Thursday, March 01, 2012

I Made Toris Mahendra: "Hidden Passion"


Role Play, salah satu karya I Made Toris Mahendra yang dipamerkan dalam pameran tunggal "Hidden Passion". 

Oleh Kuss Indarto


(Catatan ini termuat dalam katalog pameran tunggal I Made Toris Mahendra, "Hidden Passion". Pameran ini berlangsung selama sebulan mulai tanggal 19 Februari 2012, di Galeri Apik, Jakarta)

I Made Toris Mahendra, saya kira, belum atau tidak pernah menabalkan diri sebagai seorang laki-laki (aktivis) feminis atau male feminist. Dia, barangkali, juga tak mengenal, atau bahkan tak tahu, nama-nama besar nan “seram” semacam Mary Woolstonecraft, Betty Friedan, Dorothy Dinnerstein, Simone de Beauvoir, Iris Young, Helene Cixous, Luce Irigaray, Julia Kristeva, Vandana Shiva, Maria Mies, dan berderet-deret lagi para pemikir feminisme dunia, entah itu feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme Marxis-Sosialis, feminisme eksistensialis, feminisme posmodern, ekofeminisme, dan lainnya.

Dia, barangkali juga, melewatkan perhatian pada nama-nama aktivis atau pemikir feminisme lokal yang sesekali berkelebat disebut media massa seperti Ratna Megawangi, Gadis Arivia, Maria Hartiningsih, Maria Pakpahan, Mariana Aminudin, dan segudang nama lainnya. Dia bisa jadi juga tak banyak tahu bagaimana peta ataupun titik hubung antara dataran teoritik yang diproduksi oleh para pemikir feminisme itu dan derivatnya di tingkat praktik yang dibawa oleh para aktivis di diskusi-diskusi yang rumit ataupun pada demonstrasi yang memacetkan jejalanan itu.

Tapi justru di sinilah titik menarik dari garis pemikiran perupa Toris, nama panggilan karib seniman ini, yang terepresentasikan lewat bahasa visual. Belasan karyanya berupa lukisan yang tengah dieksposisikannnya ini, dalam gradasi tertentu, memberi nilai dan makna yang selaras dengan pemikiran para feminis dalam menyoal hak-hak dan nilai-nilai keperempuanannya, tentu dengan cara pandang khas Toris sebagai seorang perupa—dan, terlebih lagi, berjenis kelamin laki-laki. Memang tak semua karya secara tegas mengusung nilai-nilai yang diuar-uarkan oleh para feminis itu, namun jejak-jejaknya cukup membekas pada beberapa karya. Tak ada runtutan kajian ilmiah dan akademis tentang perlawanan terhadap kultur patriarki yang dominatif terhadap perempuan, tapi secara tersamar atau tegas pada beberapa karya, Toris mencoba mengorek pengalaman batinnya untuk mengungkapkan hal serupa dengan pendekatan estetik.

Budaya dan Kuasa Laki-laki

Sebelum jauh menyimak karya-karya Toris, sekilas bisa kita segarkan ingatan tentang praktik dominasi patriarki. Seperti kita tahu, kalau dikuak lagi dalam perspektif historis ihwal superioritas dan dominasi laki-laki atas perempuan bisa dirunut mulai dari kisah penciptaan manusia dalam kitab suci yang sangat umum dikenal: Adam diciptakan terlebih dahulu, dan Hawa dimunculkan dari tulang iga sang Adam. Jadi Adam adalah kreator dari Hawa, dan Hawa diciptakan untuk membantu Adam. Secara sosial dan moral, Adam lebih superior karena Hawa, dalam perspektif ini, dianggap sebagai penyebab kenapa mereka berdua terusir dari surga.

Phytagoras pun, seperti dikisahkan oleh Aristoteles, membuat tabel pengklasifikasian hal-hal atau elemen-elemen yang berlawanan (oposisi biner, binary opposition). Dari tabel yang dibuat oleh Phytagoras ini terlihat bahwa laki-laki dan perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai “berbeda” tapi juga “berlawanan”. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya diasosiasikan dari perbedaan-perbedaan fisik saja tapi juga bisa dihubungkan dari persoalan lainnya. Misalnya saja laki-laki diasosiasikan dengan segala yang bermakna light, good, right, dan one. Semua metafora yang dikenakan pada lak-laki adalah berkenaan dengan makna Tuhan. Sementara perempuan misalnya, diidentifikasikan dengan segala sesuatu yang bad, left, oblong, dan darkness. Seperti Phytagoras, Aristoteles pun berangapan bahwa laki-laki lebih tinggi kedudukannya dari perempuan. Menurutnya, secara natural, laki-laki itu superior, dan perempuan itu inferior.

Secara kultural pun, kemudian patriarki dikonstruksikan, dilembagakan, dan disosialisasikan lewat institusi seperti keluarga, sekolah, masyarakat, agama, tempat kerja sampai kebijakan negara. Seorang feminis, Sylvia Walby, membuat teori menarik tentang patriarki, yakni membedakannya menjadi dua: patriarki privat dan patriarki publik. Inti dari teori ini adalah telah terjadi ekspansi wujud patriarki, dari ruang-ruang pribadi dan privat seperti keluarga dan agama ke wilayah yang lebih luas yaitu negara. Ekspansi ini menyebabkan patriarki terus-menerus berhasil mencengkeram dan mendominasi kehidupan laki-laki dan perempuan.

Dari teori yang dikembangken Walby tersebut kita bisa mengetahui bahwa patriarki privat bermuara pada wilayah rumah tangga. Wilayah rumah tangga ini sebagai dasar awal utama kekuasaan laki-laki dan perempuan. Sedangkan patriarki publik menempati wilayah-wilayah publik seperti lapangan pekerjan dan negara. Ekspansi wujud patriarki ini mengubah baik pemegang “struktur kekuasaan” dan kondisi di masing-masing wilayah (baik publik maupun privat). Dalam wilayah privat misalnya, yang memegang kekuasan berada di tangan individu (laki-laki), tapi di wilayah publik, yang memegang kunci kekuasaan berada di tangan kolektif (manajemen negara dan pabrik tentunya berada di tangan banyak orang).

Perupa semacam Toris barangkali, secara bawah sadar, cukup bisa merasakan bagaimana wujud kultur patriarki ini beroperasi di wilayah yang bersentuhan dengan diri dan lingkungannya, di wilayah privat ataupun publik seperti yang disinyalir Walby. Langsung atau tak langsung. Frontal atau tak terasa namun jelas tersistem. Di sinilah pengalaman empiriknya sebagai seorang dari kultur Timur yang dianggap relatif patriarkhis. Realitas seperti itu membawa kegelisahan yang kemudian dijadikan titik berangkat bagi kemunculan sekian banyak karyanya, terutama dalam pameran tunggalnya kali ini. Posisinya sebagai laki-laki yang tergerak untuk membincangkan problem “ideologis” perempuan coba didedahkannya di sini. Kegelisahan tentang tema ini diaduknya dengan rasionalitas yang memungkinkan memproduksi sintesis pemikiran, tentu saja, lewat pendekatan estetik. Dalam penampakan visual karya-karya Made Toris relatif tidak terlalu “berteriak” secara frontal, namun dengan modus penyampaian yang cukup kritis namun eufemistik ala Timur dengan tetap konsisten menampilkan ironi yang dirasa efektif.

Maka berseraklah idiom-idiom visual yang dipinjam untuk memberi penekanan pada “target ironi” yang diinginkannya. Idiom tersebut relatif sudah populer dalam kerangka pemahaman publik sehingga dimungkinkan gampang untuk diserap.

Idiom Visual

Pada belasan karya Toris, nyaris semuanya “dikunci” dengan satu idiom visual penting yang muncul pada tiap bentang kanvas, yakni citra tubuh perempuan tanpa busana dengan gestur tubuh yang dinamis, terutama pada bagian tungkai. Di ujung bawah tubuh-tubuh itu, di telapak kaki, sosok perempuan tersebut nyaris selalu mengenakan sepatu hak tinggi (high heel). Satu-dua ujung bawah tungkai itu mengenakan sepatu boot yang masih tetap memperlihatkan sisi keperempuanan sang pemakainya. Sementara pada bagian kepala, sebagian besar divisualisasikan samar atau teraduk dengan cecitraan lain seperti pusaran angin yang terbentuk dari beragam warna. Atau pemunculan citra kepala satwa, terutama harimau, yang relatif cukup dominan. Sementara pada beberapa karya lain dikemukakan juga citra-citra simbolik yang menunjukkan benda-benda konsumsi perempuan seperti parfum, lipstik, juga sepatu high heel mewah.

Karya-karya Toris ini, yang bisa saya tangkap, seperti hendak mengemukakan dua hal penting, yakni: pertama, Toris mencoba mempertontonkan upaya perempuan untuk mereduksi praktik dominasi laki-laki terhadap perempuan dengan menjadikan sosok perempuan tampil sebagai subyek. Kedua, berseberangan dengan hal pertama, upaya perempuan untuk meraih kesetaraan gender berikut hak-haknya tidak sedikit didasari oleh hal-hal yang ironis, seperti mengeksploitasi tubuh sebagai sebuah kekuatan dan dijadikan sebagai sumber praktik kuasa.

Hal yang berkait dengan poin pertama, Toris mengeksekusi hampir semua karyanya dengan menampilkan citra tubuh-tubuh perempuan. Dan simbol-simbol kekuatan dimunculkan sebagai “aksesoris pendukung” dengan menjumput citra kepala harimau, kepala banteng atau kepala kijang yang diletakkan pada bagian kepala dari citra tubuh perempuan. Seolah Toris ingin membilang bahwa sekuat inilah hasrat (passion) tersembunyi yang niscaya menempel pada diri perempuan. Lihat misalnya pada karya-karya: Hidden Power of Woman, Instinct, Mind Conqueror, Nightmare, Psycho Intimidation, juga Role Play.

Sementara pada poin kedua, hal yang berbau kontradiktif diketengahkan oleh Toris sebagai bagian yang melekat dari isu praktik kuasa tersebut. Di tengah kepungan dominasi budaya patriarkhi, semangat perempuan untuk memperjuangkan kesetaraan gender banyak dilakukan. Namun titik ironi muncul di situ. Dan kontradiksilah yang terjadi. Misalnya, praktik mengekploitasi tubuh perempuan, dan praktik budaya konsumsi yang berlebihan. Ini dua hal yang melekat satu sama lain. Misalnya kriteria tentang cantik bagi seorang perempuan yang didefinisikan secara tunggal dan kemudian menjelma sebagai “momok” yang dominatif meski itu tak secara kentara terlihat.

Misalnya, cantik bagi seorang perempuan itu dibentuk oleh kriteria dan standar ala Barat: tinggi, langsing, berkulit putih, leher jenjang, jari lentik, payudara proporsional, dan sebagainya. Ini sebuah standar yang stereotipe yang juga dikonstruksi dan dimanfaatkan secara eksploitatif oleh kekuatan lain, yakni pasar atau produsen barang konsumsi. Maka, pada karya bertajuk The Affinity dan Stick No Bills terlihat Toris ingin membincangkan ihwal praktik konsumsi tersebut. Di situ secara tersamar menyeruak bahwa prinsip-prinsip barang konsumsi telah bergeser pemanfaatannya, dari “yang dibutuhkan” menjadi “yang diinginkan” sehingga membawa implikasi pada upaya seleksi atas produk-produk konsumsi tersebut. Dan ini lambat laun menjadi satu hal yang “ideologis”. Demi pemenuhan atas “yang diinginkan” tadi maka kemudian praktik konsumsi untuk mengejar stereotipe tentang cantik justru bisa dibaca sebagai gejala tereduksinya upaya untuk mencari kesetaraan gender.

Secara umum, karya-karya Toris kini bergeser secara tematik dari sebelumnya yang masih “mondar-mandir” pada tema yang beragam. Kali ini lebih fokus dan berisi. Sedang dalam segi visual Toris memang belum beranjak sangat drastis dari karyanya yang dikreasi 4-5 tahun lalu yang mulai menggagas tentang citra tubuh-tubuh perempuan. Pilihannya untuk menggabungkan sisi visual yang realitistik dan beradu dengan yang ekspresif berikut segala macam teknik ciprat, brush stroke dan semacamnya mampu memberi pengayaan atas perjalanan kreatifnya selama ini. Keteguhannya untuk tetap konsisten untuk tidak melompat-lompat pada teknik dan pilahan idiom-idiom visual yang dianggap mutakhir, saya kira, justru mampu memberi perbendaharaan visual pada karya-karya seni rupa dewasa ini. Bravo, Toris!

Kuss Indarto, kurator seni rupa.