Saturday, April 25, 2015

Memborobudur


AKHIRNYA, kami sekeluarga bisa bertandang ke candi Borobudur kemarin, Minggu Pon, 19 April 2015. Kesempatan sebelumnya hanya sampai ke candi Mendut, atau hingga di parkiran, karena hujan deras mengguyur bangunan abad ke-8 itu. Dua anak kecil kami yang saya duga akan banyak "merepotkan" karena minta gendong, ternyata justru sebaliknya, tampak merasa nyaman berjalan bertahap dari level terendah hingga paling tinggi.

Di sela momong anak dan istri di situs kebanggaan Nusantara itu, ada yang bisa diamati dari beberapa perilaku sebagian (besar?) pengunjung yang "menziarahi" Borobudur pada waktu yang bersamaan:

(1). Banyak pengunjung yang berebut naik tangga untuk mengambil "jalan lurus" atau "jalan pintas" langsung menuju stupa besar di ujung atas candi. Kami yang mencoba bertahap menyusuri jalur level rupadhatu hingga arupadhatu yang penuh relief dengan narasi luar biasa itu, justru "kesepian" tapi sekaligus nyaman karena tak banyak orang merambah ke situ. Kalau toh ada, kebanyakan adalah (rombongan) bule yang takzim mendengar penjelasan tentang relief itu dari pemandu wisata.

Pikiran "negatif" saya langsung terlintas: "Ya ngapain susah-susah memutar-mutar melihat relief itu? Langsung aja cari enaknya di level atas ya? Ah, mungkin "budaya main terabas" itu lebih mengasikkan dan tidak melelahkan ketimbang "sok cinta sejarah" begini ya? Hehehe.

Dugaan saya yang lain, tidak ada tanda atau pemanduan yang bisa mempersuasi pengunjung untuk menyusuri jalur-jalur berelief tersebut. Apalagi untuk jalur di level kamadhatu, posisinya begitu tersembunyi dan lebih tidak persuasif sehingga tidak meyakinkan bagi pengunjung untuk merambah.

(2). Di banyak bagian dan tubuh candi yang relatif rapi, selalu saja ada/banyak pengunjung yang nekad membuang sampah sembarangan, bukan pada tempat yang sudah disediakan. Apalagi di seputar stupa, alamak, tebaran sampah langsung mencolok mata. Ini memang perkara kultur yang butuh puluhan tahun, bahkan berabad-abad baru bisa hilang.

Saya teringat saat berkunjung ke situs candi tua di Sukhothai, Thailand setahun lalu. Di sekitar candi itu, petugas kebersihan berdiri di beberapa sudut, dan dengan cekatan langsung mencomot sampah yang dibuang wisatawan. Aksi petugas itu seperti "shock therapy" kecil-kecilan karena membuat pengunjung malu untuk membuang sampah.

(3). Perilaku lain yang dalam jangka panjang akan merugikan bangunan candi Borobudur adalah pengunjung yang duduk atau bahkan memanjat stupa tertinggi. Kebanyakan karena ingin "selfie". Beberapa petugas di situ berkali-kali saya lihat tampak mengingatkan pengunjung yang sengaja melanggar aturan. Tapi pelanggaran selalu terjadi dalam menit berikutnya. Dalam penglihatan saya, petugas memang masih "baik hati", tidak keras.

Saya rasakan perbedaan ini ketika, misalnya, melihat ketegasan petugas saat berkunjung di Taj Mahal, Agra, India. Mereka sampai berteriak keras, mata melotot (tampang India, bro!), untuk mengingatkan pengunjung agar tidak melanggar. Ini serupa dengan yang terjadi kalau kita berkunjung ke istana kerajaan Thailand di Bangkok. Keras sekali para petugasnya. Demikian pula di museum-museum di Eropa. Mereka tampak bertanggung jawab untuk keamanan artefak penting yang menghasilkan devisa bagi negara itu. Dan itu tampaknya menular menjadi kedisiplinan bagi banyak pengunjung di sana. Lha, masalahnya, apa kita rela kalau harus dikerasi oleh petugas yang juga bangsa sendiri? Halah, pasti berkelahi deh, hahaha...

Ya, Borobudur, juga situs penting kebanggaan kita seperti candi Prambanan, dan lainnya, pasti akan terus dikunjungi oleh banyak orang kalau bersih, nyaman, dan aman. Tidak nyampah atau pesing yang bikin mual, dan lainnya. Ya, ini sih kalau kita mau mengejar ketertinggalan.

Kita betul-betul sudah ketinggalan. Bandingkan dengan Malaysia yang tiap tahun sudah dikunjungi oleh lebih dari 20 juta turis asing. Thailand, Kamboja, Singapura, masing-masing dikunjungi oleh belasan juta turis pertahun. Indonesia masih empot-empotan, baru dikunjungi oleh sekitar 6-7 juta pertahun.

Kurang apa kita coba? Alam kita luar biasa. Warisan budaya kita berkelas dunia. Tapi, eh, kurang bersih, kurang tertib, kurang peduli, kurang banyak belajar, kurang banyak deh pokoknya. Ini aku lagi becermin bagi aku sendiri kok. Ngaca, ah! :-) ***