Bagong Ngombyongi
Istilah “ngombyongi” cukup sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Orang Jawa (terutama kawasan Yogyakarta, Surakarta dan sekitarnya) mendeskripsikan kata ”ngombyongi” kurang lebih sebagai aksi untuk bergabung, berkumpul dan membersamai orang-orang untuk kepentingan yang positif dan mendapatkan kegembiraan. Dalam kamus “Bausastra Jawa” karangan Poerwadarminta (1939) disebut secara singkat bahwa ngombyongi adalah gêgrombolan sênêng-sênêng. Berkerumun bersama-sama untuk menyenangkan perasaan.
Kata “ngombyongi” menjadi titik berangkat dalam pameran ini untuk mengenang sekaligus mengenal (kembali) sosok Budiyanto yang oleh lingkungan terdekatnya dikenal dengan sebutan Bagong. Dia studi hingga lulus tahun 1986 di SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia, sempat berubah nama menjadi SMSR, Sekolah Menengah Seni Rupa, dan sekarang menjadi SMKN 3 Kasihan, Bantul). Sosok ini meninggal dunia karena serangan jantung pada 8 Januari 2024 ketika tengah mengayuh sepeda onthel bututnya di kawasan persawahan di bilangan Prambanan, Yogyakarta. Dia pergi dengan cara yang mengejutkan orang-orang terdekatnya karena begitu mendadak. Banyak teman atau orang yang lama mengenalnya sangat kehilangan.
Bagong sendiri adalah nama tokoh Punakawan, anak bungsu Semar—yang tercipta dari bayangan Semar. Publik mengenal karakter tokoh wayang Bagong sebagai sosok yang mudah bergaul, mempunyai prinsip selalu membela yang benar, memiliki jiwa sosial yang tinggi, gemar menari dan bernyanyi, suka bercanda, pemberani, dan yang menonjol adalah kurang mengerti tata krama, lugu, lugas, serta kurang penurut atau ngeyel. Banyak teman Bagong yang merasa kehilangan karena sosok Bagong yang ditemui dalam realitas sehari-hari dan dalam imajinasi pewayangan kurang lebih serupa. Bagong Budiyanto ya mirip-mirip Bagong anaknya Semar.
Dalam kurun sekitar 7 tahun terakhir ketika Bagong kembali pulang dan berkiprah di Yogyakarta, sesekali sosoknya muncul sebagai penonton berbagai peristiwa seni rupa. Mulai dari nonton pameran, juga mengunjungi kediaman sekaligus studio teman-teman seniman. Bahkan ada beberapa teman karibnya yang dikunjunginya dengan jadwal yang tertib dan rutin tiap pekan, selama beberapa tahun.
Sekitar tujuh tahun terakhir, memang, Bagong kembali banyak menetap di kota kelahirannya, Yogyakarta, setelah bertahun-tahun merantau ke berbagai kota, terutama Jakarta. Masa-masa kembali ke tanah air inilah dimanfaatkan kembali oleg Bagong untuk berkarya seni rupa. Ini aktivitas yang sudah sangat jarang dilakukan oleh Bagong ketika berada di Jakarta, meski dia masih hidup di circle pergaulan yang tak terlalu jauh dari dunia seni rupa. Jarang berkarya, apalagi berpameran, terlebih secara tunggal.
Maka, pameran seni rupa ”Ngombyongi” ini boleh jadi merupakan pameran tunggal pertama yang dihelat dan dipersembahkan untuk almarhum Budiyanto Bagong. Selama hidup, pameran yang pernah dilakukannya adalah pameran bersama bertajuk ”Rendhet” yang dihelat sekitar tahun 1985 di Karta Pustaka Yogyakarta, sebuah lembaga kebudayaan yang didanai oleh pemerintah Belanda—yang telah tutup sekitar tahun 2013an.
”Ngombyongi” menjadi semacam pameran tunggal retrospeksi mini yang menampilkan berbagai artefak karya seni hasil kreasi Bagong. Pameran restrospeksisendiri pada umumnya dilakukan oleh seorang seniman senior yang menggelar sekian banyak karya dengan membentang karya-karya representatifnya untuk mewakili rentang waktu, kecenderungan, perubahan karya, konsep dan seterusnya. ”Ngombyongi” tidak selengkap dan semegah pameran retrospeksi para seniman pesohor. Namun pameran ini semacam etalase waktu yang membentang menjadi jendela kecil untuk menelisik dan mengenal sosok Bagong. Puluhan karya dengan berbagai medium, dan dikreasi dari rentang waktu yang relatif cukup panjang sedikit banyak menjadi cermin atas karakter visual, bahkan mungkin karakter diri seorang Bagong.
Publik bisa melihat kecakapan visual pada diri Bagong lewat karya ”Jagoan” yang menggambarkan seorang kakek tua dan dikerjakan secara monochrome di atas kertas. Pada karya ini terlihat intensitas yang kuat dengan enerji yang berlimpah ketika Bagong mengerjakannya. Di situ tampak teknik pointilisme yang menyentuh hampir pada sekujur kertas. Ada impresi ketekunan, ketelitian, dan kenjelimetan yang dituntaskan dengan baik.
Karya-karya yang lain pada pameran ”Ngombyongi” ini, secara umum, dapat dipilah dalam setidaknya tiga bagian. Pertama, karya live painting atau melukis secara on the spot yang jumlahnya paling banyak. Spontanitas yang kuat dengan komposisi, teknik pencampuran warna yang baik, proses mimesis (meniru) atas alam, semua ini memberikan kesan bahwa kemampuan teknis seorang Bagong telah terasah dengan baik. Impresi “jiwa ketok” pada karya jenis ini begitu berkarakter.
Kedua, karya kriya yang dikreasinya dengan ketelitian dan kemampuan untuk mengelola emosi dengan baik. Spontanitasnya diubah menjadi keterukuran dengan pertimbangan logika tertentu. Ini tampak pada karya keramik, juga ukiran-ukiran kayu yang dibuatnya sebagai benda fungsional semacam kursi, gebyok, dan lainnya.
Ketiga, karya-karya lukis realistik dengan pendekatan mimetik relatif tinggi. Pada karya jenis ini Bagong memilki ketekunan, sekaligus memendam dan meredam hasrat untuk memperlakukannya dengan spontanitas tinggi. Maka jadilah karya potret-potret putri-putrinya yang realistik. Pada karya jenis ini publik akan mengetahui jejak kemampuan teknisnya yang kuat untuk menangkap dan memindahkan obyek ke dalam kanvas.
Bagong tidak banyak dikenal sebagai seniman. Apalagi seniman kesohor. Namanya tenggalam di antara reriuhan nama-nama lain yang berasal dari almamaternya sendiri, entah adik kelas atau pun kakak kelasnya. Realitas ini seperti kartu identitas yang dipilihnya dengan seksama oleh Bagong. Dia memiliki garis perjuangan hidup yang lain, yang berbeda dengan teman-teman sejawatnya di sekolah seni dulu. Dan sepertinya itu pilihan yang dinikmati sekaligus membahagiakannya.
Tugasnya hanya ngombyongi di hari tua dan ketika semua temannya telah memiliki pilihan hidup dan pilihan profesi masing-masing. Sayang hari belum begitu senja ketika Bagong harus kembali ke rumah abadinya di sisi Sang Pencipta. Bagong ngombyongi Gusti Allah di alam barunya sana. ***
Kuss Indarto, kurator seni rupa
#KussIndarto #KusIndarto #BudiantoBagong #ngombyongi #pameransenirupaNgombyongi #museumsonobudoyo #sonobudoyomuseum #artcurator #artexhibition #jogja #yogyakarta #artinasia #indonesiaart #yogyakartaart #senirupa