Monday, March 31, 2014

Bayangan Layer Pertama


 Iqro Ahmad Ibrahim, Lahan Baru, 2014, marker on acrilyc, 27 x 21 cm
 
Oleh Kuss Indarto 

DI pekarangan yang tak begitu luas itu, beberapa penari melakonkan sebuah theatrical dance yang berkisah tentang bayangan. Halaman rumah yang berhimpitan dengan kandang sapi tersebut, Sabtu malam itu, 29 Maret 2014, diriuhi oleh hampir seratusan orang yang menonton theatrical dance garapan Ari Ersandi dan disutradarai oleh Iqro Ahmad Ibrahim. Ada panggung segitiga kecil tempat empat perempuan penari meliuk-liukkan tubuh. Ada pula sebuah palang yang dikaitkan pada dua pohon melinjo tempat seorang penari laki-laki mengeksplorasi gerak tubuh dengan bertelanjang dada.

Di kampung itu, Tempuran, DK VII, Brajan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, persisnya di venue seni rupa bernama Perahu Art Connection, tengah berlangsung hajatan seni rupa. Dan theatrical dance itu adalah satu bagian dari rangkaian perhelatan pembukaan pameran tunggal seni rupa “Shadow” yang mengetengahkan karya-karya perupa muda Iqro Ahmad Ibrahim.

Ada Prof. Dr. Dwi Marianto, guru besar ISI Yogyakarta, di antara reriuhan para pengunjung. Juga Zalans Ilgvars, perupa Latvia yang sedang melakukan program residensi seni di Perahu Art Connection, dan sekian banyak perupa juga para mahasiswa ISI Yogyakarta serta penduduk kampung setempat. Tak ada tokoh yang ditunjuk sebagai pembuka seperti lazimnya seremonial pameran seni rupa. Namun para penari itulah yang menggiring para penonton dari halaman atau pekarangan venue Perahu Art Connection menuju ke uang pameran tempat puluhan karya rupa Iqro digelar. Pokok soal tentang bayangan menjadi tema karya-karya Iqro kali ini.

Wayang & Budaya Bayangan

ANDAI ingin sedikit membubungkan soal bayangan dalam pengandaian yang filosofis, maka saya meyakini bahwa: bayangan adalah sintesis dari perkawinan antara cahaya dan gulita. Bayangan adalah implikasi sekaligus subyek utama dari pertemuan antara benderang dan kegelapan. Ini setara dengan sebuah hukum keseimbangan. Yin dan Yang. Cahaya baru menemukan eksistensinya ketika dia hadir dalam kegelapan. Sebaliknya, kegelapan menemukan maknanya ketika berada “di samping” cahaya. Cahaya lilin atau lampu teplok, misalnya, tak menemukan fungsinya yang optimal tatkala dinyalakan di bawah benderang matahari di siang bolong. Sebaliknya, cahaya-cahaya kecil itu serupa reproduksi cahaya matahari yang mampu berkilau juga berpendar seusai senjakala dan sebelum fajar tiba ketika matahari bersembunyi.

Sintesis cahaya dan gulita ini kemudian banyak dikelola manusia untuk membentuk peradaban dan menguatkan kebudayaannya. Wayang kulit purwa—salah satu capaian penting seni budaya di Nusantara (yang diduga akar awalnya dari India)—tak lepas dari problem bayangan sebagai salah satu elemen utama dalam presentasinya ke hadapan penonton. Sedikit berbeda dengan tampilan pertunjukan wayang potehi, wayang golek, hingga wayang suket atau yang setara dengannya, wayang kulit purwa sejatinya lebih mengedepankan efek bayangan sebagai basis utama cara menontonnya. Dengan lampu blencong di depan-atas kepala seorang dalang, wayang digerakkan dan dilakonkan di depan kelir putih yang tergelar di hadapan sang dalang. Di balik kelir itulah, para penonton melakukan rekreasi dan re-kreasi dengan menyimak bayangan wayang kulit. Saya katakan rekreasi karena penonton berhasrat menyimak lakon atau cerita yang dibawakan oleh sang dalang. Dan dibilang re-kreasi karena penonton bisa melakukan tafsir atas tontonan itu dengan menerka siapa persisnya tokoh yang sedang tampil lewat kelebat bayangannya di balik kelir. Sunggingan wayang kulit yang penuh detail menemukan eksotismenya ketika berujud siluet—dari terpaan cahaya lampu blencong dan terpapar di kelir putih.

Begitulah. Wayang atau dunia kehidupan lakon-lakon yang disusun dari pertunjukan bayang-bayang itu telah banyak diapresiasi, diresepsi (diserap), hingga melahirkan inspirasi baru. Karya-karya Iqro Ahmad Ibrahim pada pameran tunggalnya kali ini, tak pelak, juga mengerucut dari dunia bayangan dan wayang sebagai ide dasarnya. Ini menjadi kesadaran awal yang kemudian ditautkannya dengan bentuk-bentuk kreativitas lain yang mengisi memori Iqro, antara lain film animasi atau yang lazim dengan istilah populis: film kartun.

Layer-layer Eksplorasi

Dengan merujuk pada dunia pewayangan, karya-karya Iqro mencoba memberi porsi yang cukup untuk menghadirkan bayangan sebagai bagian penting citra artistik atas drawing yang telah dibuatnya di atas panel-panel akrilik bening. Drawing hitam-putih dibuatnya dengan tendensi sebagai karya yang datar (flat). Maka tak ada teknik “dusel” yang lembut di sana yang berupaya untuk membentuk citra volume. Nyaris semuanya dengan arsir tipis. Kemudian tata lampu diperhitungkan dengan kecermatan tertentu (jarak, presisi, dan kekuatan lampu) yang disorotkan ke karya di atas panel akrilk bening tersebut. Figura hanya berada di tepi karya, dan tak ada papan gelap di belakang akrilik. Maka, cahaya lampu (spot) menerpa karya hingga kemudian menghasilkan bayangan di tembok—yang berjarak sekian sentimeter di belakang akrilik bening itu. Maka, drawing hitam-putih ditambah bayangan di belakang karya itulah pencapaian karya yang diinginkan Iqro.

Tentu, efek bayangan itu beda dengan jagad wayang karena drawing yang dibuat seniman kelahiran Kendal, Jawa Tengah, 24 Oktober 1983 ini, ditempatkan di bagian depan dari keseluruhan karya. Bukan seperti wayang yang berkebalikan dari karyanya. Tapi semangat untuk memanfaatkan dan menggali bayangan dan efeknya inilah yang ditimba inspirasinya dari wayang.

Tapi, apakah kehadiran bayangan bukannya justru mengganggu keutuhan karya drawing Iqro? Bukankah itu seperti kertas-kertas yang dicetak ofset dan belum sempurna presisi film negatifnya sehingga masih bergeser kemana-mana? Tentu, ini akan melahirkan persepsi yang subyektif pada tiap apresiator. Pasti akan berbeda-beda. Iqro malah menyengajakan diri agar ada tumbukan antara drawing dan bayangan yang berasal dari lampu. Pada beberapa karya, efek yang ditimbulkannya adalah memberi citra gerak dinamis pada karya. Kesadaran ini berangkat dari memori Iqro ketika menyimak karya film animasi. Bayang-bayang itu seperti lapis-lapis (layers) gambar yang ditumpuk sekian banyak dan kemudian membentuk gerak. Kira-kira seperti itu imajinasi yang diangkan perupa lulusan Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta tahun 2011.

Pameran ini, apapun pencapaian dan apresiasi pengunjung, tetaplah memberi salah satu titik penting dari perjalanan kreatif Iqro Ahmad Ibrahim. Anak muda ini, dalam kilasan pengamatan saya, seperti tak bosan untuk melakukan eksperimentasi kreatif secara tertata, bahkan relatif cukup serius dan mungkin juga cukup sistematis. Seperti pada pameran “Expo-Sign” yang berlangsung di Jogja Expo Centre tahun 2009 lalu. Karyanya itu, yang secara konseptual juga menjadi bagian dari karya Tugas Akhir di jalur akademisnya di tahun 2011, merupakan karya yang relatif penuh eksperimen. Karya itu jelas, basis utamanya adalah karya dua dimensi, namun Iqro memberinya “tulang” berupa span-span dan kerangka pada kanvas-kanvas kecil yang terhubung satu sama lain, sehingga ketika dipajang, jelas berbeda dengan lukisan konvensional.

Karya serupa itu, dengan pengolahan yang lebih eksploratif juga saya dapati ketika menyeleksi ribuan karya dalam rencana Pameran Nusantara 2009 di Galeri Nasional Indonesia, yang bertema “Imaji Ornamen”. Maka, tak ayal, saya meluluskan karya tersebut sebagai peserta pameran itu. Saya kira beberapa perhelatan seni rupa yang juga kompetitif telah menyerap karya-karya Iqro. Bahkan tak hanya di Indonesia, namun juga mulai beranjak ke negeri seberang. Bagi saya ini sebuah kewajaran sekaligus kewajiban seorang seniman untuk selalu mengejar “another form of art”. Seniman sudah selayaknya berburu bentuk-bentuk, modus berkarya, hingga konsep-konsep seni yang berbeda dari sebelumnya. Spirit inilah yang akan menghidupkan airah kreativitas seni(man).

Konsep dasar pameran ini memang belum sangat kuat, namun masih berpeluang begitu besar untuk digali lebih jauh dengan pencapaian kreatif yang juga lebih eksperimentatif. Kukira, ini baru layer pertama Iqro dengan karya seperti ini. Selamat terus menggali, Iqro! Iqro! Bacalah! Bacalah tiap tanda dalam kehidupan di sekitarmu. ***

Kuss Indarto, pendiri dan editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id