Press Release Pameran Tunggal Budiyanto Bagong “NGOMBYONGI”
Press
Release
Pameran Tunggal
Budiyanto Bagong
“NGOMBYONGI”
10–14 Januari 2026
di Gedung Saraswati,
Museum Negeri Sonobudoyo
Yogyakarta
Sekitar 50an karya seni rupa akan dipamerkan dalam pameran tunggal Budiyanto Bagong (1965-2025) di gedung Saraswati, Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Pameran tunggal ini dikemas dalam tema kuratorial “Ngombyongi”, berlangsung pada tanggal 10 hingga 14 Januari 2026. Pembukaan pameran berlangsung hari Sabtu, 10 Januari 2026 pukul 16.00 WIB, dibuka oleh Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, dosen senior di Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Menurut ketua panitia, Yosi Chatam, Budiyanto atau yang lebih karib dipanggil Bagong merupakan sosok seniman yang unik. “Karya-karyanya sangat bagus dan menarik sejak masih sama-sama studi di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) dulu. Namun dia memilih bergiat ke bidang yang lain, tidak melanjutkan sebagai seniman. Ketika Bagong kembali melukis, kekuatan ekspresinya masih terasa,” tutur Yosi.
Pameran ini untuk mengenang setahun kepergian almarhum Bagong yang mendadak meninggal dunia saat bersepeda di daerah Kalasan, Yogyakarta. Besar kemungkinan dia terkena serangan jantung. Bagong yang kelahiran 25 Oktober 1965 meninggal pada Sabtu Kliwon, 8 Januari 2025 atau dalam usia 59 tahun.
Di sisi lain, Evrie Irmasari, juga panitia pameran sekaligus teman seangkatan saat studi di SSRI menyatakan bahwa dia kehilangan sosok Bagong. ”Meski saya lebih intens sebagai seniman, namun motivasi dan inspirasi Bagong untuk saya sangat berarti dalam proses berkarya. Dia teman curhat yang hangat dan tanpa pamrih,” tutur Evrie.
Pameran tunggal Bagong ini memang dihelat dan didukung oleh hampir semua teman-teman seangkatannya, maupun teman seniman lain, mulai dari Budi Ubrux, Ignatius Yoedi, Nasirun, Gunawan Bonaventura, dan sekian banyak nama lain.
Pameran ini bertema kuratorial ”Ngombyongi”. Istilah ”ngombyongi” kurang lebih sebagai aksi untuk bergabung, berkumpul dan membersamai orang-orang untuk kepentingan yang positif dan mendapatkan kegembiraan. Dalam kamus “Bausastra Jawa” karangan Poerwadarminta (1939) disebut secara singkat bahwa ngombyongi adalah gêgrombolan sênêng-sênêng. Berkerumun bersama-sama untuk menyenangkan perasaan.
Menurut kurator pameran, Kuss Indarto, kata “ngombyongi” menjadi titik berangkat dalam pameran ini untuk mengenang sekaligus mengenal (kembali) Bagong. Dia studi hingga lulus tahun 1986 di SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia, sempat berubah nama menjadi SMSR, Sekolah Menengah Seni Rupa, dan sekarang menjadi SMKN 3 Kasihan, Bantul).
Sekitar tujuh tahun terakhir, memang, Bagong kembali banyak menetap di kota kelahirannya, Yogyakarta, setelah bertahun-tahun merantau ke berbagai kota, terutama Jakarta. Masa-masa kembali ke tanah air inilah dimanfaatkan kembali oleg Bagong untuk berkarya seni rupa. Ini aktivitas yang sudah sangat jarang dilakukan oleh Bagong ketika berada di Jakarta, meski dia masih hidup di circle pergaulan yang tak terlalu jauh dari dunia seni rupa. Jarang berkarya, apalagi berpameran, terlebih secara tunggal.
Maka, pameran seni rupa ”Ngombyongi” ini boleh jadi merupakan pameran tunggal pertama yang dihelat dan dipersembahkan untuk almarhum Budiyanto Bagong. Selama hidup, pameran yang pernah dilakukannya adalah pameran bersama bertajuk ”Rendhet” yang dihelat sekitar tahun 1985 di Karta Pustaka Yogyakarta, sebuah lembaga kebudayaan yang didanai oleh pemerintah Belanda—yang telah tutup sekitar tahun 2013an.
”Ngombyongi” menjadi semacam pameran tunggal retrospeksi mini yang menampilkan berbagai artefak karya seni hasil kreasi Bagong. Pameran restrospeksi sendiri pada umumnya dilakukan oleh seorang seniman yang menggelar sekian banyak karya dengan membentang karya-karya representatifnya untuk mewakili rentang waktu, kecenderungan, perubahan karya, konsep dan seterusnya.
Karya-karya pada pameran ”Ngombyongi” ini, secara umum, dapat dipilah dalam setidaknya tiga bagian. Pertama, karya live painting atau melukis secara on the spot yang jumlahnya paling banyak. Spontanitas yang kuat dengan komposisi, teknik pencampuran warna yang baik, proses mimesis (meniru) atas alam, semua ini memberikan kesan bahwa kemampuan teknis seorang Bagong telah terasah dengan baik. Impresi “jiwa ketok” pada karya jenis ini begitu berkarakter.
Kedua, karya kriya yang dikreasinya dengan ketelitian dan kemampuan untuk mengelola emosi dengan baik. Spontanitasnya diubah menjadi keterukuran dengan pertimbangan logika tertentu. Ini tampak pada karya keramik, juga ukiran-ukiran kayu yang dibuatnya sebagai benda fungsional semacam kursi, gebyok, dan lainnya.
Ketiga, karya-karya lukis realistik dengan pendekatan mimetik relatif tinggi. Pada karya jenis ini Bagong memilki ketekunan, sekaligus memendam dan meredam hasrat untuk memperlakukannya dengan spontanitas tinggi. Maka jadilah karya potret-potret putri-putrinya yang realistik. Pada karya jenis ini publik akan mengetahui jejak kemampuan teknisnya yang kuat untuk menangkap dan memindahkan obyek ke dalam kanvas. ***
Panitia
Pameran
Tunggal
Budiyanto
Bagong
“Ngombyongi”
#KussIndarto #KusIndarto #BudiantoBagong #pameransenirupaNgombyongi #ngombyongi #artcurator #kuratorsenirupa #artexhibition #pameransenirupa #museumsonobudoyo #sonobudoyomuseum #yogyakarta #jogja #indonesia #senirupa