Thursday, March 01, 2018

Bernas Berpulang

Berita duka itu datang. Surat kabar harian Bernas—awalnya bernama Berita Nasional—yang lahir dan tumbuh di Yogyakarta, akhirnya menemui ajal dalam usia 72 tahun. 1 Maret 2018 ini Bernas resmi tutup usia, dan secara pelahan beralih ke format digital. Gerak zaman dengan segenap kebaruan dan dinamikanya telah mengeremus segala hal yang dianggap lampau. Dan kematian, seperti yang terjadi pada harian Bernas—apa boleh buat—adalah sebuah keniscayaan yang tak terelakkan. Semua media cetak di dunia, tak terkecuali, mengalami guncangan berat setelah era internet muncul dengan segala kepraktisan dan kelekasannya dalam mengirim informasi—jauh lebih lekas ketimbang media cetak konvensional.

Harian Bernas, bagi saya, meninggalkan jejak ingatan yang tak lekang oleh sekian banyak gulungan waktu. Saya pernah bergabung di dalamnya selama 10 tahun—resmi masuk mulai 10 Juni 1991 hingga mengundurkan diri pada 1 April 2001. Ketika itu saya menjadi editorial cartoonist dan ilustrator yang setidaknya seminggu 2 kali membuat editorial cartoon (lebih populer sebagai karikatur) dan sekali membuat ilustrasi cerpen untuk edisi Minggu. Sebetulnya malah lebih dari itu karena ada beberapa rubrik yang menuntut ada ilustrasi manual sehingga saya harus stand by tiap hari di kantor, terutama mulai sore hingga tengah malam sebelum disain koran difilmkan lalu dicetak.

Dengan aktivitas dan rutinitas itu, pasti, risiko muncul. Saya mengawali bekerja di Bernas saat masih duduk di semester 3 Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta. Masih imut-imut. Masih nggaya dengan tampilan sok seniman: rambut gondrong awut-awutan, celana jins belel dan di bagian lutut sengaja disobek hingga bolong tak beraturan, dan memakainya hingga berminggu-minggu tanpa dicuci. Pun dengan kaos yang dipotong sekenanya di bagian lengan dan kerah. Pokmen njijiki pol kae, hahaha...

Risiko yang muncul ketika memutuskan bekerja saat itu adalah kesulitan untuk berbagi waktu antara bekerja dan kuliah. Itu problem klasik. Beberapa minggu setelah bekerja, saya diminta oleh salah seorang dosen senior, pak Drs. Sun Ardi SU (almarhum), untuk datang ke rumah beliau di bilangan Parangpuluhan. Dari perbincangan berjam-jam itu, kalimat menohok yang dilontarkannya masih kuingat, kurang lebih seperti ini: “Kuss, pasti kamu akan terlambat merampungkan kuliah. Tak mungkin tidak. Tapi pastikan bahwa kamu harus bisa lulus.” Benar kata-kata beliau. Akhirnya saya baru lulus setelah kartu mahasiswa saya berjumlah 20 buah, atau setelah 10 tahun. Itu pun lulus Ph.D (Pas hampir Di-DO).

Risiko yang lain pasti banyak. Tapi saya berusaha keras untuk memberinya dengan kerangka positif karena pasti tak ada yang sempurna di dunia. Bagi saya yang waktu itu masuk kerja tapi masih berstatus mahasiswa juga nyaris tanpa banyak beban. Hobi dan minat saya tersalurkan dengan relatif baik. Apalagi dapat upah. Gaji pertama saya Rp 180.000 plus uang makan Rp 900/hari, ya, sebulan dapat sekitar Rp 200.000,-, sudah cukup untuk ukuran mahasiswa miskin seperti saya yang hidup di Yogyakarta kala itu. Uang SPP Rp 90.000/semester, sekali makan sekitar Rp 1.000-Rp 1.500 (sudah dapat telur plus teh manis), gaji itu sudah cukup. Malah bisa kemlinthi beli beberapa buku atau pil koplo, hahaha…

Lebih dari soal angka-angka rupiah itu, ada banyak pembelajaran dan pengalaman hidup yang saya dapatkan di situ. Di kantor, rekan-rekan kerja datang dari berbagai latar belakang yang sangat beragam, entah suku, agama, geografis, hingga latar belakang pendidikan dan disiplin ilmunya. Ini sangat menguntungkan bagi pengayaan batin. Dalam praktik menggambar pun saya tak bisa gegabah membuat visualisasi tanpa mengerti atau memahami latar belakang persoalan. Maka, ketika menghadapi kasus tertentu yang akan digambar, mau tak mau saya harus berdiskusi dengan teman sekantor yang latar belakangnya pas dengan suatu kasus tersebut. Setelah cukup paham, barulah saya menggambar. Begitu seterusnya.

Lama kelamaan, lingkungan dan atmosfir kantor mempersuasi saya untuk terus nge-charge otak. Sebagai tukang nggambar, saya tak bisa hanya waton (asal) nggambar, tapi harus memiliki visi atas apa yang harus digambar. Maka muatan dalam gambar sebisa mungkin ada, bahkan bervisi dan bermisi. Tuntutan itu menggiring saya untuk banyak-banyak membaca. Apapun taka da salahnya untuk dilahap. Yang penting minat dan ada rasa senang atas bacaan-bacaan itu. Bahwa itu tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang saya tuntut, ya prek-lah, itu tidak penting.

Di kantor saya juga cukup rajin nimbrung dalam diskusi atau obrolan tidak formal atas berbagai isu yang tengah aktual. Entah dengan sesama rekan sekantor, atau sesekali bersama para intelektual atau penulis yang datang ke kantor untuk mengirimkan tulisan opininya. Para penulis itu kadang menyempatkan diri untuk ngobrol berlama-lama, dengan segala persoalan yang menjadi disiplin ilmu mereka. Lagi-lagi, itu secara pelahan, meski sedikit, mampu menjadi asupan nutrisi pengetahuan bagi saya. Itu keberuntungan yang tak ternilai ketika saya ngantor di Bernas.

Satu persatu saya jadi tahu atau kenal dengan para intelektual dan penulis muda atau cukup muda (waktu itu) yang sesekali membagi pencerahan lewat kiriman tulisan opininya ke Bernas, mulai dari Faruk HT, Heru Nugroho, Pujo Semedi, Nirwan Ahmad Arsuka, Budiawan, Made Toni Supriatma, Ngatawi Al Zastrouw, Aprinus Salam, Kris Budiman, Hairussalim, Yayan Sopyan, Adi Wicaksono, Agus Noor, Arie Sudjito, Arie G. Dwipayana, Aloysius Wisnuhardhana, Nadjib Azca, dan sekian banyak nama lain. Pun dengan banyak sosok yang menjadi punggawa di internal Bernas, mulai dari yang menjadi redaktur tamu seperti Butet Kertaradjasa, Indra Tranggono, Emha Ainun Nadjib, Rizal Mallarangeng, hingga mereka yang sempat jadi karyawan tetap, mulai dari para senior: Kuskrido Ambardi, Anggit Nugroho, Agoes Widhartono, Krisno Wibowo, Farid Wahdiono, Herry Varia, hingga yang masuk belakangan setelah saya: R. Toto Sugiharto, Dwi Kusnanto, Soni Rosari, Susi Ivvaty, dan lainnya. Lewat tulisan atau berdikusi langsung, sedikit banyak mengetahui pikiran-pikiran mereka yang menambal pengetahuanku.

Banyak pengalaman saya dapatkan di Bernas, saat kantor redaksi harian ini berada di pusat kota Yogyakarta, yakni di Jalan Jendreal Sudirman no. 52, persis bersebelahan dengan toko buku Gramedia. Terlebih lagi ketika harian ini berjaya ketika rezim Orde Baru sedang kuat-kuatnya menguasai republik ini. Bernas terbilang sebagai koran yang berani menampilkan berita atau opini yang cukup keras untuk ukuran waktu itu. Mungkin itu bagian dari kanalisasi atas kebijakan internal harian Kompas yang relatif konservatif, maka “anaknya”, ya harian Bernas, menjadi saluran atau ruang untuk meneriakkan suara kritis terhadap penguasa dengan lebih lantang. Apalagi di jajaran redaksinya banyak diawaki oleh orang-orang yang cukup muda, idealis, maka content Bernas kala itu relatif lebih galak, kritis, dan berani—misalnya bila dibandingkan dengan kompetitornya yang satu kota, yakni harian Kedaulatan Rakyat yang dianggap konservatif dan cari aman.

Jadi tak heran kalau para petinggi Bernas waktu itu tidak jarang mendapatkan telpon atau panggilan oleh penguasa di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah karena memuat berita atau opini yang dianggap rezim Orde Baru telah “berpotensi mengganggu ketertiban dan ketenangan masyarakat”. Misalnya, karena Bernas memuat berita tentang pesawat latih TNI AU. Itu dianggap sebuah “pelanggaran” meski faktanya memang pesawat yang dibeli dengan uang rakyat itu betul-betul jatuh saat berlatih. Atau demo sekelompok petani yang tanahnya diserobot paksa oleh militer untuk perluasan pangkalan. Ketika ditulis sebagai berita, meski hanya satu-dua alinea, langsung membuat penguasa militer di Jawa Tengah marah besar. Pimpinan redaksi Bernas dipanggil dan diinterogasi seharian penuh seperti laiknya pelaku kriminal yang kepergok melakukan kejahatan.

Begitulah. Bernas pada zamannya sempat menjadi teman seiring bagi para aktivis kampus, pegiat LSM dan para intelektual muda idealis untuk menyuarakan pentingnya demokratisasi dalam perikehidupan berbangsa. Secara mutualistik mereka menyadari bahwa gerakan rakyat juga butuh corong penting bernama media massa, dan Bernas menjadi salah satu corong penting untuk itu di kawasan Yogyakarta.

Di sisi lain, Bernas juga menjadi salah satu ruang penting untuk menyemai bibit pikiran penting dari para intelektual muda dan menyebarkannya pada publik. Ketika menulis di harian Kompas sangat selektif, mengirim ke harian Kedaulatan Rakyat redaksinya tidak berani memuat, maka salah satu solusinya solusinya pikiran progresif para intelektual muda itu disemai lewat halaman opini harian Bernas. Salah seorang di antara mereka adalah mas Budiawan (yang kini telah menjadi doktor sejarah lulusan National University of Singapore). Dengan nada bergurau dia pernah bilang bahwa: “Aku ini termasuk Angkatan 75 Bernas. Maksudnya deretan penulis yang honornya Rp 75.000,-).

Meski secuil, harian Bernas telah ikut menandai zaman di lingkungannya sejak 72 tahun lalu. Saya pernah ikut menjadi sekrup kecil di dalamnya—dengan segala dinamikanya—tahun 1991, setahun setelah harian ini masuk dalam manajemen harian Kompas. Kalau hari ini, 1 Maret 2018, para ahli waris dan pengelolanya telah melempar handuk putih untuk menyerah pada kehendak zaman, itu juga bagian dari tanda zaman yang tak lagi “mengizinkan” surat kabar harian untuk bertahan dengan manajemen yang ala kadarnya, dan tentu, oleh karena sergapan teknologi informasi yang mematikannya.

Sugeng tindak. Sejalan jalan. Terima kasih, Bernas, yang telah menjadi bagian dari perjalanan saya untuk berproses. Semoga menemu ketenangan dan kemuliaan di haribaanmu. Kalau toh berniat mereinkarnasi, hiduplah dalam keseriusan ya! ***