Saturday, December 15, 2012

SUMATERA BIENNALE 2012




AKHIRNYA, perhelatan Sumatera Biennale 2012 segera digelar di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, tanggal 5 hingga 15 Desember 2012. Ini merupakan perhelatan seni rupa yang dirancang berlangsung secara rutin dua tahun sekali, dan berlangsung secara berpindah-pindah di kota-kota yang berada dalam kawasan (pulau) Sumatera. Untuk kesempatan pertama, Sumatera Biennale #1-2012 berlangsung di kota Padang, Sumatera Barat, dan selanjutnya berputar di kota lain sesuai kesepakatan bersama.

Gagasan untuk membuat perhelatan semacam ini sudah dirancang cukup lama, dan menjadi bagian penting dari upaya untuk menciptakan forum seni rupa yang penting dan kompetitif dengan subyek utama Sumatera. Selain Sumatera Biennale ini, sebelumnya, selama bertahun-tahun sudah ada perhelatan bernama PLDPS atau Pameran Lukisan dan Dialog Perupa se-Sumatera. Namun kalau ditilik karakternya, PLDPS cenderung lebih bersifat partisipatif dengan mengedepankan aspek representativeness atau keterwakilan pada tiap propinsi yang ada di kawasan Sumatera. Oleh karenanya, forum itu layak untuk tetap dipertahankan dengan karakter yang telah dibentuk sebelumnya, bukan harus berganti wajah atau bertransformasi menjadi biennale.

Biennale ini justru dimunculkan untuk menguatkan perhelatan yang sudah ada sekaligus memberi titik beda dengan sifatnya yang dicoba untuk kompetitif. Aspek kompetitif di sini dimaksudkan dengan menyandarkan diri pada tilikan atas sejarah, perkembangan, dan dinamika kreatif seniman yang ada di kawasan Sumatera atau mereka yang pernah mengenyam pengalaman dan memiliki tautan psikologis dengan Sumatera. Pada titik inilah maka pilihan seniman yang seniman yang terlibat sebagai peserta ditentukan. Pilihan terhadap nama-nama seniman ini memang tidak mudah, penuh kompleksitas masalah karena pada event kali ini belum menerapkan pola survei dan riset yang memadai sebelumnya.

Kalau kemudian ditemukan nama-nama seniman dalam perhelatan ini yang saat ini tidak bermukim dan berproses di tanah Sumatera, ini karena adanya pilihan bahwa konteks “Sumatera” ditempatkan sebagai venue, bukan pangkal utama dalam aspek kepesertaan. Artinya, seniman peserta Sumatera Biennale tidak mutlak diisi atau diikuti oleh para seniman yang saat ini tinggal, menetap dan berproses di pulau Andalas ini, namun juga ada beberapa nama yang pernah lahir, menjalani pendidikan dasar, atau sempat dtinggal di Sumatera, meski sekarang berada di kawasan lain seperti pulau Jawa—karena alasan studi, atau alasan profesional lain. Pola ini justru diharapkan akan memberi gambaran kepada publik bahwa pameran ini akan bisa lebih digaungkan karena tidak mengedepankan sifat “Sumatera-sentris” yang berlebihan. Sumatera Biennale dihasratkan ke depan menjadi event yang relatif terbuka dalam segi keragaman kepesertaannya.

Sementara dari aspek rekruitmen kepesertaan untuk kali ini ditempuh lewat cara undangan, bukan aplikasi terbuka. Ini memiliki alasan karena keterbatasan waktu yang tak memungkinkan untuk membuka pola rekruitmen aplikasi terbuka. Alasan lain, juga agar pilihan seniman dan karya diharapkan bisa relatif lebih fokus untuk standar tertentu, misalnya soal kualitas karya—meski ini belum sepenuhnya belum seperti diharapkan.

Akhirnya, perhelatan ini akan bisa berlangsung secara kontinyu dengan kualitas yang meningkat andaikan bisa didukung sepenuhnya oleh publik seni rupa di Sumatera, entah sebagai seniman, masyarakat pendukung, pengritik, dan sebagainya. Apapun, masukan yang konstruktif akan membangun perhetaln Sumatera Biennale menjadi lebih kuat dan bergaung lebih kuat di jajaran perhelatan yang serupa di kawasan lain. Semuanya butuh proses yang tidak pendek. 

PENGANTAR KURATORIAL: ”Self-Discovering” (Pencarian Diri) 

Salah satu hal penting yang dimiliki publik dalam sebuah negara bangsa adalah imajinasi atas kehidupan bersama, dan ihwal identitas. Kita telah mampu membayangkan sebuah komunitas bersama yang dibatasi oleh wilayah teritorial dan pengandaian tentang sejarah yang dianggap sama (meminjam cara pandang Benedict Anderson) yang kemudian menghasilkan satu rasa tersatukan sebagai bangsa. Maka, pada dasarnya hal yang kita tunjuk dengan istilah bangsa akhirnya tidak lebih dari sejumlah pengandaian, atau impian. Dan itu bisa berarti semu belaka. Sebab antara saya/kita dengan "saudara" saya/kita si Tengku di Meulaboh, Uda Koto di Bukittinggi, Cak Rojaki di Bangkalan, Madura, atau si Mangge dari suku Kaili di Sulawesi Tengah, tidak diikat oleh garis apa pun selain oleh adanya pengandaian tentang sebuah nasib yang kurang-lebih sama. Pembayangan tentang sebuah sejarah praktis disamakan, yakni bangsa. Pembentukan kerangka imajiner untuk terus mempertahankan dan menerjemahkan "bayangan" atau khayalan kita itu di antaranya adalah dengan pendirian negara.

Negara menjadi realitas yang seolah aktual karena memiliki daya dukung untuk mengoperasikannya, menjadi jalinan relasi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Negara hadir secara faktual lewat serangkaian operasi (entah via media atau perangkat kuasa lain yang terstruktur) yang dibahasakan setiap hari sehingga menjadi realitas yang langsung berhadapan dan teralami bersama kita. Negara dan bangsa adalah contoh termudah untuk melihat bagaimana sesuatu yang pada dasarnya semu, kemudian diperlakukan sebagai kenyataan nyaris tanpa bantahan. Kita seperti menerima itu sebagai sesuatu yang given (terberi).

Alhasil, negara bagai sebuah impian yang (kadang) menjadi kenyataan, karena kita bisa terlibat secara (inter)aktif dengan kerangka imajinernya itu sendiri. Negara menjadi nyata karena kita masuk ke dalamnya, menjadi bagian darinya, dan sebaliknya kalau perlu, ramai-ramai menafikkannya. Maka, dengan demikian, memandang Indonesia kini, bisa jadi, layaknya memberlakukan sebuah mimpi seperti halnya mengelola sebuah permainan. Dibutuhkan banyak eksplorasi dan eksperimentasi untuk menjadi anggota di dalamnya. Bukan statis seolah semuanya serba terberi tanpa kita berupaya untuk mencoba “mengonstruksi”.

Problem ini tentu menjadi kian rumit ketika dewasa ini globalisasi telah menawarkan orientasi borderless ataupun trans(national) identity, yakni ketika semua orang berhak menentukan siapa dirinya tanpa harus terkungkung oleh nilai dan bayangan imajiner kolektif yang dibangun sebagai konstruksi resmi negara. Dengan demikian proses sosialisasi dan pengalaman interaksi tiap-tiap orang sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sangat mempengaruhi bentuk pemahaman, memori kolektif, dan orientasi sosial kultural orang-orang tersebut sebagai warga. Dalam pada itu berbagai kebijakan negara yang berusaha menciptakan “identitas” kolektif, senantiasa dirasakan sebagai sebuah tawaran tanpa pilihan, bahkan terasa sebagai sebuah pemaksaan. Akibatnya muncul respon yang beragam: dari mengakomodasi atau menerima hingga penolakan. Di sinilah sebenarnya citra ke-Indonesia-an tengah dan terus diuji hingga kini.

Dari kerangka berpikir atas fakta-fakta sosial yang terpapar singkat di atas, maka perhelatan Sumatera Biennale 2012 dengan tajuk kuratorial “Self-Discovering” ini berupaya menjadi ruang bersama untuk menilik dan membicarakan lebih lanjut ihwal akar imajinasi dan identitas ke-Indonesia-an tersebut hingga orientasinya ke depan. Tentu bukan perkara yang bombastis kalau kemudian para perupa (sebagai bagian penting dari negara bangsa ini) melakukan pembacaan, pemetaan, penyikapan dan pelontaran komitmen personal atas fakta-fakta tersebut. Tentu tetap dengan bahasa visual yang menjadi perangkat utama para perupa. 

Seniman:
1. Amrianis
2. Amrizal Salayan
3. Bambang Soekarno
4. Bambang Suroboyo
5. Benny Muhdalika
6. Budi Siagian
7. Dedy Sufriadi
8. Doni Fitri
9. Edo Pop
10. Endra
11. Evelyna Dianita
12. Hamzah
13. Herismen Tojes
14. Herwandi
15. Irwandi
16. Iswandi
17. Jon Wahid
18. Kamal Guci
19. Komunitas Seni Rupa Belanak
20. Komunitas Seni Rupa Sarueh
21. Mansyur Mas’ud
22. M. Zikri
23. Panji Sutrisno
24. Rajudin
25. Stefan Buana
26. Syahrizal Pahlevi
27. Syahrial Yan
28. Winarno Kartupat
29. Yasrul Sami Batubara
30. Yatim Mustofa
31. Zirwen Hazry 

Kurator:

Kuss Indarto 

Pembukaan:

Rabu, 5 Desember 2012, pukul 20.00 wib,
di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat,
Jl. Diponegroro 31, Padang 

Diskusi:

"Progresivitas Seni Rupa (di) Sumatera di Celah Dinamika Seni Rupa (di) Indonesia"
Kamis, 6 Desember 2012, pukul 10.00 wib,
di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat,
Jl. Diponegroro 31, Padang 

Pembicara:

- Kuss Indarto, kurator Sumatera Biennale 2012
- Suwarno Wisetrotomo, dosen Program Pascasarjana ISI Yogyakarta 

Workshop Seni Rupa:

Kamis, 6 Desember 2012, pukul 14.00 wib,
di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat,
Jl. Diponegroro 31, Padang 

Pemateri:

- Djoko Pekik, seniman senior Yogyakarta
- Yuswantoro Adi, peraih Grand Prix ASEAN Philip Morris Art Award 1997