Saturday, January 13, 2007

"(P)leasure" ala Bupati Bantul


Sabtu pagi ini aku dan beberapa teman seniman ketemu Pak Idham Samawi, Bupati Bantul. Intinya sih mo nglaporin perhelatan Festival Segara Kidul akhir tahun kemarin yang lumayan berhasil, dan mediasi ke publik lumayan bagus. Bupati pun salut dan sependapat. Kecuali acara pak Djoko Pekik, pelukis satu miliar rupiah itu, yang gagal. Lihatlah siluet aut wajah kecewanya di foto sebelah ini hahahahaha! (Sadis amat ya komentarnya).

Tapi obrolan resmi dengan bupati justru menyita waktu yang cukup singkat. Malah sebagian besar waktu pertemuan berjalan santai banget. Pak Idham malah crita banyak soal hobi mancing di Segara Kidul (Samudra Hindia) yang berombak besar. Pengalaman "heroiknya" ya saat mendapat ikan tengiri seberat 26 kilogram. Sementara seorang lurah yang diajak mancing malah sibuk muntah-muntah karena hemasan ombak besar hingga membuat wajah sang Lurah pucat bagai kertas HVS.

Juga cerita keterlambatan Pak Idham ketika menemui kami karena, katanya, dari pagi sudah menerima 26 tamu dengan 26 masalah. Antara lain ada tamu suami istri yang minta pekerjaan sementara mereka adalah seorang insinyur dan dokter! Lalu seorang ibu pegawai PNS yang minta nasihat sebelum cerai karena sudah ditinggal kabur suaminya hingga 3 tahun! Hwarakabruk! Atau cerita pak Bupati yang pagi2 ditemui seorang ibu tua bersandal jepit tipis yang nangis2 karena tanahnya "diserobot" oleh lurah. Setelah diusut, ternyata tanahnya sudah dijual oleh anaknya sendiri tanpa sepengetahuan si ibu karena sang anak membuat surat kuasa dengan pembubuhan (= "pencurian") cap jempol ibu itu saat si ibu tidur lelap! Sudah pasti deh kalau kemudian acara pertemuan itu isinya cuma ketawa ngakak.

Situasi ini terjadi karena pak Idham sadar siapa yang sedang dihadapinya. Ya, kami teman2 seniman yang sering kagok untuk masuk dalam situasi formal seperti tamu lain yang sering ditemui Bupati. Jadi ya kami jadi medium untuk '(p)leasure' bagi bupati. Bahkan sesekali dengan enteng beliau "menyeletukkan" pisuhan/umpatan ala Jogja seperti "Bajigur" atau "Asu". Ini rasanya kecil kemungkinannya saat menemui pada kepala dinas, atau tamu lainnya. Aku sendiri pun, waktu di luar ruang sempat dilirik bolak-balik dengan sinis oleh beberapa tamu lain yang nunggu giliran ketemu. Maklum, aku cuma pake kaos oblong dan jaket, sementara mereka jelas pada rapi jali klimis nylekuthis.

Intinya, pertemuan Sabtu pagi tadi pak Idham sebagai bupati memberi peluang banyak bagi kami di MTB (Masyarakat Tradisi Bantul) untuk mengkreasi bangyak event yang untuk sementara ini dikonsentrasikan di sepanjang pantai Segara Kidul (Laut Selatan). Dana ratusan juta dalam setahun ini pun sudah dialokasikan. Moga2 jalan dengan baik deh. Dan tentu tak ada yang jadi silau untuk kemudian menyelewengkan dana dan lainnya, untuk kemudian bubar dengan citra yang boyak. Semoga tidak!

4 comments:

kopimorning® said...

mas... kalo nulis di blog ga usah panjang2, ga ada yg baca, males melototin monitor. kalo buku kan bisa disambi ngising hehehe....

kalo mau panjang dibreak aja.

kuss-indarto said...

Biarin aja. Bukan soal panjang pendeknya sih, tapi ketuntasan pembahasan itu yang penting. Lha situne kokehan nonton sinetron sih, Sis! Marai bodho hehehehe. Salam

blonty said...

kuss, piye kabarmu? wah, suwe banget ora ngerti wilayah pergerakanmu...

kuss-indarto said...

Aku apik2 wae, pak Blonthank! Ha situne piye, kok ketoke bisnismu mbabit ngendi2 hehehe. Aku masih tetep di Jogja, ya di ranah seni rupa wae. Mung kari ngobahke ato mbelokke sithik2 nang ngendi2. Kapan terakhir nang Jogja? Mbok bagi2 proyek to yo... Salam!