Thursday, April 05, 2007

Topeng-topeng Multimakna


Oleh Kuss Indarto

(Teks ini dimuat dalam katalog pameran tunggal "Beyond the Mask" karya Dyan Anggraini di Santrian Gallery, Denpasar, Bali, 5-24 Maret 2007)

Menyimak rentetan karya-karya visual Dyan Anggraini, bagi saya, bagai menyimak cermin diri kita sendiri. Seperti sebuah persuasi untuk melihat ke dalam (looking inward) dan berintrospeksi. Di dalamnya juga ada titik provokasi untuk melihat petilan representasi atas fragmen realitas yang berkembang dalam budaya sehari-hari kita. Sengaja atau tak sengaja, disadari atau pun tanpa disadari, fokus tema tentang sosok-sosok manusia bertopeng pada nyaris semua bentang karyanya adalah gambaran perihal (manusia ber)topeng dalam maknanya yang telah hilir-mudik antara pemahaman denotatif dan pemahaman konotatif.

Topeng tidak saja diasumsikan secara “apa adanya” sebagai salah satu ikon kultur kebudayaan (baca: kesenian) yang ada di banyak belantara etnik-suku di Indonesia, melainkan juga sekaligus ditahbiskan oleh sistem pemaknaan yang telah berbeda, telah bias dipiuhkan oleh pergeseran sistem nilai kebahasaan (dan sosial) yang melingkupi budaya tentang topeng bersangkutan.

Topeng yang Denotatif

Pada mulanya, topeng diartikan sebagai benda fisik untuk penutup muka yang terbuat dari kayu, kertas, kain dan bahan lainnya dengan bentuk berbeda-beda, yang pada galibnya dikenakan oleh para penari dalam pertunjukan tari tradisional. Ada yang berbentuk wajah dewa-dewi, manusia dengan beraga perangai, binatang, setan dan cecitraan lainnya.
Di Bali, sebagai amsal, topeng telah menjadi bagian penting dari sebuah dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan babad. Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan, para penari memakai topeng bungkulan (yang menutup seluruh muka penari), topeng sibakan (yang menutup hanya sebagian muka dari dahi hingga rahang atas termasuk yang hanya menutup bagian dahi dan hidung). Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan tidak perlu berdialog langsung, sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan memakai dialog berbahasa Kawi (Jawa Kuna) dan Bali.

Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua), Panasar (Kelihan - yang lebih tua, dan Cenikan yang lebih kecil), Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). Pada tari topeng Pajegan dibawakan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat di dalam lakon yang dibawakan. Di dalam topeng Pajegan ada topeng yang mutlak harus ada, yakni topeng Sidakarya. Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng Pajegan dengan upacara keagamaan, maka topeng ini pun disebut Topeng Wali. Dramatari Topeng hingga kini masih ada hampir diseluruh Bali. Lalu ada Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres, seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar.

Pun demikian dengan yang ada di daerah Cirebon, Jawa Barat. Tari topeng menjadi ikon kultural yang melekat dalam geliat kesenian di sana. Menariknya, tarian topeng di Cirebon tidak sekadar sebuah tarian semata, namun di dalamnya juga berkait dengan berbagai rangkaian ritus kultural yang kaya secara historis. Misalnya tentang penyebaran agama Islam di kawasan tersebut oleh Sunan Gunung Jati yang banyak disumbang oleh tari topeng sebagai medium. Demikian juga, tarian topeng menjadi “alat penyaksi” atas kecenderungann sinkretisme Islam yang menghablur dengan budaya Jawa.

Hal “gaib” pun banyak melingkupi kisah-kisah para penari topeng di sana. Misalnya pengalaman maestro tari topeng, Rasinah namanya, yang masih enerjik hingga diusia senja, yang mengharuskan dirinya untuk melakukan laku asketik dengan berpuasa (hingga 40 hari) sebelum melakukan pentas.

Tentu masih banyak tradisi tarian topeng yang ada di berbagai wilayah, seperti Banyuwangi, Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, dan masih banyak lagi. Ini semua adalah kilasan contoh kasus tentang topeng dalam pemaknaan denotatif yang berada dalam ruang keakraban kita sehari-hari. Sedang alam perkembangan selanjutnya, kata topeng telah berpiuh, bergeser dalam sistem pemaknaan yang berbeda. Topeng atau kedok, memiliki pemaknaan sebagai cara untuk menutup diri dari realitas yang sesungguhnya. Inilah titik penting dan substansial yang mendasari karya-karya lukis Dyan Anggraini.

Alur yang Evolutif

Topeng-topeng itu diangkatnya kembali dalam berbagai rona estetis di atas kanvas, untuk kemudian dijadikan sebagai alat ucap untuk membincangkan berbagai problem budaya dan sosial kemasyarakatan yang menggalaukan pikirannya, tentu dengan titik asosiasi dan konotasi makna seperti yang diekspektasikannya. Inilah potongan representasi lewat citra topeng yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi titik inti atas pilihan kreatif Dyan.

Pilihan kreatif semacam ini tentu saja bukan merupakan output estetik yang tiba-tiba atau hadir begitu saja. Bukan sesuatu yang given. Dia, dugaan saya, mengemuka sebagai simpul sintesis atas berbagai tesis dan antitesis lewat pergulatan kreatif sang seniman yang sudah melakukan intensitas berkarya sekian lama dan dan dengan beragam eksperimentasi estetik sekian banyak. Di dalamnya, bisa diduga, pola dan modus pencarian itu telah acap dilakukan dengan berbagai survei dan riset lewat metodologi yang khas seniman. Bukan seperti halnya ilmuwan atau peneliti yang berkutat di laboratorium ataupun di ruang-ruang perpustakaan yang senyap, melainkan dengan berbagai pengamatan lewat perbincangan, pencarian referensi foto, menonton langsung tarian topeng, dan berbagai cara lainnya. Maka, topeng-topeng yang sekarang ini bisa kita saksikan telah menjadi titik simpul atas alur kreatif yang evolutif yang berlangsung dalam rentang waktu panjang untuk kemudian bertumpu pada satu titik yang dirasakan senimannya telah tepat. Yakni topeng-topeng yang konotatif atau asosiatif, sebuah gambaran atas topeng dengan pola pemaknaannya yang telah melampaui fisik topeng itu sendiri. Bagi Dyan, output kreatif ini telah tepat atau pas dalam hal aspek visualitas dan pada jagat gagasannya.

Dalam tinjauan visual, kalau kita amati dengan seksama dari satu karya ke karya lainnya, Dyan nampaknya membubuhkan intensi yang berlebih pada bentuk dan citra topeng. Dari sini saya menduga adanya pola konnaturalitas afektif (affective connaturality), sebuah konsep pendekatan kreatif yang diperkenalkan oleh Jaques dan Raissa Maritain, sepasang filosof Perancis, lewat bukunya The Situation of Poetry: Four Essays on the Relatons between Poetry Mysticism, Magic, and Knowledge, yang dirilis tahun 1955. Meski konsep itu telah lama dan mereka catat untuk menelaah karya sastra, kiranya masih cukup relevan untuk konteks waktu kini dan bisa pula diadopsi untuk membincangkan semua bentuk karya kreatif, termasuk kaya seni visual. Konsep konnaturalitas afektif ini menyoal bahwa “korespondensi atau persangkut-pautan di antara seseorang atau seniman dengan apa yang diketahuinya tidaklah dilakukan oleh hubungan antara pikiran dengan obyek yang diamati, melainkan oleh hubungan antara obyek tersebut dengan perasaan dan kemampuan indrawi seniman/pengamatnya”.

Konsep ini dengan segera dapat terpantul lewat karya-karya topeng versi Dyan yang telah “larut” dan kemudian membentuk sejenis identifikasi estetik tersendiri. Misalnya, topeng karya Dyan tentu beda dengan topeng karya perupa Suwadji, atau karya perupa lain. Ini dimungkinkan terjadi karena pendekatan Dyan terhadap topeng sebagai obyek atas karyanya dilakukan bukan sebagai “cara mengetahui”, melainkan menempatkannya sebagai suatu pengetahuan melalui insting dan kecenderungan, melalui resonansi dalam diri subyek, yang bergerak menuju penciptaan suatu karya. Maka lahirlah topeng-topeng yang cukup fasih dikuasainya dalam beragam bentuk, pencitraan yang tepat dengan sosok manusia yang mengenakan topeng tersebut.

Kemudian, Dyan, dengan otoritas kreatifnya, menempatkan dunia gagasan di atas cecitraan topeng tersebut. Topeng, sekali lagi, masuk dalam posisi sebagai perangkat atau aparatus tanda penting untuk diisi oleh gagasan yang telah dikantongi Dyan. Maka yang terlahir di atas kanvas-kanvasnya adalah figur-figur manusia bertopeng dengan dinamika dan problematika kemanusiaan yang menggelisahkan sang perupa. Banyak problem sosial politik yang dijadikan pokok soal (subject matter) dengan segala komentar dan pemaknaan yang bisa ditangguk oleh apresian.

Sebuah Otokritik

Pada pameran kali ini, misalnya, setidaknya ada kuartet karya yang menjadi satu kekuatan makna, yakni karya-karya yang menukik pada problem ihwal korp pegawai negeri (Korpri). Ini sebuah representasi yang menark di balik kenyataan bahwa diri Dyan sendiri adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang tentu saja secara otomatis adalah anggota Korpri.

Tergambarkan di sana, ada sosok laki-laki yang bertopeng dengan berpakaian putih, lalu di bahunya tersampirkan (potongan) kain seragam Korpri yang seolah diberlakukannya tak lebih sebagai kain serbet. Lalu pada tiga karya lain nampak ada sosok laki-laki yang semuanya telanjang dada, semuanya bertopeng dengan beragam ekspresi. Ada yang mengenakan dasi bermotifkan logo Korpri, ada juga yang lehernya terbebat oleh selendang pendek yang bermotifkan kain Korpri juga.

Saya kira, kuartet karya ini dengan kuat memberi persuasi pemaknaan kepada kita atas habitus sebagian besar pegawai negeri di Indonesia yang memiliki etos kerja relatif rendah. Mereka yang berjumlah hampir 4 juta orang dan bertanggung jawab pada semua kisi-kisi birokrasi pemerintahan di Indonesia, diasumsikan oleh Dyan sebagai sosok yang bermental pembantu, atau sosok yang tak dengan benar memposisikan dirinya dalam sistem pelayanan publik. Dengan penggambaran yang ekstrem seperti figur lelaki memakai dasi (berlogo Korpri) dalam ketelanjangan, adakah yang bisa diharapkan dari sebuah sistem kerja yang memadai? Masih kuatkan mereka mengampu manajemen kerja yang profesional seperti yang dituntut masyarakat sesuai dengan percepatan jaman yang kian melaju dan sangat dinamis?
Ini sebuah otokritik yang tandas versi Dyan. Seperti kita tahu, gelombang pasang naiknya jumlah aparat pemerintahan di Indonesia pada jaman rezim Soeharto, terutama pada era 1980-an, sangat transparan karena ditunjang oleh kepentingan politis, yaitu pada upaya penguatan struktur kekuasaan lewat jalur birokrasi. Mereka, para pegawai negeri itu, dilipatgandakan kuantitasnya untuk kemudian dimobilisasi guna menyokong partai berkuasa (rulling party) yakni Golkar sebagai pilar penting rezim Soeharto selain tentara/militer.

Maka, ketika sekarang ini kekuasaan pemerintahan Soeharto sudah berakhir (secara de jure), warisan terpenting dan “busuk” yang ditinggalkannya antara lain adalah melimpahnya jumlah aparat birokrasi dengan job description yang tak jelas dan etos kerja yang relatif buruk. Ini dimungkinkan terjadi arena dulu, ketika berhasil masuk dalam jajaran birokrasi pemerintah, ada asumsi kuat bahwa mereka telah berhasil pula melakukan mobilitas vertikal secara sosial. Inilah repotnya, karena kemudian para birokrat atau pegawai negeri itu seperti menggenggam anggapan kuno sebagai para priyayi baru atau para feodalis baru yang meminta diapresiasi lebih jauh pribadinya berdasar pada kerangka status kepegawaiannya semata, bukan pada prestasi kerjanya. Maka dalam praktik kerjanya pun mereka (meminjam istilah Jawa) tidak menjadi pamong praja (pelayan masyarakat), tapi lebih sebagai pangreh praja (tukang perintah).

Dengan demikian benarlah apa yang menjadi pangkal keprihatinan sekaligus “kegeraman” Dyan lewat karya-karyanya ini. Mereka adalah manusia yang berkedok atau bertopeng pada status kepegawaiannya untuk mendapat pengakuan sosial yang layak, bukan pada apa yang telah dikerjakan sesuai kapasitasnya. Mereka, dengan kemalasan dan mentalitas priyayi-isme atau ningratisme yang destruktif itu, telah menjadi “lahan tidur” yang memboroskan anggaran negara sekian triliun tiap tahun. Untuk sebuah negara yang kaya utang, ini sebuah “mega-ironi”. Dan Dyan sebagai bagian yang ada dalam birokrasi dengan lingkaran persoalan yang telah diketahui dan dialaminya sendiri, hanya bisa berkomentar dan mengritik lewat karyanya ini. Mungkin tak akan banyak berimplikasi positif pada lingkungan kerja terdekatnya sekalipun, tetapi, saya kira, karya semacam ini justru mampu menginspirasi pada Dyan sendiri untuk menjadi cermin diri ala Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt: “Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan padaku, tapi tanyakan apa yang telah aku berikan pada negaraku!”

Begitulah, Dyan telah berusaha memberi peringatan (warning) atas banyak kasus dan gejala sosial lewat karya-karya visualnya. Topeng yang selama ini telah menjadi iko tersendiri dalam banyak kultur atau kesenian di Indonesia, di mata Dyan, telah dikristalisasikan kembali dalam ikonisitas yang berbeda. Mungkin tak sangat berbeda, atau tak terlalu istimewa, tetapi dengan bingkai cara pandang yang khas Dyan, topeng-topeng yang lucu atau indah itu telah menyembulkan gejala pembacaan yang tidak lagi lucu dan indah, melainkan bisa jadi penuh kegetiran, ironi dan kemunafikan. Karena kini topeng-topeng itu telah jauh melampaui batas-batas fisikalitasnya sendiri. Topeng itu telah bergerak mencari maknanya yang baru, yang membias dari sebelumnya.

Apakah Anda juga tengah bertopeng kini? Bercerminlah pada karya-karya Dyan...

No comments: