Monday, September 26, 2011

Dari yang Industrial Menuju yang Personal




Oleh Kuss Indarto

BADAI pyroclastic dengan suhu sekitar 600 derajat Celcius, akhir Oktober 2010 lalu, bergulung-gulung menghantam sekian banyak hutan dan desa di gigir selatan dan barat daya gunung Merapi, Yogyakarta. Gulungan pyroclastic yang bergelombang besar, yang menjadi bagian dari erupsi Merapi berpuncak hingga 4 November malam ketika beberapa kali dentuman keras merobek bagian atas dari anatomi gunung paling aktif di dunia itu. Inilah letusan Merapi yang paling dahsyat setelah letusan tahun 1872. Setidaknya dari muntahan material dari perut Merapi yang diperkirakan mencapai 140 juta meter kubik.

Dan wedhus gembel, istilah lokal untuk menyebut pyroclastic, semakin meluas meluluh-lantakkan desa-desa yang dilewatinya dengan kecepatan 300 km/jam membawa korban jiwa dan harta benda. Di antara sekitar 150 korban jiwa itu ada sosok Mas Panewu Surakso Hargo atau yang karib dipanggil sebagai Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi. Abdi dalem kraton Ngayogyakarto Hadiningrat berusia 83 tahun itu tewas setelah tetap bertahan di rumahnya di lereng Merapi dan tidak mengungsi karena sebuah keyakinan: bahwa dia harus menjadi orang terakhir yang terus berjaga saat gunung Merapi meletus.

Almarhum Mbah Maridjan memiliki kepercayaan bahwa gunung Merapi saat itu bukan “meletus”, melainkan tengah “bekerja” untuk memperbarui dirinya. Dia percaya bahwa ada mekanisme alamiah yang mesti dilalui oleh alam, termasuk gunung Merapi, untuk memberi keseimbangan bagi kelangsungan hidupnya. Mbah Maridjan mempercayai letusan Merapi sebagai “kotoran” yang dibuang Keraton Makhluk Halus Merapi karena sedang ada perhelatan di sana. Keraton itu dipimpin oleh Eyang Rama dan Permadi yang dibantu oleh Kyai Sapu Jagad, Nyai Gadung Melati, Kyai Krincing Wesi, Eyang Megantara, dan lainnya.

Dan manusia yang hidup di sekitarnya memahami “logika” alam yang mitologis itu. Pandangan Mbah Maridjan tersebut, yang juga dipercayai oleh masyarakat di lereng Merapi, telah merasuk begitu dalam bagai sebuah “ideologi”. Mereka percaya dengan ritus alam dan mitos tersebut. Ini telah membentuk sistem pengetahuan dan sistem nilai tersendiri yang dipergunakan untuk beradaptasi dengan lingkungan alam Merapi.

Sementara di seberang itu, tentu, pandangan dan mitos tersebut berbanding terbalik dengan sistem pengetahuan yang dibangun oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Erupsi Merapi tetaplah sebuah bahaya yang mesti diantisipasi dan dijauhi sedini mungkin oleh warga di lereng Merapi. Titik tengah untuk menyikapi keduanya adalah sikap kawicaksanan (kebijaksanaan) bahwa ilmu pengetahuan telah sedikit banyak memprakirakan kemungkinan peristiwa itu dengan antisipasi, dan bangunan kepercayaan lokal memperkayanya dengan cara menjaga, mendekati dan menghormati Merapi pasca-erupsi.

***

PERISTIWA alam meletusnya gunung Merapi memberi ingatan begitu kuat bagi seniman Agus YK Priyono. Seniman yang dihidupi oleh kultur Jawa ini mengalami peristiwa tersebut meski dalam rentang jarak sekitar 30 km dari pusat letusan, dan bukan termasuk korban secara langsung. Namun, dalam lipatan waktu yang terus bergerak, erupsi Merapi tetap membekas dalam ingatan personalnya di tengah ingatan kolektif masyarakat Yogyakarta secara umum.

Dalam kapasitasnya sebagai seniman, peristiwa itu kemudian secara masif menjadi inspirasi dan sumber ide bagi kelahiran karya-karya kreatifnya. “Fakta sosial” bahwa ada erupsi Merapi yang menjadi bencana bagi sebagian masyarakat di sekitar gunung tersebut, lambat laun bergerak menjadi “fakta estetik” yang ditumpahkan dalam banyak bentang kanvasnya. Bergesernya “fakta sosial” yang kemudian termanifestasikan sebagai “fakta estetik” tidak banyak dilakukan oleh sosok manusia atau bahkan seniman yang kurang memiliki kesadaran sebagai homo socius yang juga “merangkap” sebagai homo aestheticus. Agus YK adalah sedikit seniman yang mampu menangkap dan mau merawat potensi nilai-nilai estetik di balik “fakta sosial” dari kasus erupsi Merapi. Tentu dengan segenap kelebihan dan kekurangannya.

Pada pameran tunggalnya kali ini, tema visual tentang wedhus gembel atau pyroclastic menjadi salah satu pokok soal (subject matter) bagi banyak karyanya. Visualisasi pyroclastic ditempatkan pada bagian atas bidang gambar dan mengambil porsi antara seperempat hingga separuh bagian kanvas. Citra pyroclastic menghambur dari atas atau seperti dari lubang kawah lalu bergerak mencari tempat yang lebih rendah.

Di bawah pyroplastic ada citra tanah yang merekah dan kering. Juga ada lanskap manusia-manusia mungil yang berjalan berarak menjauhi pusat pyroclastic. Ada pula panorama rumah-rumah yang siap diterjang wedhus gembel. Juga lanskap pohon dengan ranting-rantingnya yang mengering. Citra-citra tersebut dapat disimak pada karya-karya yang bertajuk The Sign, Beauty of Survival, The Power of Everlasting, The World’s Never Ending Sympathy, dan karya-karya lainnya. Karya-karya tersebut bisa diduga menempatkan pola pemikiran Agus YK bahwa di tengah kerumunan petaka, masih ada nilai-nilai estetika yang bisa dikemukakan untuk dijadikan sandaran bagi munculnya spirit optimisme dalam memandang datangnya bencana. Bahwa bencana memang sesuatu yang tak mampu diprakirakan oleh manusia, namun spirit optimismelah yang bisa dengan cepat memulihkan luka perasaan.

Di tengah-tengah karya serupa itu, ada beberapa karya yang menempatkan nilai-nilai budaya lokal lewat visualisasi tokoh wayang purwa. Di antaranya ada karya The Wisdom of the Great Teacher dan Noble Characters in Hard Times. Tokoh Semar menjadi tokoh utama pada karya-karya tersebut di samping 3 tokoh lain yang dikenal sebagai Punakawan, yakni Gareng, Petruk dan Bagong.

Semar menjadi penting ditempatkan pada konteks ini karena dialah sosok dewa yang menjelma menjadi rakyat jelata. Tubuhnya yang gendut sangat jauh dari ciri-ciri fisik seorang dewa, seperti Dewa Guru, Dewa Narada, dan lainnya. Tapi justru di sinilah nilai keseimbangan dimunculkan sebagai kearifan. Dan nilai-nilai kearifan sering dikemukakannya sembari bercanda, bukan dalam situasi penuh keseriusan. Dan di tengah kepungan bencana erupsi Merapi, filsafat Jawa tentang keseimbangan sayup-sayup didengungkan di sini: “Tertawalah saat kau sedih, menangislah saat kau gembira”.

***

DI SAMPING karya-karya dengan tema visual tentang erupsi gunung Merapi, ada kelompok tema lain pada lukisan-lukisan Agus YK kali ini. Ada tema karya yang dihasratkan sebagai bentuk simpati pada bencana alam tsunami di Jepang awal tahun 2011 lalu. Secara visual, karya-karya ini memaparkan citra bunga Sakura dalam tiap bentang kanvas sebagai unsur utama karya. Di sela rimbunan bunga identitas negeri Jepang itu ada beberapa origami berbentuk burung yang memberi aksen tersendiri. Di sinilah pesan-pesan sosial dan moral disampaikan.

Ada pula tema-tema lukisan yang mengedepankan aspek keindahan pepohonan lengkap dengan dahan dan ranting yang meliuk eksotik berikut bunga-bunga yang bertebar di sekujur tubuh pohon tersebut. Untuk karya jenis ini, Agus YK sangat piawai mengeksekusi hingga ke detail-detailnya.

Secara umum, pameran tunggal ini memperlihatkan penampang kemampuan artistik dan estetik seorang seniman Agus YK Priyono. Kalau dicermati, dia seperti seorang nakhoda kapal yang mau tidak mau harus sigap bersikap. Setidaknya dalam dua tahun terakhir ini, kesigapannya sebagai seorang nakhoda bagi “kapal estetiknya” tengah dipertaruhkan. Dia memutar arah dengan cukup drastis garis estetiknya.

Selama ini, Agus YK Priyono banyak menggeluti karya-karya lukisan dengan basis utama lukisan pemandangan. Lukisan-lukisan itu memvisualkan pepohonan dengan anatominya yang relatif detil dari batang, dahan hingga ranting dan bunganya. Pola visual semacam ini, sebelumnya, dipioneri oleh seniman yang lebih senior, yakni Sutopo dan Nisan Kristianto. Banyak yang berasumsi bahwa karya-karya model ini merupakan perpanjangan dari lukisan dengan kecenderungan “Mooi Indie”, yakni lukisan yang seolah hanya menjiplak begitu saja keindahan alam yang ada di sekitar. Ideologinya relatif sederhana, seperti yang ungkapkan oleh filsuf Plato: “ars imitatur natura”. Seni itu meniru alam.

Sebutan “Mooi Indie” atau “Hindia yang molek” merupakan satir tajam dari seniman S. Soedjojono terhadap para seniman Belanda atau Hindia Belanda yang datang ke Hindia Belanda dan mengambil keindahan alam sebagai subject matter karya-karyanya. (Indie atau Hindia adalah sebutan untuk Indonesia sebelum merdeka). Itu terjadi sekitar dasawarsa 1930-an. Bagi Soedjojono hal ini kurang menarik karena karya seni menjadi berjarak dengan fakta sosial yang ada, seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, dan sebagainya. Dan ini mengurangi “nilai seni” karena dianggap bias sosial dan tidak peduli dengan kenyataan sosial yang sesungguhnya.

Pola visual pada karya-karya Agus selama ini cukup banyak bergerak mengedepankan aspek keindahan. Maka, merupakan langkah yang menarik dan menjadi pilihan yang cukup berisiko bila sekarang dia mulai bergerak untuk memberi pendalaman tema-tema tertentu, termasuk tema sosial, yang tidak sekadar mengekploitasi keindahan semata. Dikatakan menarik karena langkah seperti ini seperti menjadi ritus wajib bagi seorang seniman untuk berani mendinamisasikan pola kreatifnya demi mencari pencapaian-pencapaian baru, kemungkinan temuan-temuan baru. Dan dikatakan berisiko karena bisa jadi langkah seperti ini berarti keluar dari zona aman yang bisa berdampak bagi persoalan di luar dunia estetikanya. Hal yang telah dilakukan Agus adalah mengubah ritus sebagai perajin (craftman) menjadi seorang seniman atau perupa (visual artist). Ini dua hal yang berbeda karena yang pertama sekadar melakukan reproduksi karya dengan spirit industrial, sementara yang kedua mengekplorasi gagasan kreatif untuk mencari kebaruan dan perbedaan pada tiap karya yang dihasilkan. Spiritnya adalah kreativitas personal.

Apapun, atas pameran tunggal Agus YK Priyono ini pantas diajukan beberapa point penting. Pertama, pameran ini dimungkinkan memberi pengayaan gagasan visual atas maraknya pameran seni rupa di Indonesia. Dari sekian banyak pameran seni rupa, tak jarang masing-masing memunculkan pola-pola yang stereotip satu sama lain. Seperti dewasa ini yang banyak memunculkan tema-tema lukisan comical, urban dan semacamnya.

Kedua, satu rel dengan point pertama, pameran ini juga bisa dimungkinkan akan memunculkan kekuatan pasar baru (art market), meski dalam derajat yang kecil. Kemungkinan sekaligus pengharapan (expectation) ini muncul karena selama ini pasar seni rupa di Indonesia juga terlihat menemukan kejenuhannya karena sempitnya cakupan pasar yang direngkuh oleh para pelaku di dalamnya.

Ketiga, pameran ini bisa dimungkinkan sebagai batu loncatan (mile stone) bagi si seniman untuk masuk dalam peta perbincangan yang lebih luas lagi dari yang saat ini dicapai. Pengharapan ini tentu masih sangat bergantung pada respons publik atas semua dunia-gagasan dan dunia-bentuk yang disodorkan oleh sang seniman lewat karya-karyanya. Ini adalah problem yang tak mudah, namun sekaligus problem yang sulit diduga. Semua kemungkinan bisa terjadi.

Setidaknya, pameran tunggal ini telah diupayakan digelar. Karya-karya yang dipersiapkan telah banyak menyodorkan pesan. Dan publiklah yang akan menjadi saksi sekaligus wasit bagi kemunculan Agus YK dan karya-karyanya kali ini. Time will tell. ***

Kuss Indarto, kurator seni rupa, editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id