Sunday, October 14, 2012

Memanusiawikan Affandi



Helfi Affandi, Pak Djon, Rukmini Affandi, dan Agung Tobing saat peluncuran buku "The Stories of Affandi", Juli 2012 lalu.

(Catatan di bawah ini merupakan advertorial yang dimuat di majalah Visual Arts, edisi September-Oktober 2012)

PENERBITAN buku “The Stories of Affandi” bukanlah proyek yang instan: mudah dan cepat. Ada rentang jarak antara imajinasi dan realisasi. Ini bila diukur dari jarak waktu mulai dari terlontarnya gagasan hingga peluncuran buku yang membutuhkan waktu 6 tahun. Setidaknya, inilah fakta yang terjadi menurut penggagasnya, Agung Tobing.

Semuanya berawal pada tahun 2006. Kala itu, Agung bertemu dengan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Prabukusumo, salah satu adik Sri Sultan Hamengkubuwono X. Mereka berdua membincangkan banyak hal, termasuk tentang kepedulian Prabukusumo (yang mewakili Kraton Ngayogyakarta) atas kondisi aset seni yang dimiliki oleh simbol pengayom kebudayaan Jawa itu, yakni lukisan-lukisan karya Raden Saleh.

Dari perbincangan itu lalu berkembang dengan mencari masukan dari restorator yang dirancang untuk merestorasi lukisan Raden Saleh. Dari situlah kemudian Agung Tobing dan Prabukusumo mendatangi Kartika Affandi yang pernah mengenyam pendidikan restorasi di Austria. Anak tunggal maestro Affandi ini ditemui di Museum Affandi, Jl. Laksda Adisucipto 167, Yogyakarta. Dalam pertemuan pertama itu ada 5 orang: Agung Tobing, KGPH Prabukusumo, Kartika Affandi, dan 2 puterinya: Helfi Dirix Affandi serta Sila Affandi. Pertemuan itu justru memunculkan tema dan gagasan yang meluas. Tidak sekadar berbincang perihal rencana restorasi karya Raden Saleh, namun juga ada hal penting: menggagas pembuatan buku tentang maestro Afandi.

Seusai itu, pertemuan berikutnya pun berlanjut. Kebetulan, pada kurun waktu itu mulai ada perencanaan aktivitas lain, yakni ”Peringatan 100 Tahun Afandi” yang jatuh pada tahun 2007. Maka, agenda pembahasan ihwal penerbitan buku itu dikebut demi menepatkan momentum launching-nya dengan acara puncak 100 tahun Affandi. Tim yang dibentuk untuk itu antara lain kurator Suwarno Wisetrotomo yang menjadi “representasi” dari pihak Agung Tobing, dan Ade Tanesia dari pihak Museum Affandi—beserta pelukis Yuswantoro Adi, dan lainnya. Akhirnya perhelatan pada rangkaian “Peringatan 100 Tahun Affandi” berlangsung dengan baik dan meriah. Sayang, rencana penerbitan buku Affandi gagal karena buku belum tuntas.

Agung Tobing menyadari bahwa proses ini tak mudah. Banyak hal dipertimbangkan. Pertama, buku ini harus memiliki titik beda dengan buku tentang Affandi yang pernah ada. Disepakatilah titik beda yang diangkat, yakni buku ini bukanlah “history” atau “histories” tentang Affandi, namun lebih sebagai “stories” seputar Affandi. Kalau menekankan posisi Affandi dari kerangka “history” atau “histories”, maka seolah buku ini akan berupaya secara langsung mempahlawankan Affandi. Dan bukan itu yang diinginkan. Sementara dengan menampilkan “stories”, justru ingin menampilkan sisi-sisi paling humanis dari Affandi. Secara tidak langsung, kepahlawanan Affandi justru kuat dengan menampilkan hal-hal yang sederhana, dan menyentuh kepekaan rasa.

Kedua, buku ini diinginkan memiliki nilai monumental. Maka nilai keawetannya dipertimbangkan. Keawetan di sini bersangkut dengan dua hal, yakni aspek substansi, dan aspek kemasannya. Pada aspek substansi, selain seperti disinggung pada poin pertama, buku ini juga berupaya untuk mengawetkan bunga rampai pemikiran yang pernah dituliskan oleh banyak orang. Maka buku ini layaknya “pelangi opini” yang telah dituliskan oleh para sahabat yang memberi pengayaan pemahaman bagi publik atas Affandi. Ada pemikiran Prof.Dr. Umar Kayam, Prof.Dr. Daoed Joesoef, pelukis-sastrawan Nasjah Djamin, sastrawan Ajip Rosidi, dan lainnya. Lalu dari aspek kemasan, buku ini tak kalah seriusnya: bobot fisiknya 3 kg, tebal 348 halaman, full colour, dan kertas art paper.

Apakah ini “buku pegangan” bagi para kolektor karya Affandi? Ya, buku semacam itu memang penting, namun interest-nya bukan ke situ. Kalau menitikberatkan ke arah itu, maka buku ini hanya berpotensi menjadi katalogus karya Affandi. Buku ini lebih luas dari itu, yakni memberi apresiasi yang tinggi terhadap nilai-nilai kreativitas dan kemanusiawian sosok Affandi. Buku “Stories of Affandi” dicetak 1.000 eksemplar dan oleh Agung sepenuhnya diserahkan kepada pihak Museum Affandi untuk disebarluaskan. Hasil penjualan buku tersebut pun diserahkan sepenuhnya untuk Museum Affandi.

Bagi Agung Tobing, pembuatan buku seni rupa seperti ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, beberapa seniman telah dibuatkan buku mewah, misalnya Fadjar Sidik (almarhum), tokoh pelukis abstrak dan dosen ISI Yogyakarta, lalu seniman Nasirun, dan Made Sukadana. Buku-buku itu hadir mengisi ruang kosong buku-buku seni rupa.

Inisiatif untuk menerbitkan buku-buku ini adalah sikap apresiatif Agung kepada para kreator. Ini kelanjutan dari apresiasi yang lebih mendasar pada seniman, yakni mengoleksi karya mereka. Pengusaha ini mengaku telah mengoleksi ribuan karya seni, terutama lukisan, dari para old master Indonesia hingga para perupa muda.

Khusus karya Affandi, Agung pertama kali mengoleksi lukisan maestro itu tahun 1989. Ketika bisnisnya di bidang saham meroket, hasilnya antara lain digunakan untuk mengoleksi karya seni. Kala itu, dia mengoleksi karya Affandi 8 karya yang kisaran harganya antara Rp 12 hingga Rp 15 juta. Setelah itu berlanjut mengoleksi karya-karya Jeihan yang dibelinya antara Rp 5-20 juta. Minatnya untuk mengoleksi karya seni sejak itu tak terbendung. Interest ini tak lepas dari peran kolektor senior Budi Tirto Yuwono yang menginspirasi. Budi adalah mitra usaha Sudwikatmono yang mendirikan bisnis distribusi film, 21 (Twenty One).

Sementara karya pertama seniman muda yang dikoleksinya adalah karya Nasirun. Agung ketemu pertama kali dengan Nasirun pada Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di benteng Vredeburg, 1991. Dia membeli karya pelukis asal Cilacap itu karena tertarik pada subyek visual yang unik. “Bayangkan, Nasirun menggambar sosok-sosok yang menyeramkan dalam lukisannya,” tuturnya. Apalagi ketika Nasirun banyak menjelaskan bahwa karya-karyanya banyak terinspirasi oleh wayang yang menjadi bagian “nafas” kesehariannya. Agung juga ke rumah seniman itu dan memborong sekitar 60 karya waktu itu. Dari Nasirun-lah lalu Agung diperkenalkan dengan seniman lain seperti Sukari (almarhum), I Made Sukadana, dan lainnya.

Setelah menerbitkan buku tentang Affandi, Agung punya obsesi untuk kembali ikut menggairahkan dunia seni rupa. Saat ini dia tengah merancang untuk memamerkan secara tunggal beberapa seniman dengan menggelar karya-karya kolosal—dari segi ukuran materi karya tentunya. Seniman-seniman yang tengah menyiapkan diri antara lain seniman Mochamad Operasi Rachman yang sedang merampungkan lukisan berukuran 3x48 meter.

Seniman lain yang juga tengah berpacu untuk hal serupa adalah Nasirun yang menggarap lukisan 3x20 meter. Lalu I Made Sukadana dengan ukuran yang sama. Juga pelukis Maman Rachman yang berukuran 3x12 meter. Ada pula I Made Dewa Mustika yang menggarap kanvas 3x24 mter. Tentu saja kolosalitas ukuran karya tersebut tidak dihasratkan sebagai satu-satunya standar menilai aspek kualitasnya. Agung hanya berharap bahwa seniman bisa mengelola gagasan dan keseriusannya lewat intensitas berkarya. Pada sebuah bentang kanvas berukuran besar bisa ditilik aspek intensitas seniman dalam mengelola satu gagasan utuh dengan ketelitian mengolah detail. ***