Friday, March 05, 2010

Sidji Mencari Taji





Oleh Kuss Indarto

(english scroll down)
ADA banyak komunitas seni rupa, art group, sanggar, paguyuban, dan semacamnya, di Yogyakarta. Mereka bertumbuh, berkembang, dan mendinaminasi diri untuk berkompetisi dengan lingkungannya. Ada kalanya mereka mati karena tak banyak dihidupi oleh anggotanya sendiri. Ada kalanya juga mereka tetap bertahan namun tetap dengan kebersahajaan capaian atau prestasi, dan tenggelam di antara reriuhan dinamika seni rupa itu sendiri. Namun juga, di sela-sela itu, muncul satu dua kelompok seni yang begitu kuat, berkarakter, dinamis, hingga menjadi trend setter bagi lingkungannya.

Paguyuban seni Sidji merupakan satu di antara sekian banyak komunitas seni itu. Usianya kini sudah masuk tahun ke 10. Tentu bukan sebuah penanda waktu yang pendek, namun juga belum sangat panjang. Ada takaran relativitas untuk menyebut rentang usia tersebut sebagai panjang atau pendek yang bertumbuh pada tilikan sejarah komunitas seni di Yogyakarta. Artinya, usia komunitas yang bertahan hanya 5 tahun, sebagai misal, bisa dikatakan terlalu “panjang” usianya kalau dia tak berbuat dan merengkuh capaian apapun yang bermanfaat bagi anggota kelompok dan lingkungannya.

Menyoal tentang komunitas seni, publik seni rupa (di Yogyakarta) bisa mengais kembali ingatan atas hal-ihwal semacam ini. Kita bisa menyimak keberadaan Sanggar Dewata Indonesia (SDI) yang didirikan oleh Nyoman Gunarsa, Made Wianta dan beberapa perupa asal Bali di Yogyakarta pada tahun 1971 lalu. Kini SDI masih bertahan, tentu dengan segala dinamika belitan persoalan internal dan eksternalnya. Publik juga bisa menyimak sepak terjang Komunitas Seni Sakato yang bersisi perupa asal Minangkabau, yang tahu ini telah menginjak usia hingga 15 tahun. Belum lagi Sanggar Bambu yang dibidani oleh Sunarto PR dan rekan-rekan seniman lain dan bertahan hingga setengah abad, tentu dengan segenap pahit getir.

Basis Komunitas
Dari sekian banyak komunitas seni yang (pernah) hidup, berproses, bertahan, dan berprestasi di Yogyakarta, saya melihat ada beberapa hal elementer yang menginspirasi kelahirannya. Pertama, ada komunitas yang terbangun karena aspek “kohesi etnisitas” (ikatan kesukuan). Ini terlihat dari, sebagai contoh, Komunitas Seni Sakato yang mengikat jalinan batin seniman asal Minangkabau, atau Sanggar Dewata Indonesia yang disemangati oleh aspek ke-Bali-an antar anggotanya. Pun dengan komunitas seni Muara (almarhum) yang mayoritas anggotanya terikat oleh “spirit” kedaerahan bumi “Palembang” (atau kawasan seputar Sumatra Selatan). Juga kelompok-kelompok lain.

Kedua, komunitas seni yang dibangun oleh “kohesi estetik” lewat kebersamaan dalam penggalian spirit pilihan dan kecenderungan kreatif tertentu. Inilah yang kira-kira mendasari kelahiran Kelompok Seni Jendela (meski secara kebetulan semua anggotanya juga ada kohesi etnik Minangkabau). Di antara anggota kelompok ini ada semacam tali ikat yang menyatu karena sama-sama menggumuli cara berpikir kreatif yang menggagas dan menelurkan karya visual yang tidak mengindahkan tema-tema sosial kemasyarakatan dan semacamnya, namun lebih menyoal pada eksplorasi ide-ide visual yang melampaui konservatisme (bentuk). Dalam ranah yang kurang lebih sama, sempat ada juga komunitas seni Apotik Komik yang sekarang telah bubar. Komunitas ini mendasarkan diri jalinan kreativitasnya dari ketertarikan antar anggotanya pada genre komik (konsep dan visualnya) sebagai titik berangkat atas proses penciptaannya.

Ketiga, adanya “kohesi ideologis”, yakni munculnya komunitas seni yang mengindikasikan aspek ideologi tertentu sebagai dasar praktik penciptaan, sikap politik kesenian dan sumber gagasan kreatifnya. Ini terlihat pada diri kelompok Taring Padi yang sempat berdiri beberapa bulan setelah rezim Soeharto runtuh dan “konon” masih bergerak hingga hari ini. Kelompok ini menyepakati ideologi yang disebut oleh sementara pengamat sebagai penganut ideologi “realime sosialis”. Ini tak jauh berbeda dengan senior mereka, yakni sanggar Bumi Tarung, yang pernah tumbuh dan berpengaruh kuat pada dasawarsa 1950-an. Beberapa pengurus serta anggotanya (Amrus Natalsja, Djoko Pekik, Misbach Thamrin, dan sosok-sosok lainnya) masih hidup dan sesekali berpameran.

Keempat, adanya “kohesi kolegial-akademis”, yakni tali ikat yang berasal dari spirit kolektivitas antarseniman diperaantarai oleh aspek kolegial-akademis yang mendasari pendirian sebuah kelompok. Sebagian besar kelompok ini mengemuka secara incidental namun pada umumnya tak bertahan lama karena tali ikat semacam ini diasumsikan sulit untuk menjadi “api semangat” yang terus menghidupi jalinan bentuk kreatif mereka. Misalnya sempat ada kelompok Spirit ’90 yang dikomandani oleh Temmy Setyawan dan beranggotakan mahasiswa Jurusan Seni Lukis ISI Yogyakarta angakatan 1990, seperti Putu Sutawijaya, Tomy Faisal Alim, dan lainnya. Atau, contoh lain, kelompok Blok 9 yang terdiri dari sekelompok seniman asal Angkatan 1999 Jurusan Seni Lukis ISI Yogyakarta (Agus Triyanto BR, Arya Sucitra, dan lainnya), yang masih harus diuji kekuatannya dalam bertahan dalam gerusan tantangan dan waktu ke depan.

Kerukunan Sidji
Pengelompokan berdasar spirit pembentuk kelompok ini niscaya masih debatable karena masih berupa hipotesa awal, kurang pendalaman dan bersifat atas pandangan sekilas atas beberapa kelompok, belum berdasarkan penelitian lebih lanjut. Namun bukan berarti bahwa hipotesa awal ini dapat diabaikan begitu saja.

Lalu, dengan mendasarkan pada hipotesa awal tersebut, dimanakah letak Paguyuban Seni Sidji ini berada?

Saya melihat bahwa spirit muasal pembentuk(an) kelompok ini kurang lebih serupa dan sebanding dengan Komunitas Seni Sakato, SDI, dan lainnya yang diikat oleh gairah kreatif sesama seniman dalam lingkar “kohesi etnisitas”, bahkan lebih mengerucut dari soal etnisitas. Mereka ini bukan saja sesama seniman asal dan beretnik Jawa, namun lebih menukik pada gairah untuk menunjukkan keguyuban sebuah kawasan yang relatif lebih mungil lagi, yakni berasal dari bagian tertentu wilayah kabupaten Bantul, terutama Imogiri. Mereka bukan tengah merantau seperti halnya para seniman Bali (SDI) dan Minangkabau (Sakato) yang sepertinya membutuhkan ruang kebersamaan bernama komunitas. Namun paguyuban ini terkumpul dari keberserakan yang berbeda: ada seniman akademis dan otodidak yang menyatu di dalamnya, ada luapan hasrat untuk belajar dan berproses bersama, ada pula upaya pemanfaatan kesempatan, peluang, dan bangunan jejaring informasi yang kemungkinan bisa ditangguk di dalamnya. Untuk hal terakhir itu, ihwal jaringan informasi, tentu menjadi penting karena mereka tampaknya masih berada dalam lingkar luar jalur utama informasi. Atau mungkin ada ketimpangan akses informasi antar-anggota di dalamnya.

Kata “paguyuban” itu sendiri, yang menjadi tajuk komunitas tersebut, mengindikasikan pada upaya untuk mendasarkan aspek kerukunan sebagai ruh penting dalam kesadaran dan kebersamaan berkomunitas. Tentu saja ini tak jauh dari “pandangan hidup” khas Jawa yang mengedepankan harmoni, kerukunan dan penolakan terhadap sesuatu yang berbau serta berpotensi ke arah konflik. Saya tak tahu persis apakah konsep “klasik” tentang paguyuban tersebut masih begitu kuat menyelubungi Paguyuban Seni Sidji ini, atau telah mencoba memberi nilai kebaruan yang lebih menyesuaikan dengan progresivitas jaman.

Apapun itu, pada hemat saya, sebuah komunitas semacam Paguyuban Seni Sidji ini berpotensi untuk jauh lebih berkembang apabila: pertama, sosok pemimpin tidak menjadi figur tunggal yang sentral dalam banyak segi kekuatan, mulai dari kepemilikan atas kekuatan gagasan, pemikiran, estetik, informasi, bahkan ekonomi. Kekuatan itu, idealnya, bisa terbagi secara kolektif pada banyak figur di dalamnya, sehingga kebergantungan tersebut tidak menjadikan relasi dalam komunitas tersebut berpola patron-klien, namun lebih sebagai partner-partner yang setara (equal).

Kedua, semua anggota komunitas tersebut memiliki kesadaran bersama bahwa hidup dalam sebuah iklim berkomunitas adalah hidup dalam kemampuan untuk berbagi. Maka, pada pemahaman lebih lanjut atas hal ini, kemampuan berbagi dapat diejawantahkan dalam upaya untuk mendisribusikan semua potensi yang berlebih dari masing-masing personal itu kepada personal lain dalam komunitas tersebut. Ini terutama pada problem gagasan, informasi hingga aspek artistik dan estetik masing-masing seniman, sehingga pembentukan karakter kelompok sangat berpotensi kuat terbangun dari pola relasional seperti ini.

Ketiga, sudah saatnya sebuah komunitas memberlakukan pola manajerial yang lebih maju ketimbang pola komunitas 10 atau lebih tahun yang lalu yang sekadar menjadikan ini sekadar ajang berkumpul. Tentu bukan yang ketat seperti sebuah perusahaan yang basis ekonominya kuat, namun setidaknya manajerial tersebut mampu membagi kewenangan masing-masing anggotanya untuk berbagi pemahaman. Ada yang mengatur di sisi informasi, penalaran, pendalaman teknis berkarya, dan sebagainya.

Masih banyak problem yang bisa diurai untuk progresivitas Sidji, namun setidaknya tiga poin di atas bisa menjadi titik awal yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Dan ini semua bergantung pada Sidji untuk lebih bertaji dan punya mimpi untuk menjadi “nomer siji” (terdepan atau menjadi trend setter).

Puber

Pameran kali ini kiranya adalah upaya serius yang kesekian kalinya bagi Sidji untuk menunjukkan kepada publik atas pencapaian yang telah diupayakannya. Dan seperti yang telah saya katakan di depan, sebuah komunitas yang dibangun oleh “kohesi etnistas” memang belum memungkinkan untuk membangun ciri yang kuat dalam pencapaian karakter karya, mulai dari konsep, cara berpikir, hingga (apalagi) visualisasinya. Publik dapat melihat kreasi masing-masing personal dengan sistem pengetahuannya sendiri-sendiri, dan membawa tema yang dimauinya sendiri-sendiri pula. Ini sebuah risiko wajar dan sekaligus tak terelakkan.

Ada seniman yang telah mulai mumpuni sehingga dari tilikan dunia gagasan dan dunia bentuk atas karyanya telah dengan jelas memperlihatkan kualitasnya. Namun ada pula seniman yang pada presentasi karyanya kali ini diduga masih mengalami belitan problem teknis dan cara pandang terhadap tema tertentu yang masih bersahaja, sehingga apa boleh buat, ada ketimpangan yang cukup kentara dengan seniman yang saya “definisikan” sebelumnya.

Inilah risiko yang mesti siap ditangguk oleh Paguyuban Seni Sidji. Dan inilah agenda persoalan yang mesti disegerakan untuk terus-menerus dicarikan titik solusinya. Kalau telah berketetapan hati menjadi seniman (profesional) tentu aspek pencarian, penggalian, dan pendalaman pada segi gagasan dan kebentukan yang diperlukan pada proses berkarya seni rupa mesti menjadi kesadaran mendasar untuk diagendakan.

Semoga teman-teman di Sidji masih mau untuk bermimpi besar, dan tentu mewujudkannya!

Kuss Indarto, penulis seni rupa, tinggal di Yogyakarta.

Sidji, Searching for SpurBy Kuss Indarto
There are a lot of art communities, art groups, studios, associations, and the sorts, in Yogyakarta. They grow, develop, and building their dynamics to compete with their surroundings. Sometimes they died out because of not funded by their own members. At times they survived but with plain achievement or accomplishment, and drowned inside the uproar of visual arts dynamics itself. Yet, among those, emerged one or two art groups that are so strong, stand out and dynamic, which make them trendsetters for their peers.

Paguyuban Seni Sidji is one of the many art communities. It is now entering its 10th year. Of course it’s not a short-ranged milestone, yet it hasn’t been that long either. There is a relative measurement in determining the time span as long or short, based on observation upon the history of art community in Yogyakarta. Which concludes, if a community only lasted for 5 years, for example, it could be said as lasting “too long” if it’s not doing and achieving anything useful for its members and society.

Talking about art community, visual art public (in Yogyakarta) can track back their memory on this kind of matters. We can observe the existence of Sanggar Dewata Indonesia (SDI) established by Nyoman Gunarsa, Made Wianta, and several Balinese artists in Yogyakarta in 1971. Now SDI still survives, of course with all the dynamics of its internal and external problems convolutions. Public can also observes the performance of Komunitas Seni Sakato, consisted of artists from Minangkabau, which had reached its 15 years of age this year. Not to mention Sanggar Bambu that was delivered by Sunarto PR and other artist colleagues and had survived for more than half a century, of course after all the growing pains.

Community Base
From a lot of the (once) existing, proceeding, surviving and accomplishing art community in Yogyakarta, I see there are several elements inspiring their births. First, there are communities established because of the “ethnicity cohesion” aspect (ethnicity bonds). This could be seen in, for example, Sakato Art Community that binds the spirit of artists who came from Minangkabau, or Sanggar Dewata Indonesia that was enliven by the Balinese aspects of its members. Also with the (late) Muara art community whose members majority were bounded by the spirit of “Palembang” locality of their hometown (or of areas around South Sumatera). The same is with other groups.

Second, art communities built by the base of “aesthetic cohesion” through togetherness in exploring the chosen spirits and certain creative tendencies. This could be what gave birth to Jendela Art Group (although coincidentally all of its members also have Minangkabau ethinicity cohesion). Between the members of such group there seems to be a rope that binds them together because together they explore creative way of thinking that breeds ideas and generating visual artworks that aren’t concerned with social society themes and the likes, but more to the exploration of visual ideas that goes beyond conservatism (form). In more or less the same context, there used to be a now disbanded Apotik Komik art community. This community based its creativity attachment upon the members’ attraction towards comic (the concept and visual) as a starting point of its group establishment.

Third, the “ideology cohesion”, where an art community is established upon a certain ideological aspect as the base of creation practices, art politic attitude, and its creativity source. This could be seen in the Taring Padi group that remained a couple of months after the dethroning of Soeharto, and is “said” to be still active up to today. This group agreed upon an ideology that several observers concluded them as “Social Realism” followers. This is not too different from their predecessors, the Bumi Tarung studio, which was developed and possessed strong influences in the 1950’s. Its several staffs and members (Amrus Natalsja, Djoko Pekik, Misbach Thamrin, and other figures) are still alive and sometimes participated in exhibitions.

Fourth, is the “academic- collegial cohesion”, the ties that binds come from the collectivity spirits of the artists, through the academic-collegial aspect, as a starting point of the group establishment. Most of these groups rose incidentally but generally does not survive for long because this kind of ties is assumed to be difficult to become a “burning spirit” in keeping their creative form ties alive. For example there once a group Spirit ’90 lead by Temmy Setyawan and consisted of the class of 1990 students of ISI Yogyakarta Painting Department, such as Putu Sutawijaya, Tomy Faisal Alim, etc. Or, other example, the Blok 9 group consisting of a group of artists from the class of 1999 of ISI Yogyakarta Painting Department (Agus Triyanto BR, Arya Sucitra, et cetera), who still needs to have their strength tested in survival and of times ahead.

Sidji Harmony
Groupings based on the triggering spirit is undoubtedly debatable for it’s a mere early hypothesis, ¬not deep enough and is loosely based on mere glances on several groups, not based on a further research. But it doesn’t mean that this early hypothesis should be disregarded.

Thus, based on the early hypothesis, where is the position of Paguyuban Seni Sidji?
I see that their establish(ment) triggering spirit is more or less and is equal to how Komunitas Seni Sakato, SDI, and the rest are bound by the creative passion of the artists in the “ethnicity cohesion” circle. Moreover, it’s more than just ethnicity. They’re not just artists from Java with Javanese ethnicity, it inclines more to the passion to display harmony of a relatively tinier area, which is a certain part of Bantul District, especially Imogiri. They are not in migrants like the Balinese (SDI) and Minangkabau (Sakato) artists who seem to need a communal space called community. Yet this congregation rose from a different type of assemblage: academic and autodidact artists are uniting in it, there is an overflowing passion to learn and proceeds together, there is also an effort to use chances, possibilities, and informational network that could be benefited from. For the last one, on informational network, it becomes important because they seem to still be outside of the main informational network. Or there might be a gap of information access between the members.

The word ‘paguyuban’ (association) itself, which become the title of the community, indicates efforts to base on unity as the main soul of the community awareness and togetherness. Of course it’s not far from the uniquely Javanese ‘life philosophy’ underlining harmony, unity and resistance to anything that smells or having potentials toward conflicts. I am not entirely sure whether the ‘classic’ concept on association is still strong affecting Paguyuban Seni Sidji, or have they try to give new values more adaptive to the progress of time.

Whatever it is, in my concern, a community like Paguyuban Seni Sidji has the potentials to be developed more when: first, leader figure is no longer a central sole figure in many aspects of power, starting from ownership upon the power of ideas, mind, aesthetic, information, even economy. The power, ideally, can be divided collectively to the many figures inside it, so the dependency does not make the relationship within the community to have a patron-client pattern, but as equal partners.

Secondly, all community members have the same awareness that life in a community climate is living within the capacity to share. Thus, in an advance understanding, the capacity to share could be realized in the effort to distribute potential surplus to each individuals within the community. This is mainly a problem on ideas, information, up to the artistic and aesthetic aspects of each artist, that the development of the group character has strong potential to be built from this kind of relational pattern.

Thirdly, it’s time for a community to practice advance managerial pattern rather than a community pattern from 10 years ago that only utilize it a gathering point. Of course not as tight as a company with strong basic capital, yet at least the management could distribute the authorities to each member for a shared understanding. There will be a management of information, ratio, work technique learning, etc.

There are still a lot of problems that could be describe for Sidji’s progress, yet there are at least three points above that could be use as a starting point for development. And all of this depends on Sidji in getting the spur and dream to be “number one” (to be in the lead or becoming a trend setter).

Puberty
This exhibition is one of the serious efforts for Sidji to show the public their achieved progresses. Like what I had described before, a community built on ‘ethnicity cohesion’ is not yet able to develop a strong feature in achieved work characteristics, starting from the concept, way of thinking, up to (foremostly) the visualization. Public could see each individual creation with their each knowledge system, and also their individual theme. This is a normal and inevitable risk.
There are artists with more accomplishment that from the aspect of ideas and form, their artworks display more quality. Yet there are also artists whose artworks presentation this time seemingly to still be burdened with technical problems and too simple way in interpreting certain themes, there is an inexorably visible gaps from the artists I ‘defined’ earlier.

This is the risk that Paguyuban Seni Sidji must ready to face. And this is the agenda of matter that needs to be prioritized in searching for its solutions. If there’s a determination to be a (professional) artists, certainly the aspect of exploration, research, and contemplation in ideas and form needed in the process of creating visual artworks must be the basic awareness to be put in the agenda.

Hopefully friends in Sidji are still willing to have a big dream, and of course to make it happen!

Kuss Indarto, art writer, residing in Yogyakarta.