Monday, December 15, 2014

Untuk Apa dan Siapa Karya Seni Itu?

Aku bersama So Khin alias Sugeng, mahasiswa seni Phnom Penh yang pernah kuliah di ISI Solo (kiri), dan 2 orang Meksiko yang telah lama menetap di ibukota Kamboja itu. Ini dipotret setelah pembukaan pameran seni rupa "Socio-Landscape" di National Museum of Cambodia, 9 Desember 2014.


Oleh Kuss Indarto

(Catatan ini, dalam versi bahasa Inggris, dimuat dalam katalog pameran "Socio-Landscape" yang berlangsung di National Museum of Cambodia, Phnom Penh, Kamboja)

SEPERTI halnya banyak seniman di berbagai belahan wilayah di dunia, para seniman atau perupa di Indonesia banyak mendasarkan dan terinspirasi oleh perkara sosial politik kemasyarakatan sebagai subject matter bagi karya-karyanya. Bahkan, dalam beberapa kajian mengisyaratkan bahwa laju perkembangan seni rupa relatif berjalan dalan satu rel yang sama dengan sejarah sosial politik kemasyarakatan Indonesia. Dengan kata lain, sejarah seni rupa Indonesia adalah miniatur dari sejarah sosial politik kemasyarakatan Indonesia. Para Indonesianis dari Barat, yang banyak meneliti potongan denyut seni (rupa) di Indonesia, mulai dari Claire Holt, Helena Spanjaard, Werner Krauss, Brita L. Miklou-Maklai, hingga Heidi Arbuckle, dan sekian beberapa nama lain, banyak menyandarkan pemahaman bahwa problem substansi dalam karya seni rupa di Indonesia adalah problem sosial politik kemasyarakatan yang berkembang di sekitarnya.

Sejarah membuktikan hal itu, misalnya, ketika tahun-tahun seputar pergerakan Indonesia dalam menuntut kemerdekaan pertengahan dasawarsa 1940-an, para seniman tidak hanya turun ke lapangan sebagai pejuang dengan memanggul senjata untuk berperang secara fisik, namun juga bergerak sebagai seniman untuk berperang secara simbolik lewat karya seni. Mereka membuat poster, stensil hingga grafiti yang isinya antara lain membangun moral dan semangat masyarakat untuk melawan kolonialis Belanda. Soekarno, presiden pertama Indonesia bahkan mendukung secara finansial "proyek seni" perlawanan terhadap bangsa penjajah itu. Kedekatan Soekarno dengan para seniman papan atas Indonesia seperti S. Soedjojono, Dullah, Affandi, Trubus Soedarsono, dan lainnya, memungkinkan baginya untuk memobilisasi seniman untuk memberi perlawanan kepada kolonialis Belanda dari pendekatan kultural. "Boeng Ajo Boeng!" (Man, Come on, Man!) adalah salah satu contoh poster paling populer karya salah satu seniman besar Indonesia, Affandi.

Hampir seabad sebelumnya, Indonesia juga memiliki sosok Raden Saleh Sjarief Boestaman (lahir antara tahun 1807-1811 dan wafat 23April 1880), seorang priyayi seniman yang bertahun-tahun berada di Eropa, dan dianggap sebagai pelukis modern pertama Indonesia. Karyanya yang paling penting dan monumental adalah "Tertangkapnya Diponegoro" (Arrest of Pangeran Diponegoro, 1857) yang menjadi anti-tesis atas lukisan pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman, "Penaklukan Diponegoro" (Submission of Prince Diponegoro) yang dibuat sekitar 27 tahun sebelumnya. Perspektif Pieneman seperti suara pemerintah Hindia Belanda yang menganggap Diponegoro sebagai pemberontak Jawa, akhirnya menyerahkan diri.
Sementara Raden Saleh memiliki perpektif yang berlawanan, yakni bahwa Diponegoro datang karena undangan Hindia Belanda untuk berunding, namun justru dijebak dan ditaklukkkan. Saya kira, lukisan Raden Saleh itu menjadi simbol perlawanan kultural yang penting bagi Indonesia (waktu itu bernama Hindia Belanda) karena karya tersebut dengan terbuka diserahkan kepada Raja Belanda, Willem III of Netherland, agar memahami bahwa perjuangan fisik Pangeran Diponegoro (seorang pangeran dari Yogyakarta) melawan Belanda lewat Perang Jawa tidak berakhir ketika Diponegoro ditangkap, dibuang ke Sulawesi, dan meninggal di sana. Perang Jawa telah berakhir namun upaya untuk melepaskan diri dari kolonialisme Belanda terus berlanjut.

Potongan sejarah lain yang menarik dapat disimak ketika masuk pada pergantian kepemimpinan dari Soekarno menuju Soeharto pada tahun 1965-1966. Transisi kepemimpinan ini penuh "kegaduhan" yang membawa implikasi sosial politik kemasyarakatan begitu besar. Revolusi pun terjadi. Diperkirakan ada satu juta orang (bahkan ada yang memperkirakan lebih dari 2 juta orang) yang dianggap menjadi loyalis Soekarno dan Partai Komunis Indonesia dibunuh oleh tentara dan loyalis Soeharto. Pada kurun waktu inilah banyak karya seni yang dengan kuat memberi gambaran, opini, sikap politik, atau pun menjadi saksi atas peristiwa sosial politik paling gelap dalam sejarah nasional Indonesia. Lukisan "Dunia Anjing" (1965, oil on canvas, 45x75 cm) karya Agus Djaja adalah salah satu contoh menarik dari situasi konflik antar-orang dan kelompok kepentingan politik yang terjadi di masa itu. Cara ungkap Agus Djaja bisa dibilang cukup simbolik-sarkastik karena konflik sosial politik yang digambarkannya tidak lebih seperti pertarungan antarkelompok anjing. Dalam konteks sosial Indonesia, sampai sekarang, satwa anjing telah menjadi kata ganti untuk mengumpat, untuk mengungkapkan sebuah kekecewaan, atau untuk menggambarkan situasi negatif, secara kasar.

Karya seni rupa yang mengritisi situasi sosial politik kemasyarakatan semakin menemukan ruang kreativitasnya yang amat subur justru ketika berada di bawah garis kekuasaan otoriter pemerintahan Orde Baru pimpinan Soeharto. Ini unik, karena Soeharto sebenarnya menciptakan rezim yang relatif hegemonik dan anti-kritik sehingga banyak melakukan pemberangusan karya-karya kreatif yang mengritiknya. Dan inilah titik seninya, karena para seniman kemudian: (1) banyak bermain dengan pola dan gaya presentasi karya yang simbolik dan penuh eufemisme. Ini memungkinkan karya bisa lolos sensor hingga ke ruang publik, namun butuh kecerdasan dan kepekaan artistik-estetik berlebih bagi penonton untuk menyerap substansi karya, dan (2) sebaliknya, tidak sedikit karya seni secara frontal dan ekstrem memunculkan kritik, namun membawa risiko disensor dan diberangus oleh negara, atau mau tidak mau, seniman harus mencari ruang presentasi yang tidak konvensional, yang berbeda dari standar umum, untuk menghindari otoritarianisme negara atas karya seni yang kritis.

Dalam 32 tahun cengkeraman kuku kekuasaan Orde Baru-nya Soeharto, telah banyak dipresentasikan karya seni yang kritis yang berakibat pada seniman yang dijebloskan ke penjara, pameran seni rupa yang ditutup sebelum waktunya, atau bahkan pameran yang batal dibuka karena tidak mendapatkan izin dari aparat keamanan. Pada kurun ini ada Gerakan Seni Rupa Baru sebagai salah satu art movement penting dan monumental bagi perkembangan seni rupa di Indonesia hingga kini. Meski pameran dan gerakan tersebut berawal dari problem seni rupa, namun berimbas dan berimplikasi pada problem politik karena banyak karya di dalamnya yang sangat kritis dalam menyikapi masalah politik.

Hingga kejatuhan rejim Soeharto tahun 1998, karya-karya seni rupa masih banyak mengritisi pemerintah atau negara. Setelah itu, para seniman kritis justru seperti kehilangan orientasi politik dan sasaran tembak untuk dikritik. Mereka seperti kehilangan musuh bersama (public enemy), sehingga harus menemukan sasaran baru yang tepat sesuai karakter karya yang kritis. Maka, di era pasca-Soeharto inilah seniman mesti membangun orientasi artistik baru untuk menyesuaikan karakter kritisismenya dengan tema-tema sosial yang tepat dan kontekstual. Sekarang, kita bisa menyaksikan karya-karya seniman Indonesia dengan tema dan gagasan yang makin beragam, makin kaya, dan masing-masing kukuh dengan ideologi kreatif masing-masing. Di samping ketiadaan kekuasaan yang otoriter, seniman sekarang sangat diungngkan oleh pesatnya laju teknologi informasi yang memungkinkan bagi mereka untuk melakukan praktik kreatif yang serupa dengan seniman di kawasan lain. Di sinilah ada hal yang menggejala dan mengkhawatirkan, yakni pola "creativity of copy-paste" yang tampaknya telah mendunia. Seniman telah menjadi penyadur bebas atas teks-teks visual para seniman lain di belahan dunia lain. Tapi lepas dari itu, tema-tema sosial kemasyarakatan masih banyak muncul dalam berbagai karya seniman yang terpresentasikan di ruang-ruang seni arau ruang publik.

Tema-tema sosial dalam karya seni rupa, sudah bisa kita duga, adalah perluasan dari fungsi seni yang tidak semuanya bersifat personal dan tidak senantiasa mengamini ideologi l'art pour l'art (seni untuk seni). Ada banyak pandangan tentang fungsi seni yang diharapkan bisa masuk dalam perikehidupan manusia secara langsung. Misalnya, seni diekspektasikan sebagai medium perlawanan kelas atau kelompok, seni sebagai sikap politik seniman tehadap negara, dan lainnya.

Dalam kerangka dan tunjauan yang lebih filosofis, seperti yang diutarakan oleh Bambang Sugiharto (2014), fungsi dari karya seni juga diekspektasikan lebih jauh, setidaknya dalam empat hal, yakni pertama, fungsi disclosive (meta-cognitive), yakni membuka kebenaran atas kompleksitas dunia manusia. Fungsi ini antara lain diungkapkan oleh seni dengan jalan menyibakkan beragam "qualia" (persepsi unik tiap individu) yang sering unik dan mengejutkan namun "benar", nyata, dan real. Dalam pemahaman ini maka seni tidak sekadar dilihat dalam konteks keindahan saja, namun menghujam pada tingkat terdalam yakni berbicara ihwal kebenaran eksistensial. Maka, peta kognitif masyarakat akan diperluas dan dikoreksi kembali lewat karya seni.

Kedua, fungsi heraldic, yakni membuka beragam kemungkinan baru untuk mempersepsi (melihat, mendengar, menghayati) realitas, memunculkan berbagai paradigma baru untuk memahami kenyataan, sekurang-kurangnya memperkenalkan sensasi-sensasi bentuk baru yang awalnya tak terpikirkan. Fungsi ini akan terlihat ketika dunia seni melahirkan mazhab-mazhab baru.

Ketiga, fungsi utopian, yaitu memberi penekanan atas pengalaman tentang sesuatu yang indah, menyenangkan, yang sesungguhnya diidealkan dan dirindukan oleh manusia. Karya seni melakukan fungsi utopian ini dengan tidak selalu menampilkan sesuatu yang indah, melainkan bisa juga menampilkan hal yang sebaliknya, situasi dan keadaan yang "distopia", agar dengan demikian kesadaran didorong untuk melihat yang lebih ideal. Fungsi utopian ini adalah fungsi yang paling umum dan lazim hadir dalam dunia seni.

Keempat, fungsi educative, ini fungsi yang banyak diupayakan, yakni memberi nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh dunia batin manusia, dunia rasa (hati) dan imajinasi, wilayah yang kadang hampir tidak mendapat perhatian, khususnya dalam pendidikan umumnya. Dalam atmosfer yang sedemikian pragmatis, pendidikan sebagian besar berfokus pada ketrampilan kognitif-praktis semata.

Fungsi-fungsi filosofis tersebut, tentu, merupakan hasil pembacaan atas gejala seni rupa ketika bersentuhan dengan masyarakat pendukungnya. Dalam persentuhan itulah seni diharapkan memberi kontribusi bagi manusia di sekitarnya. Memang, pada akhirnya seniman tidak ada salahnya diberi agenda persoalan ketika hendak berkarya: nilai kemanusiaan apa yang akan engkau sampaikan lewat karya seni? Apa yang engkau akan sumbangkan lewat karya seni bagi lingkunganmu? Semoga, ini bukanlah pertanyaan yang tidak sangat membebankan. ***