Thursday, March 19, 2015

Affandi Teles (Basah)



Foto: Lukisan abal-abal yang seolah-oleh karya maestro Affandi

Lukisan bodong a.k.a. bagongan alias aspal (asli tapi palsu) masih saja beredar di Indonesia. Tampaknya ini sulit berhenti karena nyaris tidak ada persoalan/pihak yang dikasuskan secara hukum, dan—celakanya—didukung oleh “mafia” yang memilki jejaring kerja rapi, banyak pendukungnya, dan punya kekuatan modal besar. Lukisan karya Affandi adalah salah satu yang paling banyak ditiru dan dimirip-miripkan seolah dibuat oleh sang Maestro itu, dan kemudian masuk dalam art market—entah pasar berkelas ecek-ecek, maupun kelas yang tidak sembarangan. Maksudnya, kelas yang berlatar belakang ekonomi tinggi, namun pengalaman dan pengetahuan seninya minim serta belum teruji.


Dalam jaringan para pemalsu dan pengedar lukisan aspal, ada istilah “Affandi teles” atau “Affandi basah”. Ini mengacu pada fakta bahwa lukisan aspal yang dibuat dengan meniru gaya, ekspresi dan corak visual seniman Affandi itu relatif baru. Karena baru dibuat, maka kondisi cat lukisan Affandi itu masih basah. Lho, bukankah lukisan yang siap beredar di pasar itu mestinya sudah kering?

Tunggu dulu! Lukisan seperti yang ada dalam foto di atas kondisinya terlihat kering hanya di lapis luar saja. Cat-cat yang seolah dipelototkan dengan ekspresif dan tebal-tebal seperti gaya ketika Affandi melukis, sesungguhnya belum kering secara total.

Cara mengeceknya adalah dengan mengambil jarum, lalu tusukkan ke bagian-bagian yang bercat tebal. Tarik kembali jarum tersebut. Silakan cek tubuh jarum itu. Kalau masih terlilit warna cat, berarti lukisan itu dijamin aspal atau abal-abal. Logikanya, bagaimana mungkin Affandi yang meninggal tahun 1990 (25 tahun lalu), kok masih meninggalkan lukisan dengan cat yang masih basah? Pelototan cat minyak yang tebal-tebal seperti yang dilakukan oleh Affandi, memang perlu waktu lama untuk betul-betul kering. Untuk konteks Indonesia yang tropis dengan kisaran suhu harian antara 23-29 derajat Celcius (maaf kalau saya keliru detil angka ini), cat-cat tebal Affandi bisa betul-betul kering sekitar 1,5 tahun. Mungkin malah bisa kurang dari itu.

Jadi, dari aspek basah atau keringnya karya tersebut Anda bisa mengantisipasi, apakah karya lukis (seolah-olah) Affandi ini asli atau “asu” alias abal-abal. Ini, tentu, kalau Anda betul-betul ingin menjadi kolektor karya Affandi. Selamat memerangi pemalsuan karya seni rupa!