Sunday, February 03, 2013

Asia yang Terus Membaca Dirinya


Karya Laksmi Shitaresmi yang telah dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 2013. (Foto: kuss indarto)

Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, Minggu Pon, 3 Februari 2013)
Kebangkitan seni rupa Asia semakin menemukan momentum yang tepat setidaknya dalam 5 tahun terakhir, meski telah dirasakan denyutnya dalam satu dasawarsa belakangan. Terengah-engahnya kondisi perekonomian di Amerika Serikat dan Eropa akhir-akhir ini memberi tambahan penegasan lebih lanjut bahwa benua-benua tua itu lambat laun akan melepaskan “mahkota” dominasinya atas kuasa seni rupa dunia.


Secuil data-data kuantitatif bisa dirujuk untuk memberi tengara atas fenomena tersebut. Sebuah lembaga informasi dan riset pasar seni rupa dunia yang berkedudukan di Paris, Artprice, awal Januari 2013 mengeluarkan sebuah data menarik perihal perkembangan pasar seni. Data-data itu merupakan hasil pencatatan selama setahun, mulai triwulan akhir 2011 hingga triwulan akhir 2012, yang sumber datanya berasal dari berbagai balai lelang besar di seluruh dunia. Meski sumber data terbatas, namun sedikit banyak bisa memberi gambaran sederhana tentang peta pasar seni rupa dunia.



Artprice mencatat bahwa dari seluruh penjualan karya seni rupa kontemporer di jalur lelang di seluruh dunia, diperkirakan nilai transaksinya mencapai angka € 860 juta. Menariknya, dari capaian angka tersebut, 41,46% nilai transaksi terjadi di benua Asia—terutama di daratan China yang menyumbang angka hingga 38,79%. Transaksi besar lain di Asia terjadi di Taiwan, Singapura, Uni Emirat Arab. Sementara nilai transaksi lelang di Amerika Serikat sebanyak 26,10%, Inggris 22,66%, Perancis 2,47%, dan negara-negara lain kurang dari 1%. Data-data tersebut berbeda dengan capaian 2 tahun sebelumnya, yakni pada kurun 2009/2010 ketika Amerika Serikat masih cukup dominan dengan profite share hingga 42,43%, Inggris mencapai 33,35%, dan China “baru” mencapai angka 30,63%.



Menaiknya trend pasar seni rupa di Asia pada kurun 2011/2012, terutama di daratan China ini ditandai begitu kentara dengan menurunnya trend pasar seni rupa dunia, apalagi bila dibandingkan pada saat booming seni rupa ketika the peak of the bubble-nya terjadi pada 2007/2008 yang angka transaksi di balai lelang mencapai kisaran € 976,9 juta. Hal yang lebih membuat geleng-geleng kepala tentu saja daftar 500 seniman kontemporer yang harga karyanya paling tinggi di pasar lelang. Artprice menyebut ada sekitar 200-an nama perupa China masuk dalam daftar 500 seniman laris tersebut! Sedang nama seniman papan atas dunia dalam daftar itu antara lain Jean-Michel Basquiat, Damien Hirst, Christopher Wool, Jeff Koons, Takashi Murakami, Yoshitomo Nara, Anish Kapoor, dan lainnya.



Lalu, bagaimana dengan perupa Indonesia? Kali ini ada 9 nama seniman Indonesia masuk daftar 500 Besar seniman terlaris di balai lelang, yang 7 di antaranya lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Mereka adalah I Nyoman Masriadi yang kali ini berada di urutan nomer 95, lalu Rudi Mantofani (223), Samsul Arifin (250), Handiwirman Saputra (375), Indieguerillas (388), M. Irfan (393), serta Putu Sutawijaya (488). Sementara 2 nama lain adalah lulusan Fakultas Seni Rupa ITB, yakni Ay Tjoe Christine berada di urutan 90, dan Agus Suwage 355.



Deretan data sederhana di atas tidak saya ajukan sebagai satu-satunya parameter untuk menilai perkembangan seni rupa di Indonesia, Asia maupun dunia. Namun ini sekadar salah satu jendela kecil untuk menimbang gejala seni rupa dunia yang secara evolutif mulai merangsek titik sumbu pergerakannya di belahan Asia. Karena di luar angka-angka kuantitatif itu, ada beragam gejala pendukung lain yang pantas untuk dicermati.



Pertama, munculnya banyak perhelatan besar seni rupa yang berkualitas yang muncul dan menguat di luar Eropa dan Amerika. Misalnya Gwangju Biennale di Korea Selatan, Beijing International Art Biennale, Taipei Biennale, hingga Bangladesh Biennale, juga Asia Pacific Triennale, Sao Paolo Biennale, Havana Biennale. Itu semua seperti bergerak pelahan untuk mengonstruksi “aksi” dewesternisasi atau pengingkaran atas dominasi kuasa Barat.



Kedua, penciptaan Asia sebagai salah satu kantung pasar seni rupa dunia. Shanghai Art Fair dengan terang-terangan digagas untuk “memindahkan” Art Basel yang lebih melegenda namun mulai surut reputasinya. Belum lagi Art Stage di Singapura, Art Hongkong, Art Korea, Art Dubai, dan berbagai art fair berkelas di luar AS dan Eropa. Asia sekarang dianggap sebagai pemilik kapital besar yang bisa digelontorkan ke dunia seni rupa.



Ketiga, identitas Asia dengan keragaman dan kekayaan sejarah serta kultural kini kembali menjadi daya tarik yang eksotik untuk dijadikan sebagai sumber gagasan dan praktik kreatif para perupa Asia sendiri. Inilah spirit zaman yang secara simultan terjadi pada diri seniman-seniman Asia dalam “membaca dirinya” (looking inward).



Apakah “air bah” kebangkitan seni rupa Asia ini akan sekadar trend sesaat di tengah krisis Eropa dan Amerika Serikat, atau akan menjadi fenomena permanen ke depan? Tampaknya, hal terakhir itulah yang terus menguat. ***



Kuss Indarto, kurator Galeri Nasional Indonesia,
pendiri situs www.indonesiaartnews.or.id, tinggal di Yogyakarta.