Thursday, July 14, 2016

Cermin dari Suvenir




Oleh Kuss Indarto 

(dari catatan lama yang dibuang sayang) 

KEBIASAAN Haji Hermanu, pengelola Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), untuk gresek-gresek (mencari-cari barang-barang yang tersembunyi dan jarang diperhatikan) acap kali memberi semangat dan energi untuk membuat sesuatu yang bersahaja menjadi penuh pesona makna. Dari gresek-gresek di lapak seorang pedagang buku-buku tempo dulu, kembali mas Manu—begitu lelaki kalem ini kerap disapa—mendapatkan sebuah album foto penting. Album tersebut bertajuk “Souvenir Album Midden Java”. Ukurannya nyaris seperti format kertas kuarto (A4), yakni 23x27 cm. Kertasnya cukup tebal, 120 gram seperti yang sering digunakan sebagai kertas halaman isi katalogus pameran seni rupa di Indonesia dewasa ini. Menurut Manu, diduga album itu dicetak di kota Haalem, Belanda sekitar tahun 1920 karena ada tanda-tanda keterangan waktu pada beberapa bagian.

Dari 19 buah foto yang berkualitas bagus inilah kemudian Hermanu memanfaatkannya sebagai “bahan dasar” untuk mengonstruksi ingatan publik tentang Yogyakarta. Maka, tajuk pameran foto-foto tempo dulu itu adalah: “Yogyakarta”. Pameran ini berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2, Kotabaru Yogyakarta, 18-28 Januari 2012. Ada puluhan karya-karya foto yang membincangkan perihal kota Yogyakarta dan sekitarnya diseleksi dan dimasukkan sebagai materi pameran ini. Sebagian tentu saja merupakan karya-karya fotografer (lokal) pertama Yogyakarta, Kasian Chepas. Karya Chepas sendiri rata-rata memiliki tengara waktu seputar tahun 1880-an hingga 1902-an. Sementara foto-foto paling “muda” ya yang termuat dalam album “Souvenir Album Midden Java” itu. Sayang tak dijelaskan dengan rinci siapa fotografer yang berperan dalam pembuatan album tersebut.

Sebutan sebagai fotografer untuk orang yang berada di balik kamera pada album ini kiranya juga masih “meragukan”. Tentu ini kalau merujuk pada terminologi “modernisme” yang memilah dengan cukup tegas antara “tukang foto” dan “fotografer”. Ini terlihat dari sebagian besar foto-foto yang terpampang. Di sana ada potret yang memvisualkan orang atau sekelompok orang yang seperti dengan sengaja di-setting secara manis, tertib dan dengan perhitungan tata cahaya untuk mendapatkan hasil potretan yang memadai. Inilah yang kira-kira dipilah sebagai “foto salon” yang kadang dianggap minim narasi karena lebih menguatkan aspek visualitas semata.

Memang yang tampak dalam foto-foto ini antara lain segi keindahan gambar. Ada foto yang mempertontonkan seorang gadis dengan rambut panjang basah terurai tengah menjeratkan kain jariknya untuk menutup seluruh tubuhnya yang usai mandi. Potret bertajuk “Setelah Mandi” ini kelihatan sekali dibuat dalam studio karena latar belakangnya berupa lukisan kain besar berujud lanskap desa dengan pohon kelapa, pagar bamboo, sepotong sawah juga pengaron (tempat air dari terakota). Juga ada “Gadis Penari Tandak” yang berpose frontal menghadap kamera dan berdiri di atas permadani. Tangan kanannya berpose seolah tengah menari: ada selendang terjimpit di sela jemarinya. Pun dengan potret “Pijat” yang memperlihatkan seorang gadis (kemungkinan putri ningrat) yang tengah berpose tidur telentang di atas tempat untuk merebahkan diri berlapis kain dan karpet. Komposisinya tampak manis, indah penuh eksotisme meski cukup feodalistik karena ada sesosok gadis kecil bertelanjang dada yang tengah memijat bagian kaki dari sang putri ningrat. Dua orang itu tampak berdandan dan berpose dengan penempatan hirarkhi sosial yang tegas: yang satu menikmati kuasa-sosialnya sementara yang lain tengah tunduk dalam kerendahan “kasta” sosialnya.

“Suasana” foto salon makin kuat ketika apresian menyimak foto “Pengrajin Tembaga”. Di samping “ketertiban dan kemanisan” situasi dibangun dengan sadar namun juga ada kejanggalan. Di antara tiga pengrajin yang seolah-olah sedang “mengolah” tembaga, ada satu orang yang dengan santai duduk di sebelahnya dan bersiap menyeruput secangkir minuman. Mungkin dia sang juragan para pengrajin yang tengah “memandori” pekerjaan bawahannya, atau entah untuk apa. Yang jelas, ada ketidakrelevansian yang kentara pada foto ini yang membuatnya jadi janggal.

Apapun, pada album itu tetaplah menarik sebagai salah satu jendela untuk menyimak fragmen situasi pada potongan jaman tertentu. Misalnya tatkala menyimak foto yang menggambarkan pemandangan candi Borobudur. Candi tampak seperti baru dibenahi sehingga cukup rapi pada bagian landasannya. Pepohonan  juga belum tampak apalagi merimbun. Bagian paling menarik dan jarang ditemui tentu saja pada bagian stupa utamanya. Ujung atas stupa puncak itu tampak ada “catra”, yakni semacam ulir dengan sedikit ornamen di bagian atasnya. Ini jelas berbeda dengan stupa yang selama ini dikenali oleh masyarakat. Kalau benar pengambilan gambar itu dilakukan tahun 1920 atau beberapa tahun sebelumnya, ini juga lebih menarik lagi. Pasalnya, dalam bidikan kamera Kasian Chepas tahun 1872 stupa candi buatan abad ke-8 yang diarsiteki oleh Gunadharma itu lebih tidak utuh lagi.

Kalau merujuk pada beberapa kajian sejarah, candi Borobudur ditemukan kembali dari belukar sejarah pada tahun 1814. Sir Thomas Stanford Raffles yang berkuasa waktu itu sebagai “Wali Negara” (1811-1816) sangat bersemangat dan lalu mengutus Cornelius, orang Belanda yang berpengalaman dalam masalah percandian untuk melakukan investigasi di lapangan. Dari laporan Cornelius inilah Raffles mendapatkan bahan tentang Borobudur untuk bukunya yang legendaris: “The History of Java” (1817). Candi Borobudur sendiri baru dipugar secara besar-besaran untuk pertama kalinya pada tahun 1907 dan berakhir 1911. Proyek pemugaran itu diketuai oleh seorang perwira zeni, Theodoor van Erp. Pascapemugaran inilah tampaknya stupa di puncak Borobudur memiliki “catra” yang ornamentik dan unik. Puluhan tahun setelah itu kondisi candi Budhha termegah dan terbesar di dunia itu memprihatinkan kondisinya, hingga kemudian kembali dipugar secara besar-besaran selama sepuluh tahun (1973-1983). Dan stupa muluslah yang ada di ujung atas Borobudur kini. Tak ada “catra”. Dan potret “Souvenir Album Midden Java” yang tengah dipamerkan itu mengingatkan kembali tentang sepotong masa lalu yang tak lagi utuh seperti muasalnya dulu. Inilah suvenir masa lampau yang cukup manis untuk dijadikan untuk cermin tentang pentingnya rasa memiliki, pentingnya rasa cinta atas apa yang kita punyai. ***