Sunday, April 19, 2015

Berkarya dengan Jiwa



Oleh Kuss Indarto

SEKITAR 23 tahun lampau, pengamat seni Sanento Yuliman dengan runtut menuliskan sebuah catatan penting di majalah Tempo (edisi Januari 1992) dengan tajuk “Seni Rupa Atas, Seni Rupa Bawah”. Salah satu poin pentingnya adalah pemilahan antara dua hal. Pertama, “seni rupa atas” atau high art yang ditengarai sebagai seni rupa yang dalam kelahiran dan pertumbuhannya sangat dipengaruhi faktor yang memancar dari negeri berindustri maju, yakni faktor informasi dan konsumsi. Ia berkait dengan pertumbuhan lapisan atas dan menengah masyarakat kita di kota besar, dan sebagian hasilnya berupa produk eksklusif untuk pasar eksklusif. Pada pilahan ini, seni lukis dan seni patung modern yang disebut-sebut oleh kaum terpelajar, masuk di dalamnya. Begitu pula desain, dan lainnya.

Sementara hal kedua, “seni rupa bawah”, diidentifikasi sebagai seni rupa yang produksi, distribusi, dan konsumsinya berlangsung di lapisan sosial bawah dan menengah (menengah bawah), bertalian dengan ekonomi dan taraf hidup rendah, serta teknologi yang sederhana. “Lukis kaca”, “lukisan jalanan”, lukis tobong becak, dan berbagai kerajinan diandaikan masuk dalam pilahan ini. Pendeknya, “seni rupa bawah” ini berhubungan dengan tradisi meskipun cara dan sifat hubungan itu bermacam-macam.

Catatan tersebut memancing polemik panjang, sekaligus mengayakan perbincangan dunia seni rupa. Apalagi Sanento justru memberi penolakan dan cercah solusi atas tengara “seni rupa atas” dan “seni rupa bawah” tersebut. Barikade di antara keduanya diretas, dilebur, dan coba diingkari seiring perkembangan di tingkat praksis dan teoritik dalam seni rupa dunia. Seperti kita sadari, dunia seni rupa modern yang mengenal dengan tegas batas-batas pengkotakannya (seperti kotak seni lukis abstrak, kotak realisme, dan sebagainya) “diruntuhkan” oleh ideologi seni rupa kontemporer yang “anything goes” (apapun bisa)—yang memotong kotak-kotak tersebut. Dari situlah, kemudian, batasan “seni rupa atas” dan “seni rupa bawah” tersingkir.

Seni rupa kontemporer juga mengabaikan problem orisinalitas. Ini bisa dipahami karena dewasa ini, segala hal di dunia tak ada lagi yang orisinal. Ini sah, namun juga berisiko, karena di luar problem orisinalitas, sebenarnya ada hal lain yang ada dalam inner feeling seniman, yakni otentisitas diri. Misalnya, seorang seniman bisa saja meniru corak dan kecenderungan visual seniman lain—bahkan lebih bagus visualitasnya. Namun, itu tereduksi ketika sebuah karya hanya berhenti di titik eksotika gambar semata, tanpa memberi muatan (substansi) di baliknya. Karya seni rupa (= lukisan) bisa indah pada visualitasnya, wadag-nya, wujud luarnya, namun belum tentu memiliki kedalaman estetika yang melampaui ke-wadag-annya tersebut. Ini, lagi-lagi, menyangkut soal otentisitas yang dimiliki oleh seorang seniman—yang melampaui problem orisinalitasnya.

Bagi beberapa kalangan, problem “seni rupa atas” dan “seni rupa bawah” itu—entah secara serius atau sekadar guyonan—justru muncul dengan mengaitkan soal otentisitas tersebut. Seniman dengan karya yang mengedepankan otentisitas inner feeling-nya bisa dikatakan sebagai penghasil “seni rupa atas”, ketimbang seniman yang hanya meniru atau kehilangan karakter kedalaman jiwanya. Ini tak jauh-jauh dari masalah jiwa ketok” (jiwa yang nampak) bagi seniman dalam berproses kreatif seperti yang dilontarkan oleh maestro S. Soedjojono puluhan tahun silam. Atau dalam bahasa lain, lewat karya seni, seorang seniman diandaikan bisa memuntahkan soulscape-nya, “pemandangan jiwanya”. Bukan sebagai peniru tanpa jiwa. Ini menyangkut soal kejujuran seorang seniman sebagai kreator terhadap diri dan karyanya. Sementara secara sosial, kita bisa mengandaikan seniman memiliki tanggung jawab tambahan lainnya, yakni berkomitmen untuk berusaha senantiasa menampilkan titik beda ketimbang karya perupa lain, atau bahkan dengan karya sendiri sebelumnya. Upaya untuk menampilkan another form and substance of art(s) bisa menjadi landasan cara berpikir dan bertindak.

Pameran ini, saya kira, memang memiliki relativitas dalam soal olah kreativitasnya. Semua penonton bebas untuk memberi apresiasi, penilaian, sikap atau opini apapun atas hasil olah karya. Namun, bagi sang seniman sendiri, seyogyanya berupaya keras untuk mengejar dan mempertontonkan karakter dirinya sendiri. Bukan merobotkan diri, apalagi menyingkirkan jiwanya sendiri. Ini PR (pekerjaan rumah) kita bersama. ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa, editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id

(Catatan ini dimuat dalam leaflet pameran "The High Art Never Lies, di Banyu Bening House of Painting, Borobudur. Pameran berlangsung mulai 18 April 2015, berlangsung selama 3 minggu)