Friday, December 09, 2016

Tutup

Toko arloji di ujung jalan protokol kota ini tutup sejak awal bulan. Saya menemui kenyataan ini dua hari lalu saat melintas di jalan protokol itu. Kebetulan pula, siang kemarin saya bertemu dengan pemilik toko tersebut di sebuah kedai kopi.

 "Kenapa, pak, toko arloji Anda tutup? Bukankah itu sangat menghidupi dan teramat bersejarah bagi keluarga Anda?" tanya saya penasaran.

"Ya. Kami pun menutup toko itu dengan air mata".

"Oh, saya turut berduka," kata saya sembari menunduk. "Dan Anda bersikeras untuk menutupnya?"

"Bung, saya sudah kehilangan rasa percaya pada arloji, sang penunjuk waktu itu. Saya sering menatap waktu yang tertera pada arloji dan meyakini bahwa yang ditunjuknya adalah waktu yang sekarang. Waktu kini. Tapi itu sangat meragukan karena di sekitarnya banyak saya lihat orang yang masih menyimpan pikiran-pikiran 500 tahun lalu. Saya kira arloji menunjuk hari ini, tapi banyak tindakan yang dilakukan persis serupa dengan tindakan di abad-abad penuh kegelapan dalam peradaban kita. Saya bingung. Dan saya merasakan betapa tidak pentingnya kehadiran arloji karena dia bergerak maju ke depan, sementara di sekitarnya banyak yang mundur ke belakang. Begitulah, bung, maka toko arloji saya pun sudah kehilangan momentum sekarang. Lebih baik saya tutup".

Saya diam dan makin tertunduk. Jam di seluler kutatap, dan aku mulai meragukan nilai penting kehadirannya. ***