Friday, March 07, 2014

Menangkap Restless Soul

Sabtu sore, 10 November 2012, sekitar 15 orang berkerumun lesehan di lantai satu Galeri Biasa, Jalan Suryodiningratan no. 2, Yogyakarta. Ada Alexander Ming dan Anton Larentz sebagai tuan rumah perhelatan—yang masing-masing sebagai seniman dan kurator pameran “Spirit “ yang hari itu berakhir. Ada seniman senior Djoko Pekik, akademisi Prof.Dr. M. Dwi Marianto, seniman Sentot Indarto, dan beberapa seniman muda lainnya. Kerumunan ini berlangsung serius tapi santai.

Ming mengawali perbincangan tersebut dengan mengungkap “rahasia” dan proses di balik kelahiran karya-karyanya yang dipamerkan. Secara selintas dia mengungkapkan bahwa semua itu lahir dari rumah tua yang dibelinya bertahun-tahun lalu di kawasan kota Magelang. Rumah itu konon sudah berusia seratusan tahun, dan praktis diduga penuh “penunggunya” yakni para makhluk yang tak kasat mata. Ming mengakui bahwa sebenarnya dia tak cukup peka indera keenamnya untuk melacak dan mengetahui para makhlus gaib itu. Justru anak-anak dan istrinyalah yang lebih sensitif. Dari situlah gagasan kreatif Ming muncul dan lalu bertebar pada banyak kanvas pada bulan-bulan terakhir hingga terjadilah pameran tunggal itu.

Gagasan itu muncul saat Ming mencoba “menyatukan frekuensi” dengan para penunggu yang berada di ruang dimana lukisan-lukisan karyanya yang bertema kursi ditempatkan. (Alexander Ming pernah memamerkan puluhan karya bertema kursi itu dalam sebuah pameran tunggal beberapa tahun lalu di Taman Budaya Yogyakarta). Proses “penyatuan frekuensi” ini bukanlah hal yang gampang karena Ming harus mengerahkan segala kemampuan fisik dan emosinya untuk memfokuskan diri demi menangkap gejala atau fenomena yang berada di depan mata dan rasa estetiknya. Ketika momen “satu frekuensi” itu terjadi, maka tangannya dengan cepat bergerak untuk mengabadikan “pertemuan” tersebut di atas kanvas. Dan lukisan bertema wajah-wajah “para penunggu” rumah itu pun tercipta. Ming mengakui tak punya dan tak butuh banyak waktu untuk mengeksekusi tiap karya bertema wajah-wajah “gaib” itu. Rata-rata cukup 15 hingga 30 menit. Namun ada satu dua karya yang teramat kuat menyedot konsentrasi dan fisiknya hingga dia mesti menuntaskan satu bentang kanvas sampai membutuhkan waktu satu setengah jam. Itu membuatnya begitu kelelahan secara fisik dan mental. Ming mengakui, untuk kasus seperti ini, kalau dirinya tak mengontrol emosi, bisa dimungkinkan terseret pada situasi mental yang buruk dan tak diharapkannya. Untunglah semuanya masih bisa dikendalikannya.

Pada bagian lain Anton Larentz sebagai kurator mengakui bahwa gejala kreatif seperti yang dilakukan dan dialami oleh Alexander Ming menarik untuk dikaji lebih jauh dalam dunia seni rupa. Antroplog Jerman ini mengakui bahwa gejala seperti ini memang bukanlah hal yang baru. Sudah mulai beberapa abad sebelumnya para seniman dari belahan dunia yang lain memulai proses penciptaan karya seni serupa dengan Ming. Tentu dengan karakter karya, proses kreatif, dan pencapaian yang berbeda satu sama lain. (Selengkapnya, baca catatan kuratorial Anton Larentz).

Guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Prof.Dr. M. Dwi Marianto juga mengakui bahwa gejala kreatif semacam ini telah terjadi dan menimpa banyak seniman, dan ini tetap menarik untuk dijadikan sebagai bahan kajian. (Baca juga catatan M. Dwi Marianto dalam buku ini).

Sementara bagi seniman senior Djoko Pekik, kecenderungan kreatif seperti yang dilakukan oleh Ming, baginya, merupakan anugerah tersendiri yang layak untuk diapresiasi oleh publik, namun juga pantas untuk terus dioptimalkan sebagai dasar kerja kreatif. Seniman berjenggot yang sempat mendapat julukan sebagai “Seniman Satu Milyar” ini merasa tidak memiliki kemampuan untuk memaksimalkan kepekaan indera keenam. Lebih jauh Pekik berkisah tentang rumah tinggalnya kini yang tanah pekarangannya seluas kurang lebih 2 hektar, berbataskan sungai, dan jauh dari perkampungan (umum). Rumahnya praktis sendirian, jauh dari tetangga kanan kiri. Setiap kali “orang tua” atau siapapun orang yang memiliki kepekaan indera keenam datang ke rumahnya, pasti langsung berkomentar bahwa “wah, ini sarangnya para lelembut”. Bahkan menurutnya ada satu pohon di salah satu pojokan rumahnya yang “ditunggui” oleh sesosok penunggu dengan kekuatan gaib luar biasa. Tak jarang, bila “pelukis Celeng” ini mengadakan hajatan dan mengundang khalayak ramai, selalu memanfaatkan jasa dukun atau “orang tua” untuk membuat sesaji tolak bala atau tolak hujan. Dan pada saat itulah sang dukun selalu menolak untuk menaruh sesaji di bawah pohon yang ditunggui oleh penunggu yang luar biasa itu. Mereka merasa kalah ilmu, dan takut akan dikacaukan niatnya.

Sudah banyak kejadian aneh yang terjadi di kawasan rumah Djoko Pekik, terutama bagi mereka yang punya kepekaan indera keenamnya. Misalnya pada saat di panggung di pelataran rumahnya dipergunakan untuk acara mantenan di malam hari. Menurut beberapa orang, termasuk dhukun manten-nya, di atas panggung itu bertebaran para penunggu menyaksikan perhelatan tersebut. Mereka tidak mengganggu, namun pemandangan itu terasa mengerikan. Namun Djoko Pekik sama sekali tidak pernah diganggu oleh gejala supranatural tersebut. Dan juga tak mampu untuk memanfaatkan situasi itu karena memang dia tidak dianugerahi kemampuan untuk melihat atau sensitif merasakan gejala itu.

Maka, menurut Pekik, hal-hal unik yang dialami oleh Ming hingga diwujudkan secara visual di atas kanvas merupakan sebuah peluang estetik yang tak perlu disia-siakan. Seniman yang dulu aktif di komunitas seni Boemi Tarung tersebut juga memesan agar Ming tak perlu merisaukan betul ihwal penilaian dari segi artistik oleh apresian. Tak perlu dipedulikan banget soal indah-tidak indah, bagus-tidak bagus, artistik-tidak artistik atas karyanya. Karena di luar penilauan soal visual tersebut, proses kreatif hingga temuannya yang diungkapkan di atas kanvas merupakan sebuah ketertarikan, keunikan, dan memiliki kandungan artistik tersendiri yang berbeda dengan karya seniman kebanyakan. Maka, biarkan itu mengalir. Apalagi bila menyimak keterangan Alexander Ming yang mengatakan bahwa hingga saat diskusi sore itu berlangsung, karya-karya semacam itu sudah dilahirkan sekitar 120 bentang kanvas. Itu bukan jumlah yang main-main.

Diskusi itu juga direspons oleh Rien Sotya, seorang pengajar bahasa di sebuah lembaga pendidikan bahasa Inggris di Yogyakarta. Rien mendasarkan terlebih dahulu pada kenyataan di negara-negara Barat. Menurutnya, di negara-negara Barat, mereka yang mempercayai hantu kadangkala menganggap hantu-hantu tersebut sebagai roh yang tidak aman selepas mati, dan dengan itu berkeliaran di bumi, atau disebut juga dengan restless soul, jiwa-jiwa yang tidak tenang. Ketidaksanggupan mendapat keamanan dijelaskan sebagai ada pekerjaan yang belum selesai, seperti hantu yang mencari keadilan atau membalaskan dendam setelah mati.  Dalam kebudayaan Asia seperti di Tiongkok, banyak orang yang percaya kepada reinkarnasi. Hantu merupakan roh yang tidak mau "di-reinkarnasi-kan" karena mereka mempunyai masalah yang belum selesai, sama seperti di Barat. Baik budaya Timur maupun Barat mempunyai pendapat yang hampir sama mengenai hantu. Para hantu ini berkeliaran di tempat mereka biasa pergi sewaktu hidup atau tempat mereka meninggal. Tempat demikian dikenali sebagai "rumah berhantu” atau “tempat berhantu”, sedangkan hal-hal atau tindakan-tindakan yang mereka lakukan disebut "menghantui".

Rien yang kebetulan pernah melakukan penelitian kecil-kecilan tentang nama-nama hantu yang beredar di masyarakat Bantul ini menengarai peran mitos yang masuk dalam perbincangan tentang hantu ini. Masyarakat di daerah Bantul, Yogyakarta, dan Jawa Tengah mengelompokkan makhluk supranatural atau hantu dalam 9 (sembilan) kelompok besar yang kemudian masih dibagi lagi menjadi beberapa jenis hantu-hantu lainnya di dalam kelompok tersebut. Kesembilan kelompok besar hantu tersebut dipergunakan dan disebutkan dalam suluk pewayangan seperti ini: "Jin, Setan, Peri, Perayangan, Ilu-ilu, Banaspati, Genderuwo, Memedi, Thekthek-an". Hal ini digunakan untuk menggambarkan dengan lengkap seluruh mahluk halus dengan singkat, tanpa menyebut satu persatu jenis mahluk halus yang jumlahnya ratusan, sebagaimana yang dikenali di dalam masyarakat Jawa dan budaya Jawa yang dikenal sangat kental dengan hal-hal supranatural.

Sementara latar belakang penamaan juga deskripsi tentang nama-nama itu biasanya berkaitan dengan budaya setempat. Selain penamaan dan deskripsi yang diberikan, orang-orang tua atau sesepuh pada jaman dahulu meciptakan mitos atau menamai hantu untuk memberikan gambaran, nasihat ataupun mengajarkan budaya sopan santun, serta memberikan edukasi melalui kepercayaan yang dibangun dalam masyarakat. Hal ini terutama berkaitan dengan tingkat pemahaman masyarakat yang masih sangat sederhana pada masa itu. Selain itu, nasihat berupa nilai-nilai budaya supaya manusia berusaha untuk mendapatkan kekayaan dengan kekuatan dan kemampuan usahanya sendiri tanpa meminta bantuan dari makhluk halus, karena pada akhirnya, meminta pertolongan makhluk halus hanya akan berakhir pada kematian atau kesengsaraan.

Memang, diskusi yang dihelat dengan sederhana sore itu menjadi cukup kaya meski hanya “dirubung” oleh 15-an orang. Ada intensitas di situ yang berimbas pada pengayaan tema awal diskusi. Dari itu semua, lalu kita juga bisa menjumput sebuah kesimpulan kecil bahwa realitas-supranatural yang diketengahkan sebagai sumber gagasan oleh Alexander Ming ternyata mampu diterjemahkan menjadi realitas-estetik dengan versi khas Ming. Titik penting dari transformasi realitas-supranatural menuju realitas-estetik inilah terjadi proses pergulatan artistik dan estetik yang memberi sensasi dan pencapaian tersendiri bagi kesenimanan Ming. Dan artefak dari pencapaiannya berupa karya-karya lukisan itulah yang kini bisa dengan bebas direspons, diapresiasi serta disikapi secara bebas oleh masyarakat. Silakan menikmati hasil pergulatan itu! ***

Catatan diskusi oleh Kuss Indarto