Friday, July 10, 2015

Reproduksi


 

Anna Maria, nama si mbak manis ini. Dia sedang sibuk di depan kanvas dengan sesekali menengok smartphone di tangan yang bisa meng-close up sebuah citra/gambar hingga ratusan kali lebih besar. Di seberangnya tampak lukisan Pieter Brueghel der Elder bertajuk “Massacre of the Innocents” (1565-7). Ya, Ana sedang membuat reproduksi lukisan Bruegel tersebut. Praktik ini sudah dilegalkan sejak lama, setidaknya di Kunst Historiches Museum, Vienna, Austria ini.

Saat saya berkunjung di museum ini pertengahan Juni lalu, ada 3 orang yang sedang melakukan reproduksi karya—yang berbeda. Ana sendiri adalah karyawan museum itu yang tugasnya memang membuat lukisan reproduksi. Sedang satu yang lainnya, adalah siswi (semacam) sekolah seni rupa yang sedang magang di situ—dengan seleksi yang sangat ketat untuk masuk di situ.

Lho, apa karya itu nanti apa tidak diselewengkan oleh pemiliknya kelak—dengan diklaim sebagai karya asli? Menurut Anna, museum itu sudah punya sistem yang sangat mungkin bisa mencegah hal itu. Ada sertifikat (sebagai karya reproduksi), ada tulisan di balik kanvas yang menyatakan bahwa lukisan itu hanya reproduksi, dan tulisan itu tertoreh dari cat berbahan khusus yang relatif sangat sulit dihapus. Ditambah lagi ada sedikit serbuk metal yang ditabur di bagian tertentu di kanvas yang hanya diketahui oleh pihak museum.

Jadi, kalau ada yang mencoba mengklaim bahwa itu karya asli, pihak museum bisa mengujinya lewat beberapa cara. Entah dari torehan cat di belakang kanvas, juga memakai detektor yang apabila didekatkan di bagian tertentu yang ada serbuk metalnya, maka detektor akan bunyi dan menyala. Di luar hal itu, ukuran kanvas dari lukisan reproduksi itu berbeda. Sedikit lebih kecil dari karya asli yang ditiru.