Thursday, December 13, 2012

Mengharap Kritisisme dan Kreativitas Anak Muda

Bersama salah satu finalis Kompetisi Seni Lukis Remaja Indonesia 2012, Bella Tifa Ardhani dari Jakarta. Kompetisi ini diadakan oleh Yayasan Seni rupa Indonesia (YSRI).

Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini dimuat dalam katalog Kompetisi Seni Lukis Remaja Indonesia YSRI tahun 2012)

KOMPETISI dan pameran seni lukis remaja ini menjadi salah satu jendela kecil untuk melongok persepsi, imajinasi, juga opini anak-anak usia remaja dalam memandang kembali Pancasila. Ini bukan hal baru, namun layak untuk diketengahkan kembali. Pancasila sendiri sebagai ideologi negara, pandangan hidup bangsa, sistem falsafah, ataupun sebagai paradigma pembangunan, kini dianggap telah mengkhawatirkan posisinya karena tergeser bahkan tergusur dalam imajinasi juga kerangka berpikir anak-anak muda. Gelombang informasi yang datang bagai air bah dari berbagai penjuru adalah salah satu sebab munculnya berbagai subyek ketertarikan baru yang lebih “ideologis” dan memberi rasa nyaman bagi para anak muda kini.

Padahal, secara kuantitas, populasi anak-anak muda itu kian banyak dan prosentasenya kian membesar. Coba simak hasil Sensus Penduduk 2010 (SP 2010) yang menunjukkan bahwa penduduk Indonesia telah mencapai angka 237,641 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 81,4 juta orang atau sekitar 34,26 persen di antaranya adalah anak berumur di bawah 18 tahun. Dari angka tersebut bisa dirinci lebih lanjut bahwa pada kelompok umur 7-12 tahun ada sebanyak 27,8 juta anak. Lalu anak-anak usia 13-15 tahun ada 13,4 juta anak, serta jumlah anak dalam kelompok umur antara 16-17 tahun sebanyak 8,4 juta anak.

Pada anak-anak dengan kelompok usia antara 12-18 tahun inilah kompetisi seni lukis remaja ini diperuntukkan. Ini merupakan kelompok usia anak yang telah melewati batasan the golden age of creative expression atau masa emas ekspresi kreatif yang lazim ditempatkan bagi anak-anak berusia di bawah 10 tahun. Artinya, pada usia 12-18 tahun bisa diduga bahwa logika dan rasionalitas anak-anak telah terkonstruksi dengan cukup baik selaras dengan usia biologis psikologisnya.

Maka, bisa diduga bahwa karya-karya yang masuk sebagai peserta kompetisi seni lukis remaja ini banyak yang hadir secara visual dengan kemampuannya untuk mengolah sebesar-besarnya aspek rasionalitas. Fantasi-fantasi liar yang mengabaikan logika yang biasa dilakukan secara visual oleh anak-anak usia dini (di bawah 10 tahun) secara pelahan telah digeser dengan karya-karya visual yang mulai memperhatikan detil subyek benda yang ada dalam realitas-sosial dan kemudian di alih-ubah ke dalam realitas-estetik. Misalnya, jemari tangan atau kaki yang mesti berjumlah lima, dan beragam fakta lain yang ditemukan dalam keseharian untuk kemudian berusaha dilakukan proses mimesis atau meniru, karena pada awalnya seni adalah tindakan meniru alam, ars imitatur naturam.

Ratusan karya yang masuk ke panitia kompetisi ini memperlihatkan gejala pertumbuhan logika dan penalaran dari anak-anak kelompok usia 12-17 tahun tersebut. Sekitar 200-an lebih karya yang diseleksi lewat penjurian pada tahap pertama pada Rabu, tanggal 8 November 2012 menunjukkan gejala itu. Awalnya, tim juri dan panitia merancang untuk menyeleksi hingga mendapatkan sebanyak 50 karya (50 Besar). Namun jumlah ini sulit dicapai karena disesuaikan fakta bahwa karya-karya yang masuk belum sepenuhnya memenuhi harapan, juga keterbatasan ruang pameran. Maka diputuskan untuk karya-karya dipilah hingga 30 Besar. Karya-karya dikatakan belum memenuhi harapan karena masih lemahnya titik temu antara gejala pertumbuhan logika-rasionalitas dan gejala ekspresi visual. Problem teknis visual tampaknya menjadi kendala cukup besar bagi sebagian para peserta sehingga gagasan atau imajinasi yang relatif cukup kuat belum bisa divisualisasikan dengan baik dengan pencapaian artistik yang memadai. Dari sini kemudian bisa diduga bahwa ada keterpotongan yang cukup senjang antara ruang dan kesempatan berekspresi secara visual bagi anak-anak usia di bawah 10 tahun yang sangat kuat garis imajinasinya (baik gagasan maupun teknis visualnya), dan karya-karya anak-anak usia 12-18 tahun yang kemampuan teknis visualnya belum bisa menopang kemampuannya dalam berlogika dan berimajinasi. Dugaan adanya kelemahan pendidikan seni (rupa) di bangku pendidikan (formal) akhirnya menjadi tesis yang mengemuka.

Berikutnya, penjurian tahap kedua dilakukan pada hari Senin, 26 November 2012. Ini tahap yang cukup rumit karena harus mengerucutkan jumlah dari 30 Besar menjadi hanya 6 Besar dan kemudian menentukan karya-karya terbaik berdasarkan peringkat. Kerumitan menemu kompleksitas karena pada tahap ini juga ada pertarungan gagasan di samping pertarungan visual antarkarya yang lebih seru.

Pada akhirnya, tim juri memilih karya 6 Besar itu, mulai dari Karya Pemenang Terbaik I hingga Karya Harapan Terbaik III. Ada keragaman gagasan dan visual pada karya-karya tersebut. Bila kembali direlevansikan dengan tema utama tentang “Aku Cinta Pancasila”, upaya penerapan di ranah visual cukup menarik. Setidaknya, ada nilai-nilai optimisme, juga sebaliknya unsur-unsur pesimisme, sikap kritis, hingga keprihatinan dalam perspektif anak-anak muda Indonesia ketika memandang kembali nilai-nilai ke-Pancasila-an dalam konteks waktu kekinian. Di tengah nilai-nilai tersebut, kecenderungan dunia youth culture sedikit banyak muncul dengan berbagai kesadaran dan implementasinya secara visual.

Pada karya Pemenang Terbaik I memperlihatkan sebuah pengharapan besar pada nilai-nilai Pancasila yang mampu menyosok pada hero(isme) yang tangguh. Karya Pemenang Terbaik II bahkan seperti menerapkannya dalam fakta yang ada di ranah sosial. Karya ini menampilkan sosok Firman Utina, (mantan) kapten kesebelasan tim nasional sepakbola Indonesia yang bernomor kostum 15 menjadi figur idola. Di samping kematangan teknis yang relatif cukup memadai, juga simbol-simbol yang dimunculkan di dalamnya bisa memberi gambaran kecil tentang rasa nasionalisme di mata anak muda kini.

Sementara karya Pemenang Terbaik III secara teknis cukup memberi gambaran optimistik akan adanya regenerasi dalam dunia seni rupa. Teknik pewarnaan yang relatif telah cukup matang, ditambah dengan kemauan untuk bermain secara eksperimintatif lewat material benang di atas kanvas menjadikan karya ini menarik. Gagasannya pun, meski masih dalam perca-perca persoalan yang bertaburan, cukup memberi content karya ini.

Karya-karya yang tak kalah impresifnya adalah karya Harapan Terbaik I dan Harapan Terbaik III. Kedua karya itu seperti hendak mempertontonkan sisi pesimisme atau keprihatinan atas kondisi dan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam perikehidupan berbangsa dewasa ini. Pada karya Harapan Terbaik III keprihatinan ditampilkan secara simbolik dengan memunculkan figur burung Garuda yang terduduk lesu dengan sayap yang belum bisa tergerak lapang untuk terbang. Langit di latar belakang juga seperti mengisyaratkan situasi senja menjelang. Sedangkan karya Harapan Terbaik I tampil dengan lanskap karikatural penuh ironi yang dramatis. Karya ini mempertontonkan sebuah drama di meja makan dengan menu utama Pancasila. Pancasila seperti dipermainkan lalu disantap dengan brutal oleh para monster, sementara di belakang mereka apa banyak pasang mata yang menatap nanar, prihatin namun tak bisa berbuat banyak untuk menghentikan kebrutalan tersebut.

Dan akhirnya, karya Harapan Terbaik II menggambarkan sepokok pohon hijau berisi keragaman aktivitas anak bangsa. Ini sebuah optimisme bahwa Indonesia masih diharapkan menjadi pohon rindang dan meneduhkan bagi bersemayamnya pluralitas dalam berkehidupan dan berbangsa.

Apapun, dengan menyimak karya visual berikut substansi yang menghujam di dalam karya-karya tersebut, maka layak untuk diapresiasi dan dimaknai lebih jauh kecenderungan kritis dan kreatif anak-anak muda ini. Pada dimensi lain yang lebih jauh, gejala dalam dunia seni rupa remaja sangat kuat kaitannya dengan dunia pendidikan. Maka, ada pengharapan besar bahwa peranan guru di bangku pendidikan formal mampu untuk memberi inspirasi, memberi kejelasan atau klarifikasi, membantu menerjemahkan gagasan perasaan dan reaksi siswa ke dalam bentuk-bentuk karya seni yang terorganisasi secara estetis. Tentu juga diharapkan bisa menciptakan iklim yang menunjang bagi kegiatan “menemukan”, “eksplorasi” dan “produksi”. Tentu saja, untuk dapat berperan seperti ini para pengampu dunia pendidikan seni perlu “mengasah” kepekaan rasa seninya secara memadai, melalui kegiatan belajar (= mengamati, menghayati, mengkaji atau berkarya) yang terus-menerus.

Menyimak karya-karya anak-anak muda ini, sungguh, kita masih berharap banyak pada kritisisme dan kreativitas mereka untuk mengisi masa depan Indonesia. Semoga! ***

Kuss Indarto, anggota tim juri, dan kurator Galeri Nasional Indonesia.