Tuesday, November 01, 2016

Indarto Agung Sukmono, Finalis Kompetisi Lukis UOB 2016




Drawing karya Indarto Agung Sukmono.

Catatan Kuss Indarto

SALAH satu finalis Kompetisi Seni Lukis UOB 2016 adalah Indarto Agung Sukmono. Dia kelahiran Sragen tahun 1969, studi seni rupa di ISI Yogyakarta antara 1988-1994, dan seusai lulus hingga kini menetap di Kudus, Jawa Tengah. 20-an tahun dia bekerja dan berkesenian di kota pesisir utara pulau Jawa itu. Ini pilihan yang tak mudah karena dia tak lagi bisa berproses kreatif dengan percepatan yang tinggi dengan menemu kebaruan yang terus-menerus seperti ketika menetap beberapa tahun di Yogyakarta. Tak banyak rekan yang bisa ber-sparing partner secara kreatif.

Maka, sebuah pencapaian yang mengejutkannya ketika tahun 2015 lalu namanya mencuat sebagai peraih gelar kehormatan Juara 2 kompetisi seni rupa Indonesia Art Award 2015 (yang disponsori oleh perusahaan rokok Gudang Garam). Namanya menyeruak di antara barusan nama seniman yang berproses kreatif di kota-kota penting “produsen” seniman terpandang Indonesia, yakni kota Yogyakarta dan Bandung. Ya, dia dari kota yang relatif tak diperhitungkan kekuatan seni rupanya: Kudus. Kali ini, kembali namanya menyembul di antara 47 finalis Kompetisi Seni Lukis UOB 2016. Ini hasil seleksi ketat yang mengerucutkan sekitar 700-an nama yang memproposalkan 1.200-an karya. Sebuah pencapaian yang tidak main-main, meski belum masuk di posisi puncak—setidaknya Empat Besar, itu sudah cukup sebagai pembuktian.

Karya jagoannya yang diadu itu berupa himpunan 8 gambar atau drawing yang diberi tajuk besar “Balada Si Pohon”. Ada 8 drawing yang masing-masing berukuran 33,2 x 26 cm. Tampak sekali bahwa tiap karya dibuat dengan intensi dan kecermatan tinggi, untuk mengalih-ubah realitas faktual yang ditangkapnya lewat mata dan rana dan kemudian menjadi fakta artistik berupa gambar yang diguratkan dari batang pulpen. Proses ini menjadi bagian penting dari posisinya sebagai warga sebuah kawasan di Kudus, sekaligus “menjubahi” dirinya sebagai seorang penyaksi atas perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Ya, matanya adalah kamera sosial yang kemudian ditularkannya pada tangan yang bergerak menyalin realitas tadi dalam kepekaan artistik.

Karya “Balada Si Pohon” ini menjadi buah tangan atas upayanya menelisik “data” dan fakta yang ditemuinya di lapangan, di lingkungan tempat dirinya hidup. Meski tidak semua drawing itu menggambarkan subyek secara khusus, namun banyak hal yang bisa ditimba dari hasil “jepretannya”. Karya ini serupa kilasan dokumentasi visual (bahkan bisa jadi dokumentasi sosial) atas tebaran fakta dan realitas yang ada. Karya yang diposisikan paling kanan-bawah menggambarkan tentang pohon kuda. (Ah, sayang tak dijelaskan nama lokal varietas tanaman tersebut, juga nama Latin-nya). Pun ada gambar yang mengisahkan tentang teduhnya pohon Kamboja (gambar bawah, ketiga dari kiri). Ada sosok laki-laki tua berbaju putih lengan panjang dan berpeci terpapar dalam karya ini. Indarto seperti tengah mengukuhkan identifikasi atas pohon Kamboja ini sebagai pohon yang lazim ditanam dan berada di sebuah pemakaman, dan tubuh laki-laki itu mungkin hadir untuk berziarah. Tentu ini tafsir yang hanya bisa dipahami secara parsial oleh orang yang menetap di Jawa, mungkin juga di kawasan lain di Nusantara.

Ada pula gambar yang menarasikan ihwal sebuah sendang atau kolam pemandian yang lazimnya ada mata air besar di dalamnya. Widodari nama sendang tersebut (gambar bawah, kedua dari kiri). Sendang ini terletak di desa Menawan, kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Berada di antara rimbunan pohon besar dan perkebunan warga sehingga terkesan sepi dan sakral. Airnya yang jernih digunakan oleh penduduk sekitar untuk keperluan sehari hari. Seperti namanya, sendang ini dikaitkan dengan bangunan kisah dalam legenda populer tentang Joko Tarub dan para bidadari.

Lalu tampak gambar dengan subjudul “Harmoni” (lihat gambar bawah, paling kiri). Pemandangan ini hampir setiap hari disaksikan oleh Indarto karena hanya berjarak beberapa meter dari tempat penitipan motor dimana dirinya setiap hari menitipkan dalam parkiran kendaraan. Pemandangan ini membuat seniman ini kagum karena sungguh langka saat ini dimana sebuah rumah dibiarkan ditumbuhi pohon-pohon dengan demikian alami.

Di samping itu ada karya yang bersubjudul “Teronggok” (gambar atas, paling kanan) yang menggambarkan tentang tumpukan sekumpulan rerantingan pohon. Sebuah pemandangan yang lazim terlihat dalam keseharian di desa, dan menjadi begitu menarik ketika kini dikerangkai secara artistik oleh Indarto.

Tergambar juga di sini Sumur Tulak (lihatlah gambar atas, paling kiri). Pohon besar yang terletak di desa Krapyak ini dikeramatkan warga sehubungan dengan mitos sumber air yang bertuah. Sebenarnya hanyalah sumur kecil dan tidak dalam yang letaknya di sebelah selatan pohon. Kemudian ada Sendang Bulusan (gambar atas, nomer dua dari kiri). Adalah frame pertama dari seri Kisah Pohon. Adalah respon saya  terhadap petilasan Kyai Dudo di desa Hadipolo kecamatan Jekulo Kudus. Terkait dengan mitos jelmaan murid sang kyai yang menjadi binatang Bulus atau kura kura. Bulus rupanya menjadi binatang yang akrab dalam legenda masyarakat Jawa bahkan menempati posisi khusus seperti patung kura kura besar di candi Sukuh, Karanganyar.

Karya Indarto ini terseleksi dalam 30 Besar karya terpilih atau finalis Kompetisi Seni Lukis UOB 2016. Kalau hendak lebih jauh dikuliti, ada sekian banyak narasi yang terbentuk dari pengamatan atas karya menarik ini. Dan ini juga akan melahirkan tafsir-tafsir yang makin mengayakan karya. Sayang sekali memang kalau seniman yang terus mendinamisasi diri ini tak diserap pencapaiannya di lingkungan sendiri. Seniman seperti ini layak untuk dipantau terus pergerakan kreativitasnya, dan diberi forum yang memadai. ***