Wednesday, May 31, 2017

Lanyah


LANYAH. Orang Jawa punya istilah “lanyah” yang kurang lebih berarti terbiasa, “fasih”, atau “luwes” dalam melakukan sebuah aktivitas. Istilah tersebut mengindikasikan pelakunya telah mempraktikkannya dengan rutin, lama, dan terus-menerus. Misalnya, “Bayine wis lanyah le mlaku” (Si bayi sudah lancar berjalan), “Mbak Ponirah lanyah tangane olehe mbathik” (Mbak Ponirah sudah terampil tangannya dalam membuat batik), dan seterusnya. Dua kalimat contoh itu mengindikasikan bahwa si bayi telah lebih dulu jatuh bangun berlatih berjalan dan diduga baru di bulan kesebelas lancar berjalan. Demikian pula, Mbak Ponirah mungkin telah berlatih membatik sejak usia dini dan baru dikatakan fasih atau terampil setelah masuk di tahun ketiga, bahkan lebih.

Pendeknya, semua aktivitas butuh upaya, latihan, mempraktikkan langsung secara kontinyu, berkesinambungan, dan terus-menerus sehingga bisa mengalami "trial and error" untuk kemudian mencoba menghindari atau meminimalisasi titik "error"-nya agar pekerjaan lebih optimal. Seorang pelukis bila tidak terus melukis secara "istiqomah", terlalu banyak jeda, maka akan kehilangan kefasihannya dalam mengguratkan garis atau sekadar mencampurkan warna yang tepat. Seorang montir yang libur berpraktik hingga setahun, niscaya akan terkurangi kecekatannya tatkala kemudian menghadapi sebuah mesin yang lama tidak ditanganinya. Belum lagi kebaruan sistem dalam mesin yang menjadi tantangan baru mesti harus dipelajari rentang waktu yang relatif lama.

Apakah (calon) pemimpin juga membutuhkan ke-lanyah-an untuk memimpin rakyatnya? Pasti. Pemimpin juga perlu magang dalam situasi yang kurang lebih sepadan, meski bobot, gradasi, level, dan kompleksitas permasalahannya berbeda. Karakter lembaga yang dipimpinnya pun niscaya akan berbeda, dan ini berpotensi membentuk karakter pemimpinnya. Lembaga militer, lembaga bisnis, lembaga sosial, pun lembaga negara atau lembaga pemerintahan, sudah pasti memiliki titik diferensiasi yang variatif satu sama lain.

Mereka yang biasa menjadi pimpinan di lembaga militer level bawah tentu tak akan butuh banyak waktu ketika berpindah di level yang lebih tinggi di jalur militer. Demikian pula, orang yang telah bertahun-tahun sukses menjadi pimpinan lembaga pemerintahan di level menengah, tentu memerlukan proses adaptasi yang bisa relatif lama ketika harus berpindah memimpin lembaga bisnis yang levelnya setara. Akhirnya, sekarang, Anda pun bisa bernalar ketika melihat fakta seperti ini: seorang jenderal militer yang pernah membawahi puluhan ribu tentara dan telah libur memimpin selama 16 tahun, sudah mencoba berbisnis dengan banyak persoalan, kini, tiba-tiba berkehendak menjadi pemimpin bagi ratusan juta warga sipil. Butuh berapa tahun dari 5 tahun masa jabatannya itu untuk beradaptasi dengan rakyat dan sistem kenegaraan yang telah terbangun puluhan tahun? Eksperimentasi yang fatalistik seperti apa yang mungkin terjadi dengan pemimpin yang selama ini hanya meneriakkan gagasan namun belum pernah membenamkannya dalam proyek miniatur apapun dalam skala apapun? Maaf, saya tidak ngeri dengan tentara. Saya hanya ngeri dengan pemimpi (tanpa “n”) kosong yang diberi kesempatan. Saya ingin pemimpin yang “lanyah”!
Wirobrajan, YK, ujung Mei 2014.