Wednesday, January 31, 2007

Muara Tanpa Muara

Muara Tanpa Muara:
Sebuah Kuratorial untuk Menikah

Oleh Kuss Indarto dan Narina Saraswati

Akhirnya kami menikah, saudara-saudara! Dan, piye meneh, harus memutuskan menikah untuk mengesampingkan pilihan-pilihan lain yang melelahkan dan tak membuat produktif. Tiga tahun melewatkan masa berpacaran, sejak medio April 2003, relatif bukan waktu yang pendek (atau malah sekaligus bukan waktu yang panjang), untuk dapat saling memahami. Kalau Lao Tse berfilsafat bahwa: “orang yang tahu dikalahkan oleh orang yang kenal, orang yang kenal dikalahkan oleh orang yang mengerti, orang yang mengerti dikalahkan oleh orang yang memahami”, maka – barangkali – fase untuk memahami memang tengah dan akan senantiasa kami bangun.

Atau kalau menjumput secara “ngawur” teorinya Michael J Gelb yang merisalahkan Menjadi Jenius seperti Leonardo da Vinci (2001), kami seperti tengah mencoba merunuti elemen esensial seperti curiosita, yaitu pendekatan berupa keingintahuan akan pasangan kami dan upaya untuk belajar tanpa henti. Lalu elemen dimostrazione, yaitu niat teguh/komitmen untuk menguji pengetahuan melalui pengalaman, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan, hingga elemen sensazione, yaitu penghalusan/penajaman indera untuk menghidupkan pengalaman. Lebih dari itu, tentu, spirit saling kasih dengan sejumput cinta melatari hubungan kami ini. Ck, ck, ck… (bunyi cicak di atas dinding).

Nikah: Nggo Ngapa to?

Menikah, tak pelak, memang jalan linier yang tak bisa ditampik. Ini soal pilihan. Ada beragam soal dan dalih yang niscaya melingkungi keputusan ini. Mulai dari problem sosial yang memberi kerangka tegas bahwa keseriusan sebuah hubungan pacaran kemudian harus dibalut dengan legitimasi (dan seremoni) bernama pernikahan. Wuih! Menikah, memang, terminal akhir dari ritus relasi berpacaran, namun menjadi awal dari upaya relasi antar-diri yang hakiki. Selama ini, masing-masing dari kami – seperti Anda juga – terkadang merasa gagal untuk memahami diri sendiri. Dengan menikah, kayaknya sih, kami sengaja menciptakan ruang dan PR (pekerjaan rumah) untuk melakukan proses pendewasaan diri dengan tahu, kenal, mengerti dan lalu memahami antar-diri kami berdua. Menikah menjadi ruang untuk mempraktikkan negosiasi psikologis yang kami hasratkan untuk bertumbuh dan berproses seterusnya, sampai nanti, sampai mati, sampai lali… (kata grup band Letto). Yah, pasti tak mudah, tapi juga sekaligus tak sulit, karena antara gampang dan sukar kadang nyaris tanpa direntang batas.

Hasrat kami untuk menikah, tentu juga dikuatkan oleh dalih prinsipal yang berlatar agama. Ini antara sok tau, latah, fashion, dan mungkin semacam keyakinan bawah sadar bahwa lembaga agama pun perlu juga diberi kapling eksistensi(al) dalam konteks persoalan penting ini. Lebih dari itu, apa boleh buat, persoalan halal dan haram, juga kesahihan sosial atas legitimasi pernikahan senantiasa berangkat dari kesahihan agama. Apalagi agama juga berupaya memberi akomodasi terhadap janji Tuhan. Tak ada salahnya, misalnya, kalau kita korek lagi petilan Surat An Nur ayat 32: “Dan kawinlah siapa saja di antaramu yang masih bujangan baik pria maupun wanita, atau siapa saja di antara hamba sahayamu baik pria atau wanita yang sudah sepatutnya dikawinkan. Jika mereka dalam kemelaratan, Allah akan memberikan kecukupan pada mereka dengan kemurahanNya”. Atau nukilan hadits Nabi Muhammad SAW yang dulu sesekali terlontar dari mulut pak kiai di mushola saat subuh atau bulan Ramadhan: “Tanaakahuu tanaasaluu fainii ubaahi bikumul umama” (Menikahlah kalian dan beranak cuculah karena sesungguhnya kalian akan Kujadikan kebanggaaan di antara sekian banyak umat). Ck, ck, ck lagi… (bunyi cicak di atas dinding lagi).

Latar agama ini penting bagi kami karena juga berkait dengan dalih lain, yakni soal reproduksi. Kami yang saling mendaku dan mengagumi sebagai tercantik dan tertampan (masya Allah, friend!) ingin mensyukuri keadaan ini dengan melanjutkan kecantikan dan ketampanan kami kepada anak-anak Tuhan yang dilahirkan lewat kami kelak – yang Insya Allah rupawan, cerdas, kreatif, dedikatif, dan takwa. Bukan mendayagunakan anugerah Tuhan sekadar untuk kepentingan irigasi dan rekreasi, tapi diparipurnakan untuk kepentingan fungsi reproduksi. Ini sih kata ustads Wijayanto, M.A. yang ngegaul itu.

Membongkar Souvenir: Ya, Ampun!

Pendeknya, pernikahan dan gerbang emas rumah tangga yang akan kami jelang menjadi pintu masuk penting bagi segenap kisi kehidupan kami kelak. Banyak hal yang masih buta oleh keterbatasan pemahaman kami tentang hakikat serta nilai hidup dan kebersamaan. “Berdua menjadi satu” bukanlah problem kecil bagi kami, dan bagi siapapun yang telah, sedang, dan akan melakoni prosesi pernikahan. Apalagi slogan “Bersama Kita Bisa” yang banyak menelurkan inkonsistensi yang sayup-sayup terdengar menjadi “Bersama Kita Binasa”. Hehehe. Nikah konon bukan persoalan matematis, tapi konteks sosial, antropologis, politis, filosofis dan ideologis (ya, ampuunn!) justru akan banyak beroperasi di ranah ini. Kalau relasi berpacaran secara lazim akan bermuara pada ikatan dalam lembaga pernikahan, senyatanya kami masih meyakini akan ada muara-muara lain yang harus kami masuki. Masih banyak persoalan di atas persoalan yang akan dilalui yang sementara ini belum kami ketahui.

Berangkat dari keterbatasan inilah, maka kami berdua memberangkatkan persoalan tersebut sebagai “konsep kuratorial” yang ditujukan kepada beberapa sahabat, tetangga dan Guru (dengan G besar) kami untuk memohon dengan segenap kerendahan hati guna memberi dan membagi pengetahuan serta pemahaman tentang nilai-nilai kebersamaan dalam lembaga perkawinan. Maka kami pun punya disain kecil-kecilan untuk diimplementasikan dalam wujud souvenir berupa buku mungil ini yang berisi teks dan visual. Perspektif para sahabat dari beragam disiplin ilmu, ketertarikan, usia, gender, dan pengalaman, kami niscayakan akan memberi pencerahan bagi kami – dan barangkali bagi Anda yang memelototi buku ini – dalam menapaki lembaga rumah tangga kelak, atau menimbang ulang keberadaan bangunan suci bernama perkawinan. Wejangan, ular-ular, nasihat, amanah, serta “wasiat” yang menyemangati dalam bentuk tulisan atau pun gambar ini, yang kami beri judul “Muara Tanpa Muara”, akhirnya menjadi sesuatu yang luar biasa bagi kami.

Luar biasa karena kami tak mengeluarkan dana sepeser pun untuk mengapresiasi tulisan dan gambar para sahabat kami yang luar biasa itu. Betul-betul murni berangkat dari sebuah nilai persahabatan, dan tentu permakluman mereka bahwa kami memang tak punya uang, hehehe. Maka kami tak habis-habisnya bersyukur bisa berkerumun di antara mereka, yang dalam buku souvenir ini tetap memberi apresiasi atas sebuah perkawinan dengan perspektif spesifik mereka. Ada yang begitu gegap memandang sebuah lembaga pernikahan. Ada yang memberi semacam legitimasi diri sebagai orang yang intelektual tapi tetap manusiawi dengan menulis penuh “celelekan”, bahkan “cengengesan”. Ada yang berumit-rumit kagak connect bin kagak jelas. Hahaha. Ada yang tiba-tiba seperti kehilangan “orientasi diri” karena tulisannya jadi lebih temuwa (mature) ketimbang yang saya kenal selama ini. Atau malah sebaliknya, hahaha. Atau ada yang ngerjain abis kami yang kiranya, saya sadari, justru memberi ruang bagi kami untuk berusaha belajar dewasa dan andhap asor dengan mentertawakan dan mengolok-olok kekurangan diri sendiri.

Di sinilah sebenarnya kami juga sedang sok heroik untuk mencoba membongkar-bongkar keberadaan souvenir mantenan yang tak jarang dikecilkan dan diremehkan bagi sang mempelai sendiri. Memang jauh penting ijab qabul, tetapi selagi kami diberi kesempatan untuk membuat souvenir, tak ada salahnya kami berupaya memberi tingkat monumentalitas yang lebih kuat pada momentum pernikahan kami ini. Jelas bukan soal mahal murahnya harga, melainkan bagaimana ihwal nilai (kultural) bisa dipertukarkan di sini. Apalagi nilai agamis benda ini juga begitu kuat untuk menderivasikan ayat pertama Allah yang diwahyukan untuk Nabi Muhammad SAW, yakni; Iqra’, atau “Bacalah”. Kalau substansi buku ini mampu memberi sedikit pengayaan positif bagi tetamu atau orang lain, maka berarti kami telah menjadi agen yang dengan baik melakukan diseminasi gagasan secara lebih meluas. Wuih! Semoga kami menabung pahala, hehehe. (Pamrih, ya!) Untuk itu, tiada lain, kami berdua hanya bisa berterima kasih yang tak terhingga pada para sahabat sekaligus Guru kami yang berkenan memberi “respons” atas “konsep kuratorial” kami sehingga buku souvenir ini menjadi teramat berharga.
Judul buku ini, jelas, merupakan bagian penting dari kesadaran atas kerumunan pertanyaan terhadap keberadaan lembaga perkawinan yang akan kami masuki sebentar lagi. Maka, para sahabat dan Guru kami itu telah berusaha memberi jawaban dengan pelbagai perspektif.

Bencana di Celah Rencana

Kini kami memasuki lembaga perkawinan yang begitu lama kami berdua dan seluruh keluarga besar tunggu-tunggu. Banyak prosesi yang harus dilewati. Misalnya, pada rangkaian proses ini tiba-tiba kami diingatkan bahwa lembaga bernama negara yang selama ini hanya dibayangkan (imagined), ternyata hadir di depan mata dengan representasi sosoknya yang menjemukan. Yah, ada jaring-jaring birokrasi, mulai dari RT-RW, kelurahan, kecamatan, Puskesmas, Kantor Urusan Agama (KUA), yang harus dilewati tanpa bisa dienyahkan dari prosedur formal. Apa boleh buat, lembaga negara memang acap meminta pengakuan dengan cara semacam ini. Berikut pungutan liar yang tak kunjung berhenti menjadi ritus dan kultur penting dalam tubuh birokrasi yang masih saja kacau ora karu-karuan itu. Mbuh kapan le mari bosoke kelakuan kuwi. Sacilun, dab! Kalau gaji mereka naik sementara etos kerja masih sak penake dhewe, untuk apa ya menikah harus repot-repot melibatkan negara? Jiguri!

Kemudian juga, sesuatu yang tak terelakkan dan tak terperikan terjadi: Gempa bumi berkekuatan 6,3 Skala Richter (SR) pada 27 Mei 2006, jam 05.55 WIB dengan episentrum di wilayah selatan-timur Bantul. Undangan pernikahan kami yang telah tuntas tercetak dengan sempurna sekitar tanggal 23 Mei 2006, mau tak mau harus direvisi. Ini karena tempat yang telah kami rencanakan di pendapa Ndalem Yudhaningratan dhoyong terkena imbas gempa yang luar biasa dahsyat itu. Tak mungkin dipakai, daripada berisiko. Tapi itu tak masalah. Kami masih sangat beruntung dibanding saudara-saudara kita di wilayah lain. Kami hanya bisa bersyukur untuk nasib kami, dan berprihatin untuk saudara-saudara kita yang mendapat cobaan. Ada yang gagal menikah karena rumah ambruk. Bahkan banyak keluarga habis tanpa sisa. Bahkan meninggal tanpa menyisakan harapan. Limaribu lebih nyawa hilang, ratusan ribu jiwa kehilangan rumah tinggal, ratusan ribu jiwa lainnya kehilangan kenyamanan hidup, tentu sesuatu yang teramat menyesakkan. Kami sedih dan prihatin.

Belum lagi “batuknya” Gunung Merapi di utara Yogyakarta yang seolah memberi wejangan penting bagi kami, tentu juga kita semua, bahwa kearifan lokal (local wisdom) yang lambat-laun ditinggalkan mesti ditimbang ulang kembali. Jurukunci Merapi, Mbah Maridjan, sebetulnya telah memberi peta kecil atas kearifan lokal yang dibutuhkan masyarakat, ketimbang “juragannya” yang malah rajin bikin mal. Yah, bencana jelas tanpa rencana, dan kita hanya bisa saling menguatkan diri membentang harapan.

Kalau toh akhirnya bisa melangsungkan pernikahan, dan dalam situasi yang memprihatinkan seperti sekarang ini, tentu bukan berarti mengendurnya empati kami atas hal tersebut di atas. Setengah tahun kami telah berencana, dan kami telah berupaya saling menguatkan diri serta optimis agar segalanya berlangsung dengan baik, lancar tanpa halangan suatu apapun, dan senantiasa dalam ridhlo Tuhan. Gempa bumi dan warning Gunung Merapi lewat wedhus gembel seperti memberi pangeling-eling, pengingat yang baik, pemberi warna hidup yang marak bagi kami untuk meneguhkan niatan suci yang tak bisa kami tunda: Menikah.

Semoga Tuhan meridhloi. Doa dan restu Anda untuk kami semoga akan menguatkan tali kasih kami. Selamanya. Amien!

No comments: