Monday, June 01, 2009

Relevansi Kontemporer Hari Ini





oleh Frigidanto Agung*

(Tulisan ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 31 Mei 2009. Foto di atas adalah salah satu karya dalam pameran tersebut, berjudul "Sedot", kreasi kelompok Sedes, Semarang)

Melalui waktu yang panjang dari pameran ke pameran satu tahun terakhir, mulai pertengahan 2008 hingga hari ini, senirupa kontemporer mendapatkan tempat yang sebagaimana mestinya, meskipun apa yang secara harfiah pengertian kontemporer kadang sulit dipahami. Karena memang pengertian kontemporer di sini tidak ada pengertian yang baku. Apalagi meyangkut definisi karya kontemporer sendiri. Hanya permainan visual yang mendukung untuk disebut lain dari pada yang lain menjadikan visual diluar kebiasaan konvensi yang ada maka disebut kontemporer. Apakah demikian adanya?

Pameran seni rupa nusantara 2009 yang bertema Menilik Akar diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur 15 Jakarta, dapat dilihat bagaimana perkembangan visual yang ditelaah oleh sebagian dari perupa tentang visual yang luar biasa dari visual yang biasa-biasa itu. Permainan obyek yang kental menuju tematik yang telah diberikan dari kuratorial. Menungkap kontemporer atau tidaknya karya yang dipajang, mungkin terlalu kritis untuk melihat kedalaman bagaimana karya tersebut. Tetapi sekedar menelaah apa yang menjadikan pameran ini menjadi ‘sesuatu’ memang masih jauh.

Bahkan visual yang mendasari permainan karya-karya yang masuk hasil seleksi panitia yang berjumlah 600 karya kemudian di seleksi hingga yang lolos menjadi sekitar 85 karya adalah kerja berat yang tidak memungkinkan melihat keseluruhan karya secara detil. Disinilah bagaimana kategorisasi telaah terhadap karya memang menjadi ujian yang berat, selain itu dinamika perkembangan dari karya yang masuk tidak mungkin terakomodasi secara menyeluruh karena keterbatasan waktu seleksi.

Tetapi apa yang hadir di sini? Pajang karya Pameran Nusantara antara tanggal 19-31 Mei 2009 merupakan wilayah telaah atau perenungan akhir setelah apa yang terjadi satu tahun terakhir bagaimana perdagangan lukisan mencapai puncaknya, dimana setiap pameran mempunyai sisi bisnisnya masing-masing tanpa tertinggal setiap kehadiran karya baru tidak mungkin tanpa kolektor yang mengusungnya, tanda bahwa lukisan terbeli. Sekian hari waktu ‘boom’ itu telah lewat, berbagai pameran menjadi sepi dan dirundung kesunyian pewacanaan. Sehingga karya-karya yang hadir dengan berbagai bentuk merupakan kehadiran utnuk mengisi kekosongan. Mengapa? Ketika ‘boom’ terjadi maka kehadiran berbagai karya dengan tehnik yang standar menjadi laku atau terjual, tanpa memperhatikan bagaimana pewacanaan selanjutnya, sebagai bagian dari tidak selektifnya publik untuk memberi solusi bagaimana karya yang menjadi koleksi. Di sinilah apa yang dinamakan ‘boom’ itu hadir. Tetapi hari ini, relevansi ‘boom’itu sendiri menjadi sesuatu bayang-bayang belaka. Dimanakah publik yang kemarin merespons karya-karya tersebut.

Inilah kontemporer publik hari ini. Keterpautan antara situasi diluar dunia seni terlalu kental. Tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Pameran Nusantara sepertinya merefleksikan keterpautan pewacanaan yang hangar-bingar kemarin sore dan kesunyian hari ini, dimana pameran yang diramaikan oleh perupa 21 provisnsi ini manjadi penutup hangar-bingar itu.

Reaksi yang terlambat

Menilik tematik pameran ini merupakan daya dimana kesempatan untuk mengambil dinamika relistis dari public menjadi yang utama. Dimana keberadaan selanjutnya memang diharapkan muncul dari pewacanaan, hingga mengakibatkan wacana berkembang. Tetapi apa yang ditemukan pada pewacanaan hari ini? Melalui karya yang dipajang menjadikan faktor realistis menjadi nomer satu. Bahkan karya tidak meninggalkan realitas dari apa yang dibicarakan satu jam yang lalu. Apakah itu real? Memang untuk memperlihatklan bagaimana pemikiran yang ada serta apa yang berkembang dipublik perlu ditampilkannya karya memperlihatkan perspektif lain.

Menilik Akar, menampilkan realita sebagai identitas yang harus dijembatani untuk memberikan sesuatu yang dapat menjembatani hari ini dan hari esok terutama tentang pemikiran visual. Representasi kuat tentang pemikiran visual pada pemilihan karya-karya ini hanya menampilkan realitas dimana aksi yang datangnya terlambat ini seperti menegur hari kemarin, mangapa karya visual yang mengungkap realitas tidak ditampilakn kemarin? Membuat perenungan ini sepertinya mengada-ada, tentu penuh dengan syak wasangka, tetapi di sinilah kenyataan yang berkembang, public kemarin justru tidak menelaah karya realistis seperti pameran ini.

Pameran yang membentuk reaksi atas kehadiran seniman yang mengungkap apa realitas itu sendiri tidak dapat diterima saat hangar-bingar pemeran satu tahu ke belakang. Dalam Menilik Akar ini perupa yang mengungkap realita hidup menjadi terakomodasi dimana perjuangan untuk menunjukan kontemporer yang hinggap pada pikiran personal menjadi sesuatu yang menarik bagi mereka. Mungkin inilah yang perlu disimak bahwa kehadiran pameran Menilik Akar seperti memberi reaksi yang terlambat atas ‘boom’ perdagangan seni satu tahu terakhir.

Menilik Akar, Menilik Karya

Terlihat bagaimana karya yang realistis terpajang dengan menarik diruang pamer, sungguh menarik bukan, tetapi lihat karya yang lain. Dimana karya outdoor yang terliha fragmentatif ini mengisi halaman Galeri Nasional Indonesia, memaknai keberadaan karya merupakan memberi pengertian bagaimana permainan perupa menjadi sesuatu dalam mengisi realitas ini. Apa yang terungkap melalui karya Sedot, milik kelompok Sedes Art, yang terdiri dari Kokoh H.S, David Kurniawan dan Kokok Nugroho, seperti melihat realita hari ini tentang perjalanan truck tinja keliling kampong menawarkan sedot WC yang penuh. Relevansi sosial muncul di sini, pikiran pragmatis atau bayangan akan hadir jika menyebut truk sedot. Tentu mereka akan mengambil isi septic tank, bukankah demikian. Pekerjaan temporer ini menjadi sesuatu yang menarik ketika dirancang menjadi instalasi sedemikian rupa memasukan unsure-unsur dramatik dari bentuk ukiran-ukiran yang telah ada sejak zaman nenek moyang. Dinamisasinya menjadi sesuatu yang mungkin dapat dipakai untuk hari ini. Sedangkan judul Dirt Inside, karya Ab Soetikno, lebih memerinci bagaimana menilik ke dalam diri yang ada dalam otak. Membuat pengertian tentang bagaimana pengaruh kerja otak dalam kehidupan sehari-hari kita.

Frigidanto Agung, pengamat seni rupa.