flash di komik produksi Marvel, Amerika Serikat.

Komikus muda berpeluang besar untuk melakukan upaya internasionalisasi lewat jaringan kerja (networking) yang relatif gampang terbentuk karena dukungan Internet. "Sudah banyak [go international]. Kendalanya sekarang adalah kemampuan berbahasa Inggris dan teknologi informasi. Lepas dari soal itu, mereka pasti bisa go international," kata Kuss tegas.

Donny Kurniawan, komikus di kampung Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta, misalnya, rajin memenuhi order dari sedikitnya tiga perusahaan komik di Amerika. Dia dihubungkan via Internet dengan seorang pialang komik dari Hong Kong.

Ada juga Benny dan Mice. Ada Wisnu 'Lee' Karyono yang menciptakan komik Gibug yang cukup populer. Juga Benny & Mice, atau Sukribo. Atau Beng Rahadian.

Seni komik mengingatkan kita pada Will Eisner lewat bukunya berjudul Graphic Storytelling. Dia menggariskan batas pemahaman komik sebagai tatanan gambar dan balon kata yang berturutan.

"Keunikan komik, baik secara artistik visual, maupun potensi tutur gambar yang lekat, menjadikan seni ini begitu antusias diserap ke dalam karya-karya seni rupa kontemporer di dunia," kata perupa yang juga dosen di ISI Denpasar Kun Adnyana.

Secara tematik, visual komik yang begitu dekat dengan tradisi kartun, juga menjadikan cita rasa humor atau bahasa jenaka lainnya terlantur dengan sumringah di kanvas mereka.

Karya lokal

Jadilah komik makin digemari semua usia. Lihat saja beragam penampilan tokoh komik superhero asal negara barat seperti Batman, Superman, Ironman, Spiderman, Hulk, X-man, dan Wolfare.

Karya komikus lokal juga tidak kalah dikenal meski jumlah tokohnya masih terbatas. Sebut saja Gundala, tokoh komik ciptaan Hasmi yang muncul pertama kali dalam komik Gundala Putra Petir pada 1969.

Bahkan ada yang sampai diangkat ke layar lebar, seperti karya Ganes TH dengan tokoh sentral Si Buta dari Goa Hantu yang relatif populer hingga saat ini. Godam, karakter komik ciptaan Wid NS juga muncul pertamakali dengan judul Memburu Doktor Setan pada 1969.

Terakhir, tokoh komik yang belakangan muncul di era 1990-an dan memiliki karakter mirip superhero ala Amerika adalah Caroq, ciptaan Ahmad Toriq.

Sekilas, karakter rekaan pria asal Bandung ini mirip seperti tokoh superhero Amerika, Wolverine. Namun yang membedakan Caroq dengan yang lain, adalah model baju dan warna yang identik dengan baju tradisional Madura.

"Maka namanya Caroq, berasal dari tokoh Carok, jawara asal Madura dengan baju tradisional dan cluritnya," ujar Toriq.
Sejak diciptakan pada 1990-an, tokoh ini sangat mengena di hati penggemarnya. Bahkan bundel seri Caroq yang dimiliki beberapa kolektor banyak diburu dan dibandrol dengan harga tinggi.

"Beberapa seri kata orang ada yang sudah diperjualbelikan dengan harga hingga jutaan rupiah," Toriq menuturkan.

Selain Toriq dengan karakter Caroq, ada juga beberapa penokohan komik yang populer di era 1990an. Sebut saja Kapten Bandung karya Anto Motul, Curhat Tita karya Tita Larasati, Wahyu Sugianto lewat karakter Gatotkaca Generation-X, dan banyak komikus muda yang tergabung dalam komunitas Masyarakat Komik Indonesia (MKI). Mereka berkumpul dalam ajang Comic Days di Belleza Shopping Arcade Jakarta, sepanjang 14-23 Januari 2010.

"Visi kami ke depan adalah membuat masyarakat Indonesia ngomik, artinya mengajak semua orang dan semua lapisan masyarakat kenal komik Indonesia," ujar Rizqi Rinaldy Mosmarth.

Menurutnya, dengan membuat masyarakat kenal komik, secara ekonomi akan mendukung industri kreatif lokal Indonesia, sekaligus mendukung prosesnya menjadi lebih baik.
"Saat ini banyak anak-anak sekolah mulai membuat ekstrakulikuler komik, dan beberapa edisi komik lokal kembali diburu, itu artinya komik masih tetap disuka. Apalagi komik lokal banyak memberi nilai edukasi yang positif," ujarnya.

Hal ini senada dengan Wahyu Sugianto, penulis cerita komik dan pemilik studio komik yang identik dengan karakter rekaannya Setan United dan Gatotkaca Generation-X. Menurutnya ciri kelokalan komik Indonesia dan ceritanya yang edukatif, menjadi nilai lebih karakter rekaannya dibandingkan dengan karakter dari luar negeri.

"Saya pernah datang ke sebuah konferensi internasional soal komik, dan jika dibandingkan dengan komik dari Amerika, Jepang, dan Eropa, karakter komik kita tidak kalah kok dengan mereka, bahkan komik kita lebih kaya," ujar pria berkacamata yang pernah memamerkan hasil karyanya hingga ke Leiden, Den Haag, dan Amsterdam.

Saat ini penggemar komik lokal hanya bisa dilacak lewat beberapa kalangan mahasiswa saja. Sebut saja Fendy Wijaya. Mahasiswa komunikasi Universitas Atmajaya ini mengaku mengoleksi beberapa komik Caroq dan Gundala yang dia beli dari sebuah pameran komik setahun lalu.

Lokalitas dan alur cerita yang menurutnya lebih mengena dibandingkan dengan cerita komik luar negeri, membuat pria berkacamata ini sedikit demi sedikit memburu beberapa judul.

"Beberapa koleksi yang saya punya malah sudah ada yang mau nawar, begitu tahu harganya sudah mahal saya simpan saja," ujarnya dengan tertawa.

Komik lokal tampaknya memiliki penggemarnya sendiri. Jika digarap dengan baik, kar¬ya komikus lokal bisa jadi tuan di rumah sendiri

(wulandari@bisnis.co.id/herry.suhendra@bisnis.co.id)