Tuesday, September 23, 2014

Sang “Colorist” Naif Kembali ke Habitatnya

Sumber: sinarharapan.co/news/read/140911068/sang-colorist-naif-kembali-ke-habitatnya-span-span-

“Ayah kan seniman, kok nggak pernah melukis?” tanya Kenwani Amisani (Keni) yang kala itu masih berusia sekitar 4 tahun, suatu hari pada 2007.

Mendengar pertanyaan anaknya yang sulung, Keni, Faizal terhenyak. Jantungnya berdegup keras. Ia tak bisa berkata apa-apa. Ia pun menjadi susah tidur.

“Saya merasa bersalah. Profesi yang selama ini saya geluti saya tinggalkan. Terlebih ketika saya masuk ISI Yogyakarta tak direstui orang tua saya. Lah, kok sekarang saya tinggalkan,” ucap Faizal.

Pertanyaan anaknya itu membawa kesadarannya pulih dan mengingatkan dirinya adalah seorang perupa. Perupa yang sempat melejit namanya pada era 1990-an. Faizal pun kembali menekuni dunia seni lukis.

“Ketika memulai lagi, saya merasa kesusahan, kehilangan irama,” ujar Faizal seraya mengaku bahwa lukisan pertamanya—setelah dilecut anaknya—adalah sosok anaknya sendiri.

Dalam perbincangan santai sembari mempersiapkan karya-karya untuk dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dari 6 September-18 September ini, ia mengaku telah bertahun-tahun meninggalkan dunia seni rupa.

Perhatiannya lebih tercurah kepada anaknya. Terakhir kali ia berpameran tunggal di Ganesha Gallery, Bali tahun 2002. Lalu ada pameran bersama di Nadi Gallery pada 2005.

“Sejak saat itu saya meninggalkan dunia saya. Perhatian saya curahkan sepenuhnya pada anak. Perkembangan anak selalu saya ikuti. Kapan mulai bisa berjalan, berbicara, selalu saya catat,” ujar Faizal yang pada 1991 meraih award Medaille du Conseil Generale – Prix d’Honneur’ France ini.

Boleh dibilang, berkat anaknya itulah Faizal kembali berkarya.

Namun, yang mendorongnya kembali berpameran tunggal adalah Agung Tobing, seorang kolektor muda Indonesia. Sudah lama karya-karyanya dikoleksi Agung maupun Oei Hong Djien. Koleksi inilah yang lantas dipamerkan dalam pameran tunggal yang bertajuk “The World of Faizal: Revival”, yang dibuka Sabtu (6/9).

Agung Tobing mengaku telah lama mengenal Faizal. Ia pertama kali mengoleksi karya Faizal pada 1991. Ada tiga karya yang dibeli.

“Saya tertarik mengoleksi karena karya-karyanya secara tematik cukup mudah dicerna dan enak dipandang. Ada deformasi bentuk manusia, flora, fauna, serta dunia galaksi di langit yang sangat unik yang menurut saya berbeda dibanding karya seniman lain waktu itu. Memang ada seniman lain yang karyanya serupa dengan karya Faizal, tetapi saya lebih tertarik pada karya Faizal,” katanya.

Faisal, menurut Agung Tobing, memiliki keinginan yang kuat untuk mencari hal-hal yang baru demi menerobos hal-hal yang usang. Kini, Faizal kembali menjadi pusat perhatian setelah menghilang beberapa lama.

Maklum, pada era 1990-an, ia dikenal sebagai perupa yang emerging artist (seniman yang meroket). Karyanya yang bergaya naif banyak diburu dan diminati para kolektor. Kalaupun ia sangat produktif kala itu karena meniru semangat para dosennya di ISI Yogyakarta.

“Orang yang mendorong saya untuk selalu berkarya adalah Nyoman Gunarsa dan Widayat. Saya kagum karena meski beliau-beliau sudah tua, tetap produktif. Mosok kita yang muda kalah produktif,” ujar Faizal yang tak lulus dari ISI.

Konsep Ringan
 
Menurut Oei Hong Djien (OHD), lukisan Faizal pada waktu itu sangat digemari para kolektor, meski aspek visualnya termasuk baru di Indonesia. Ini karena, OHD melanjutkan, karyanya lebih mudah ditangkap dan dicerna serta konsepnya ringan, yakni dunia anak-anak. Faizal juga dinilai seorang colorist yang berbakat menggunakan warna-warna yang harmonis.

“Warnanya cerah atau pastel. Tak pernah gelap atau murung. Ia menggunakan cat akrilik dan lukisannya selalu ceria, kadang melankolis. Rasa estetisnya juga tinggi sehingga lukisannya mempunyai daya pajang yang bagus,” tutur Hong Djien.

Lantas, apa yang ditawarkan Faizal ketika kembali memasuki dunia perhelatan seni rupa? Kuss Indarto, kurator pameran ini mengungkapkan, ada substansi karya yang beringsut cukup mendasar yang diketengahkan kali ini ketimbang artefak karya yang telah terpapar dan diingat betul oleh publik selama ini.

Dengan kata lain, Faizal mencoba mengayakan problem gagasan karya dengan tema-tema yang lebih beragam.

“Kalau selama ini tema-tema karyanya sangat personal, apalagi pada periode awal dasawarsa 1990-an yang temanya sangat egosentris. Dalam kesempatan ini, tema tersebut berkurang, meski tidak hilang sama sekali,” ucap Kuss.

Kuss lantas menyebut ada tema Buddha, soal penyaliban, hingga lukisan panjang serta patung tentang “apropriasi” atas karya “The Last Supper”-nya Leonardo Da Vinci.

Faizal, Kuss melanjutkan, juga menampilkan dua mobil kuno merek Morris Ten 1951 dan Ford 1950 yang dilukis dengan gaya khasnya. Kuss menegaskan, karakter karya Faizal adalah karya seni yang penuh kegembiraan seperti tema-tema keluarga yang menarasikan tengah berwisata, berdansa, dan lain sebagainya.

“Ini memperlihatkan aspek bangunan spiritual sang seniman yang tampak sangat dihidupi oleh kehadiran keluarga,” tutur Kuss.

Apa yang diungkapkan Kuss dibenarkan Faizal. “Karya-karya saya rata-rata terinspirasi dari anak-anak dan keluarga saya,” kata Faizal.

  Sumber : Sinar Harapan