Thursday, July 14, 2016

Jonan dan Macet

Tuntutan agar Menteri Perhubungan Ignatius Jonan mundur memang wajar. Kemacetan yang luar biasa di Brexit menjelang Idul Fitri kemarin sudah "di luar kepantasan". Tapi pertanyaan pantas juga untuk dimunculkan: Jonan memang tak bisa kerja, atau struktur birokrasi di bawahnya yang lelet bekerja? Apakah budaya laporan ABS (Asal Bapak Senang) masih parah di Kemenhub?

Saya terpaksa harus membandingkan kasus Brexit dengan rencana pembukaan Terminal 3 Ultimate di bandara Soekarno Hatta (sebelum lebaran) yang batal itu. Terminal 3 Ultimate rencananya akan dibuka resmi oleh Presiden tanggal 15 Juni 2016. Lalu mundur tanggal 20 Juni. Belakangan batal sama sekali dan baru dibuka setelah lebaran. Itu pun belum jelas persis tanggalnya.

Pasalnya, sebelum tanggal 15 Juni Jonan sudah melakukan sidak ke Terminal 3 Ultimate yang megah itu, dan mendapatkan fakta bahwa dari menara pengawas bandara tidak bisa melihat semua pergerakan pesawat yang berada di Terminal 3 Ultimate. Kata birokrat di bandara, memang hanya bisa dilihat lewat kamera cctv. Jonan marah karena itu berbahaya bagi keselamatan penerbangan. Maka rencana pembukaan terminal baru itu buyarlah. Kemungkinan baru akan dibuka kalau sudah ada menara pengawas yang baru dan lebih memadai.

Saya tidak tahu persis apakah Jonan melakukan sidak ke Brexit atau tidak. Atau, jalur tol yang ujungnya di Brexit itu sebenarnya kewenangan Kemenhub saja atau berbagi dengan instansi lain sehingga Jonan bukanlah penentu tunggal untuk mengijinkan tol tersebut laik operasi atau tidak. Hal yang kita lihat kemarin, kemacetan hingga berakibat ada korban jiwa.

Mungkin Jonan salah. Mungkin juga peran anak buahnya yang males mikir dan males kerja yang menyebabkan kejadian fatal itu terjadi. Tapi ya, sayang juga sih dengan prestasi Jonan yang dalam 5 tahun terakhir sebelum dia menjabat Menhub, dunia perkeretaapian di Indonesia telah direvolusi dengan sangat baik olehnya. Semoga ada solusi yang lebih baik dan bijak. Bukan asal njeplak.