Wednesday, September 03, 2014

Makan Malam Model Jero Wacik


SUATU petang di tahun 2009, mendadak aku mendapat sms dari mbak Dyan Anggraini, Kepala Taman Budaya Yogyakarta (waktu itu). Isinya berupa undangan makan malam bersama Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik di hotel Melia Purosani. Jarak antara datangnya sms dan jadwal acara hanya kurang dari 2 jam. Karena lagi selo (longgar waktu), saya penuhi undangan tersebut.

Ternyata ada sekitar 50-an orang datang di acara tersebut. Aku pun berhambur di antara keriuhan para undangan untuk makan enak di hotel berbintang 5 itu. Dan lebih menyenangkan lagi karena aku bertemu dengan banyak teman, juga para seniman senior, yang sudah cukup lama tidak srawung (bertemu).

Seusai makan malam, para undangan diminta berpindah ruang di salah satu hall, karena agenda berlanjut dengan acara bincang-bincang. Tapi dari awal aku sudah nyeletuk, “Lho, kok formasi duduknya tidak menarik? Kayak mau kuliah umum, atau kebaktian di gereja, atau temu kader, hehe…” Itu karena para undangan duduk menghadap dua kursi paling bagus di seberangnya. Ternyata kursi itu ditempati oleh Pak Jero Wacik dan satu orang lain (aku lupa namanya) yang bertindak sebagai moderator.

Akhirnya, kami mendengarkan paparan dari sang menteri sekitar 25 menit tanpa jeda. Uniknya, yang kudengar Mr. Jero lebih banyak bicara tentang banyak hal yang akan dilakukan, persoalan yang dia rencanakan. Di luar itu, ya sudah pasti, beragam keberhasilan (versi dia) dinyatakan dengan antusias dan penuh heroisme. Seperti halnya para undangan lain, aku duduk takzim menyimak setiap kalimat-kalimat pejabat itu.

Sampai kemudian paparan selesai, dan moderator pun lalu menyilakan para hadirin untuk merespons. Dengan cepat kilat aku mengacungkan diri untuk menanggapi. Beberapa orang lain menyusul mengacungkan diri. “Saya kira Bapak Jero Wacik terlambat 5 tahun untuk bikin acara pertemuan seperti ini,“ tuturku sok provokatif mengawali tanggapanku. “Anda, idealnya, datang ke sini, dan membuat acara ini sesaat setelah ditunjuk menjadi menteri. Bukan ketika akan mengakhiri sebagai menteri beberapa hari lagi. Sehingga Anda berkesempatan untuk menyerap sebanyak mungkin gagasan, aspirasi, dan tawaran-tawaran usulan dari masyarakat yang layak untuk di-follow up dan direalisasikan di tingkat praksis oleh Anda dan kementerian. Kalau cuma pertemuan seperti ini, dengan segala maaf, Anda terlihat ambisius untuk menjadi menteri lagi,“ begitu kira-kira aku nyerocos.

Aku lupa persisnya apa yang Jero Wacik jawab. Seingatku, seusai acara, semua undangan diberi amplop berisi uang Rp 500.000,-. (Aku sempat Tanya ke mbak Dyan Anggraini yang mengundangku, ”Mbak, uang apaan sih itu? Jangan-jangan kita nanti dipanggil KPK? Haha…” Mbak Dyan juga kesulitan menjawab: “Aku sama sekali tidak tahu, kok sampai ada acara bagi-bagi uang seperti itu, Kuss. Itu semua urusan tim rombongan dari Jakarta,” tuturnya).

Dan beberapa bulan kemudian Jero Wacik kembali diangkat menjadi menteri, persisnya Menteri ESDM. Bulan depan dia bersama Kabinet Indonesia Bersatu mengakhiri masa kerjanya. Semoga baik-baik saja. Tapi kalau “tidak baik-baik saja”, bahkan lulusan ITB itu kelak dijebloskan KPK ke penjara, ya, bibit-bibit kebusukannya memang sudah kulihat pada acara di hotel Melia Purosani Yogyakarta, 5 tahun itu. Indonesia memang layak dibersihkan dari pejabat kotor.