Tuesday, May 29, 2018

Lapang


Saya lahir dan melewati sebagian masa kanak-kanak di asrama Brimob Baciro, kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta. Perihal nama-nama tempat tersebut baru saya ketahui bertahun-tahun kemudian.

Kata Yogyakarta, menurut sebagian orang, berarti kota yang baik. Karta berarti kota. Yogya, sesekali dipakai untuk menyepadankan dengan kata baik, yakni "seyogyanya" yang berarti "sebaiknya". Secara subyektif saya setuju dengan pendapat tersebut. Setidaknya saya jauh lebih betah menetap di Kota Baik ini ketimbang kota lain. Untuk nama kecamatan Gondokusuman, mungkin memiliki asal-usul menarik meski sayang tak saya ketahui. Secuil yang saya ketahui, "gondo" itu aroma dan "kusuma" itu bunga atau bebungaan. Mungkin di salah satu kawasan di situ, dulu, ada sebuah lahan luas yang penuh tanaman bunga dengan penuh aroma.

Lalu, apa itu arti kelurahan Baciro? Setelah puluhan tahun, baru saya ketahui ada satu kata Jawa Kuno atau Kawi yang dugaan kuat saya mengarah ke nama kelurahan saya itu, yakni kata "bacira" yang artinya tanah lapang. Adakah relasi faktual atas kata itu? Saya hanya bisa mengingat masa kecil dulu, dasawarsa 70-an, yang sesekali bermain sepakbola di sebuah pelataran luas bertanah rata. Pelataran itu berbataskan pemakaman dan dua atau tiga jelujur jalan tanah yang kerontang dan berdebu bila kemarau.

Bertahun-tahun kemudian, setelah berpindah ke kota lain, dan sempat menengok kembali masa kecil, pelataran luas itu sudah berubah. Di situ telah berdiri stadion Mandala Krida, stadion terluas dan termegah di Yogyakarta waktu itu--mungkin juga hingga kini. Saya ingin mencoba mengonfirmasi bahwa pelataran luas itu adalah tanah yang begitu lapang yang diduga membuat daerah itu kemudian diberi identitas sebagai Baciro, dari kata Bacira.

Kenapa jadi Baciro, dan bukan Bacira? Nah, kemungkinan ini menyangkut "kearifan lokal" dari problem lidah orang Yogya "asli" (kata asli pasti akan debatable). Orang Yogya memiliki kekhasan tersendiri untuk mengucapkan huruf vokal antara A dan O. Huruf A kedua pada kata "Bacira" tidak diucapkan sebagai A yang tegas, tapi berbunyi antara A dan O. Dari sinilah, mungkin, kata Bacira lama kelamaan dituliskan secara "keliru" menjadi "Baciro". Ini seperti kata (kota) Sala yang kini lebih populer menjadi Solo. Atau kata-kata "landa" menjadi "londo" untuk menyebut orang bule atau "belanda".

Perihal penulisan A jadi O itu pasti akan menemui masalah pada kata-kata tertentu. Misalnya bila kata "lara" (artinya sakit) dituliskan sebagai "loro" (artinya dua). Atau kata "bada/bakda" (lebaran) dituliskan "bodo/bodho" yang artinya bodoh. Begitu seterusnya.
Jadi begitulah. Nama sebuah kawasan di Yogyakarta atau di daerah lain relatif bertumpu pada fakta atau realitas yang ada di dalamnya. Dinamakan kampung Gayam karena dulu di situ banyak tumbuh pohon Gayam. Bernama kampung Klitren karena di situ dulu menjadi tempat tinggal para pekerja atau kuli train (kereta api). Dan bernama Baciro karena di situ ada tanah lapang. Atau penduduknya berhati lapang seperti yang nulis setatus ini? Boleh, boleh! 😃 

**Selo, eh sela nunggu buka puasa.**