Saturday, March 13, 2010

Adopt! Adapt!





Oleh Kuss Indarto
ADA saatnya tatkala jagad seni rupa diasumsikan bagai hendak “berhenti” justru oleh pesatnya perkembangan dunia teknologi. Kala itu, 1839, L.J. Mande Daguerre berhasil melakukan eksperimen karya fotografinya dengan teknik “daguerreotype” yang menghasilkan karya fotografi dengan capaian image yang teramat realistik. Dunia seni lukis terguncang. Ini sempat dikhawatirkan oleh para seniman lukis, terutama pelukis potret pada jaman itu yang menganggap penemuan Daguerre segera akan membangkrutkan eksistensi mereka. Getar-getar kecemasan itu terekspresikan oleh pernyataan salah seorang pelukis Perancis, Paul Delaroche (1797-1856) yang mencium gelagat tak mengenakkan atas kenyataan tersebut sembari mengatakannya dengan cukup sarkastik namun galau: “from today painting is dead!”
Kekhawatiran itu bisa jadi dimafhumi. Tapi mungkin juga dianggap berlebihan karena pada kenyataannya justru dengan munculnya medium baru tersebut telah memberikan alternatif kemungkinan (antara lain) bagi para model atau yang karib disebut sebagai “the sitter” (karena duduk manis dengan posisi tertentu yang disepakati untuk dilukis) untuk tidak berlama-lama berpose dan “mematung”. Sang pelukis yang berpola kerja ars imitator naturam (seni itu tiruan alam) semacam itu hanya tinggal “menjiplak” dan memindahkan hasil fotografi tersebut ke atas kanvasnya. Photography was a particular importance to portrait painters. Fotografi menjadi alat yang dianggap penting bagi penciptaan karya lukis potret.

Situasi itu lambat-laun kemudian bergeser. Di antara para pelukis yang memanfaatkan kesempatan ini antara lain para seniman Neoklasik seperti Jean Dominique Ingres. Juga seniman Romantik Eugene Delacroix yang merupakan salah satu sahabat dekat Delaroche yang galau di atas. Pada lembar-lembar waktu berikutnya, sejarah bisa merekam nama-nama besar seperti Edgar Degas, Marchel Duchamp, raksasa Pop Art Andy Warhol, hingga nama-nama lainnya dalam kurun berikutnya, yang memanfaatkan, menggantungkan atau bersiasat dengan kecanggihan teknologi serta nilai tambah fotografi sebagai bagian penting dari proses kerja artistik dan estetiknya.

Pada perkembangan lainnya, teknologi itu tidak sekadar menjadi alat bantu, namun juga telah menjadi cara pandang kreatif dalam menelurkan karya-karya estetik lainnya yang lebih kreatif. Sejarah dan publik bisa mencatat bahwa fotografi telah terbukti mempengaruhi bentuk seni lukis yang “non-portraiture” seperti halnya yang dipraktikkan oleh salah satu seniman besar, Marcel Duchamp yang kala itu juga dikenal sebagai pelukis kubistik. Dia mengkreasi karyanya yang terkenal “Nude Descending a Staircase” yang muasal gagasannya diduga kuat dikuak dari impresinya atas hasil eksperimen fotografi Edward Muybridge yang menggunakan beberapa seri “multiple exposure” untuk menciptakan nuansa dan suasana “gerak” pada karyanya.

Dari situlah Duchamp melakukannya dengan menggunakan potret dirinya sendiri sebagai model yang sedang menapak menuruni tangga yang dituangkannya sebagai lukisan kubistik. Hal yang kurang lebih serupa juga dipraktekkan oleh seniman Andy Wharol yang memanfaatkan hasil karya fotografinya dengan mengombinasikannya dengan teknik cetak saring (serigraphy) seperti karya yang mengetengahkan jejeran kaleng sup, potret bom seks 1950an Marilyn Monroe, dan sebagainya. Publik pasti telah juga akrab dengan nama-nama seniman semacam Chuck Close, Richard Estees, hingga ke nama-nama seniman “tetangga kita di Yogyakarta” yang di jaman kontemporer ini banyak dipengaruhi ritus kerja hingga cara pandang kreatifnya oleh pergerakan teknologi fotografi. Secuil gambaran ini sekadar untuk memotret gejala kuatnya nilai lebih dari teknologi fotografi yang mampu untuk “to freeze the moment” dengan nilai “realism”-nya yang tinggi sehingga dapat dieksplorasi secara penuh sebagai “alat bantu” untuk menciptakan karya seni para seniman tersebut.

Pendekatan para seniman terhadap perkembangan teknologi inilah yang saya kira bertemu dalam satu titik bernama adaptasi. Kemampuan beradaptasi adalah situasi dalam diri seniman untuk menyesuaikan atau berdamai dengan kebaruan yang berasal dari dunia eksternal mereka. Teknologi adalah salah satu yang memungkinkan untuk diserap dan diadaptasi untuk memberi tantangan bagi laju progresivitas kreatif mereka. Dan dunia fotografi sekadar contoh “kecil”. Saya belum masuk dalam tahapan yang lebih lanjut dan rumit seperti dunia digital dan keterpengaruhannya pada dimensi kreatif estetik-artistik yang telah menggerus masuk begitu dalam di dunia kreatif seniman dewasa ini, termasuk di Yogyakarta. Mulai dari Nam Jun Paik yang muncul di masa “jadul” di Barat hingga ke sosok di ranah Indonesia: Krisna Murti, kelompok Tromarama, Venzha dan HONF-nya, Jompet, dan sebagainya.

***

PADA kesempatan yang sama, pada kerumunan persoalan gairah seniman yang memacu progresivitas kreatifnya dengan mendayagunakan teknologi, ada persoalan lain yang juga agenda permasalahan bagi sebagian seniman untuk terus diadopsi, yakni problem penggalian nilai-nilai “identitas kebudayaan”. Ini bisa jadi tema yang “jadul” namun tetap saja tereaktualisasi tanpa sadar ketika seseorang (termasuk seniman) berhadapan dalam ruang lingkup persoalan yang besar dan luas. Namun ini juga tak kalah rumitnya untuk merumuskan secara definitif, tegas dan clear seratus persen. Seperti halnya problem “identitas” (yang kemudian berkait dengan soal tradisi, seni budaya dan nasionalisme) itu sendiri yang terus bergerak mengikuti arus waktu.

Pemahaman tentang “identitas” sendiri, kalau merujuk pada gagasan pemikiran Stuart Hall (Cultural Identity and Diaspora, 1990), berpangkal pada dua cara berpikir yang berbeda. Pertama, “identitas” dilihat sebagai sesuatu yang bersifat “melampaui sejarah”, sesuatu yang bersifat a-historis, sesuatu yang berlangsung di dalam sebuah kontinuitas ruang dan waktu. Dari sini, maka identitas merefleksikan pengalaman-pengalaman sejarah bersama serta kode-kode kultural yang dimiliki bersama oleh sebuah kelompok “masyarakat” yang memberi mereka kerangka acuan dan makna kehidupan yang tak berkelanjutan.

Sementara pemahaman yang kedua, “identitas” lebih dilihat sebagai sebuah proses “menjadi” , sebagai sebuah rantai perubahan terus-menerus, sebagai sebuah rentang sejarah—yang sebagaimana dikatakan oleh Michel Foucault—dibentuk berdasarkan “keterputusan” ketimbang mata rantai kontinuitas historis. Dengan demikian, di satu sisi, identitas memiliki peluang yang sama sebagai bentuk pelestarian masa lalu, serta sebagai transformasi dan perubahan masa depan di pihak lain. Identitas tak lagi sekadar berorientasi ke masa lalu yang bersifat primordial (warian budaya), namun juga dapat berorientasi ke masa depan (kreativitas perubahan budaya). Identitas, ternyata, bukanlah sesuatu yang tersedia untuk kita, melampaui tempat, waktu, sejarah, dan budaya yang tak dapat diubah. Namun sebaliknya, mempunyai sejarah. Dan dari situlah ia akan mengalami transformasi dan perubahan secara terus-menerus bersama perubahan itu sendiri.

Identitas, dengan demikian, adalah cara sebuah kebudayaan menafsirkan masa lalunya secara terus-menerus. Sehingga titik tafsirnya tak pernah berhenti, tak pernah stabil, yang selalu terus-menerus “diperbarui” di dalam wacana sejarah dan kebudayaan. Identitas kebudayaan adalah cara sebuah kebudayaan menafsirkan posisinya dirinya di dalam rentang sejarah dalam relasinya dengan kebudayaan-kebudayaan lainnya.

Dalam kerangka pemikiran ihwal “identitas” demikanlah sebenarnya perhelatan pameran ini digerakkan. Pada sisi pertama, seniman dipersuasi oleh pemahaman tentang problem adaptasi dengan dunia teknologi untuk melakukan progresivitas kreatif. Ini, untuk konteks hari ini, juga berkait erat dengan masalah pencanggihan kemampuan menggunakan unsur-unsur teknologi(s) yang tak bisa dielakkan dewasa ini. Sementara di sisi yang lain, dengan menilik pada masalah “identitas” di atas, seniman juga disugesti untuk kembali menggumuli problem “asali” yang bisa jadi telah menggumpal sebagai ingatan bersama maupun ingatan personal tentang masalah “tradisi dan akar (seni) budaya”. Ingatan personal ataupun ingatan bersama itulah yang bisa kembali dikuak dan diadopsi kembali sebagai bagian penting dari mata rantai persoalan sekaligus subject matter dalam karya-karya seniman.

***

DEWASA ini, sekali lagi, publik bisa menyaksikan bersama praktik berkesenian bagi banyak kalangan perupa di Indonesia, mulai dari yang akademis hingga non-akademis, dari yang berada di “pusat” seni rupa yang bertimbun jaring-jaring informasi dan penuh kebaruan seperti Yogyakarta hingga di kawasan lain yang terus berusaha bertumbuh menemukan karakter komunal-personalnya. Mereka, seperti dalam pameran ini, berasal dan berproses di pinggiran kota Padang, Sumbar, Parakan, Wonosobo, Malang, hingga Surabaya. Semuanya, sadar atau tak sadar, telah masuk dalam babakan yang relatif baru dimana perann teknologi dan tilikan atas masalah “identitas” memiliki peran yang cukup penting.

Pertama, teknologi menjadi perangkat utama dalam penciptaan karya, sehingga dari sanalah muasal karya itu dihasilkan. Pada seniman yang masuk dalam kerangka ini, kedudukan teknologi dalam kaitan dengan proses kreatifnya menjadi ideologis karena mendasarkan (nyaris) seluruh berkaryanya dengan bantuan perangkat teknologi.

Kedua, teknologi sebagai perangkat pembantu dalam proses kreatif. Di sini para perupa mencoba mengembangkan kecenderungan kreatif yang selama ini telah dilakoninya, dan memasukkan peran perangkat teknologi sebagai salah satu bagian dalam proses berkreasi. Teknologi sebagai alat bantu untuk mendukung dalam menajamkan tema yang telah jadi pilihannya. Namun teknologi bukan segala-segalanya bagi perupa semacam ini. Kemampuan seniman untuk beradaptasi atau menyesuaikan atau menyelaraskan (to adapt) dengan kebaruan-kebaruan teknologi yang ada di lingkungannya.

Di sisi lain, saat ini publik sulit sekali membuat identifikasi personal atau komunal untuk melihat sebuah karya seni rupa dalam kaitannya dengan problem “identitas”. Misalnya, karya seniman yang berasal dari Yogyakarta, bisa sangat jauh dari “identitas keyogyaan/kejawaannya”. Begitu juga dengan karya perupa dari Ranah Minang bisa tak beda jauh “identitas visualnya” dari karya seniman Eropa. Gejala ini mengemuka dimana-mana, dan menjadi bagian penting dari kerja kreatif seniman yang imajinasinya tidak seutuhnya didukung dan bersumber dari ide-ide lokal. Lokalitas terkadang seperti diingkari secara visual, meski secara konseptual hal ini masih belum beranjak jauh. Gejala ini saya kira dapat ditengarai sebagai sebuah cara seniman dalam bersiasat untuk memperbarui dunia gagasan dan implementasinya di medan kreatifnya, di atas kanvasnya. Saya kira gejala mengadopsi atau memungut (to adopt) ini banyak muncul pada lukisan-lukisan di seluruh Indonesia.

Aspek yang menarik dalam pameran ini adalah upaya seniman untuk memaknai proses mengadaptasi (gejala kemajuan teknologi) dan mengadopsi (gejala visual yang melampaui problem lokalitas). Ikon-ikon visual yang berangkat dari problem kebudayaan lokal bisa lebih jauh digali dan dikembangkan, untuk kemudian bisa dikerangkai sebagai “lintas lokal”, “lintas geografis”, “lintas etnik”, dan seterusnya, Istilah “lintas lokal” dan sejenisnya ini untuk menunjukkan bahwa problem kelokalan bisa menjadi titik pijak untuk lalu diperluas cakupannya sehingga melampaui problem lokalitas yang dirasa sempit.

Apresian, misalnya, bisa menyimak kembali ingatan tentang figur wayang purwa, yakni tokoh Antaboga pada karya Sumartono. Imaji tentang wayang dalam kerangka pandang seniman ini telah dialih-ubah dalam kerangka visual yang mengedepankan pencitraan aspek (waktu) kekinian. Dia tidak lagi menggambarkan sosok wayang Antaboga dalam imajinasi masa lalu, namun mencoba menggagas kembali “melampaui” kerangka pemahaman masa lalu sang wayang tersebut.

Dalam kerangka pemahaman yang kurang lebih sama (tentu dengan gradasi pencapaian yang berbeda), para seniman dalam pameran ini mencoba mengadaptasi masukan-masukan yang berkait dengan ihwal sistem pengetahuan yang “berbau” teknologis di satu sisi, dan berupaya keras untuk mengadopsi kembali untuk ingatan-ingatan personal (dan komunal) mereka yang terus bergerak tentang “identitas”. Dan seberapa dalamkah penggalian nilai intrinsic karya mereka tentang masalah adaptasi dan adopsi ini, publiklah yang akan mengepresiasi dan menerjemahkan lebih lanjut. ***