Thursday, November 29, 2007

Bob(rok), Bob!





Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat dalam katalog sederhana pada pameran tunggal Bob Yudita Agung yang berpameran di Kedai Kebun, 17 Mei 2004. Bob sendiri, beberapa belas jam sebelum pembukaan pameran, mengalami kecelakaan hebat. Tapi belakangan ketahuan kalau ternyata dia tersungkur karena dikeroyok beberapa orang setelah nonton pentas musik. Beberapa giginya rontok. Tulang rahangnya patah. Wajahnya bengap setengah mati)

Aku masih ingat betul dengan beberapa ke-asu-an Bob. Siang hari yang terik, mungkin sekitar tahun 1996-an, dia menyelinap masuk di garasi tempatku tinggal waktu itu, di Jalan Melati Wetan 37 Baciro. Namaku dipanggil-panggilnya, meski tanpa antusiasme karena ada subyek sasaran yang lebih menarik perhatian. Dan benar. Olie samping yang masih utuh yang sedianya untuk ngrefill sepeda motorku, diembat. Meski kepergok beberapa orang, tetap saja Bob cuek. Aku tak tahu karena tengah asyik siesta (tidur siang) setelah begadang semalaman, antara nonton sepakbola, ngerjain tugas kuliah dan baca-baca biar sok intelek.

Baru setelah bangun, bu Roekmini – nyonya rumah tempat aku menetap waktu itu – memberi tahu dengan ketus, bahkan terkesan memarahiku. “Eh, In (panggilan kecilku), kamu bertemanlah dengan orang baik-baik. Jangan dengan preman atau gali!” ujar beliau sembari berkacak pinggang, sebuah kebiasaan yang masih melekat dalam dokumen ingatanku. Si ibu Brigjend Polri yang anggota DPR Pusat ini memang bawaannya selalu serius, nggak peduli di Senayan, di meja makan, ketika berkostum rok yang sangat feminin atau bercelana pendek, bahkan pas rame-rame nonton kartun Bart Simpson. Tentu saja aku bingung dan gelagapan. Baru ucek-ucek mata kok sudah ada instruksi. (Kadang aku berani meledek di belakang beliau sambil menghormat layaknya militer sembari membatin, “Siap, Jendral!”)

“Kuwi, oliemu dijupuk kancamu dhewe sing klamben tattoo!” teriak bu Brigjend lagi. Tuh, oliemu diambil temanmu yang berbaju tattoo. (Relasi antara tattoo dan preman, apa boleh buat, memang masih menjadi satu paket stigma negatif yang belum luntur). Waduh, blaik! Ingatanku dengan cepat langsung menjelajah dan terhunjam pada sosok bajingane Bob kae. Tiada lain, yang nyolong olie sampingku pasti Bob. Ora ana liya. Aku marah karena banyak hal: olie hilang yang berarti aku harus menyisihkan rupiah lagi, dan kena marah yang seharusnya justru aku lakukan karena dirugikan. Asem, sudah kecolongan malah dimarahi. Kalau dikomikkan, pasti kepalaku sudah kelihatan bertanduk gede dan lancip kae, meski tidak bercongor putih karena aku masih mulus tanpa panu. Beberapa hari aku cukup sewot, dan kalau pas ke kampus Gampingan permai itu salah satu agendaku ya nyari si Bob. Tapi nggak ketemu-ketemu juga. Bob baru bisa ketemui ketika emosiku sudah lerem, sudah dingin. Bob nongol begitu saja di hadapanku sambil cengengesan. Jancuk! Kami akhirnya malah terlibat dalam dialog ngalor-ngidul kemana-mana. Mulai dari soal Fransisco Goya, cewek montok semlohai, relevansi ngocok dan kreativitas, hingga demonstrasi. Dari yang profan hingga ke yang sangat profan. Ya sudah, aku tak cukup punya alasan untuk ngantemi apalagi nyipok. Amit-amit, su!

Begitulah. Waktu yang terentang dan ruang yang terbentang kemudian memberiku permakluman untuk menghadapi teman-teman yang berkarakter semacam Bob ini. Kegilaan atau minimal ke-asu-an seperti yang dilakukan Bob adalah nucleus penting dari relasi persahabatan yang tak terhindarkan. Itu adalah bagian dari kesadaran yang mesti dibekalkan pada diriku sejak mengenal asune Bob. Tapi aku tak tahu persis, apakah Bob termasuk kleptomania atau “pseudo-kleptomania” yang menurutku jauh lebih mengkhawatirkan.

Makanya, ketika hampir setahun berikutnya, sekitar akhir 1997, saat kembali olie sampingku melayang dengan modus dan pelaku yang sama, aku harus memberi permakluman tapi sekaligus meminta kompensasi dalam format lain. Kucari dan kusuruh dengan paksa dia untuk nggambar ilustrasi cerpen di koran Bernas, tempatku bekerja sebagai tukang nggambar waktu itu. Tapi tidak kuberi honorarium sama sekali. (Kapitalisme memang penindasan manusia atas manusia demi kompensasi kapital, Bob! Dan sosialisme adalah sebaliknya, you know! Hahaha). Lumayan, bebanku untuk nggambar terkurangi sedikit, dan bisa leluasa merancang demonstrasi dengan aktivis mahasiswa di kampus lain yang mulai marak waktu itu.

Bagi sebagian teman di Fakultas Seni Rupa waktu itu, kegilaan-kegilaan Bob atau teman-teman lain memang sangat mewarnai pergaulan di kampus Gampingan, yang pada dasarnya telah berlangsung secara “sistemik” dari waktu ke waktu, turun temurun. Tiap generasi, selalu saja di ASRI atau Seni Rupa ISI melahirkan kegilaan yang seturut dengan zeitgeist-nya, semangat jamannya. (Mungkin juga masih tetap berlanjut hingga kini di Sewon, saya tidak tahu). Misalnya, kami beberapa orang bergerombol di bawah pohon beringin yang rindang itu, lalu ngoceh ke sana-kemari sambil mabuk. Karena lotsenan (minuman) kurang, kami bantingan, iuran. Uang terkumpul, dan Bob menugaskan diri untuk membeli bir, vodka dan AO (Asal Oleng). Biar dapat sedikit atau murahan tak masalah, yang penting teler, lucu dan ngoceh terus. Tapi Bob lama sekali tak kembali. Beberapa gelisah. Teman-teman sudah menunggu dengan buas dan antusias, sementara lotsenan belum kunjung tiba.

Hingga akhirnya, setelah berjam-jam “menunggu Godod”, akhirnya Bob datang dengan cuek dan tanpa rasa dosa. Teman-teman pun menyergahnya: ”Endi lotsenane, su?” Mana minumannya, su? Dengan ringan dijawabnya, “Lho, iya ya. Lupa. Sudah kubelikan kacamata je…” Maka, saya pun tak perlu menceritakan lebih detil lagi bagaimana kemudian teman-teman yang buas itu langsung melakukan “ritus” meremukkan kacamata “milik” Bob, hingga jathilan pun mungkin tak doyan pada pecahan beling itu. “Spirit kolektivitas” itu dihingar-bingari amarah dan canda tawa yang tak melukai Bob secara fisik.

Atau ada ke-asu-an Bob yang njijiki tenan. Disgusting abis. Aku juga tak tahu persis, tapi diceritain teman karena tak ada di kampus saat kejadian berlangsung. Bob yang mungkin sudah tidak mandi beberapa hari, tiba-tiba berkeinginan untuk cuci badan. Tentu wajar karena barangkali cucakrowo-nya sudah mulai menjadi subyek utama untuk digaruk-garuk terus. Gatal. Hanya hal yang tak wajar adalah dia mandi di menara bak air milik kampus yang tingginya belasan meter. Dan kencing juga di sana.

Bagi orang luar kampus pasti itu dianggap gila. Tapi bagi para dosen dan karyawan, perilaku itu sungguh nggilani. Njijiki. Bagaimana tidak? Wong wedang teh yang tiap hari disuguhkan untuk mereka berasal dari bak air itu je. Coba bayangkan andai Pak Aming, Pak Broto, Pak Edi Sunaryo, atau dosen lain harus menenggak wedang teh yang bercampur dengan uyuhe Bob. Atau bayangkan Pak Doktor Burhan yang cerdas itu nyruput teh uyuh seusai berwacana serius di depan mahasiswanya. Ya, kalau makanan Bob sebelum itu penuh nutrisi sih mendingan, tapi kalau bolak-balik cuman makan nasi kucing campur pete dan jengkol terus, gimana? Akhirnya, apa boleh buat, puasa atau jajan di warung luar kampus jadi alternatif solusi para bapak-ibu dosen dan karyawan waktu itu.


***


Tapi peristiwa itu seperti memberi semacam penegasan bahwa Bob adalah salah satu wong edan yang kegilaannya menempel pada habit dan mulai menular pada proses kreatifnya juga. Teman-teman seangkatannya, angkatan 1991 di Program Studi (Prodi) Seni Lukis, juga cukup memberi imbas pada cara dan gaya berkesenian Bob. Semisal Bunga Jeruk, Iwan “Tipu” Wijono, Toni Volunteero, Anggar Prasetyo atau beberapa lainnya yang memiliki karakteristik masing-masing. Atau persentuhannya yang barangkali cukup intens dengan teman dari jurusan lain yang seangkatan semacam Agung Leak, Bambang Toko di Prodi Seni Grafis, dan lainnya.

Karyanya pun mulai diperhitungkan. Pada tahun 1995, salah satu karya Bob menjadi pemenang untuk event McDonald Prize bersama Temmy Setiawan yang sekarang konon memilih jadi juragan catering. Juga pada beberapa pameran yang cukup penting bagi proses kreatifnya, karya Bob cukup sempat menyita perhatian beberapa pihak karena dianggap kuat dalam aspek capaian artistik dan estetiknya. Setidaknya, untuk ukuran lain, ada kolektor yang sudi mampir untuk memindahtangankan karya Bob menuju dinding rumahnya, meski aku tak menganggap ini sebagai parameter utama. Antara kegilaan perilaku dan kegilaan kreatif Bob nyaris membentuk garis setara satu sama lain. Sementara pada saat yang sama – mungkin tetap berlangsung hingga kini di ISI – banyak teman-teman yang titik kesenimanannya hanya termanifestasi dalam rambut yang gondrong tak beraturan, pakaian dikumal-kumalkan, dicompang-campingkan, sedang karya dan penalarannya masih lemah. Karya nggak kreatif dan IQ mungkin hanya setingkat lebih tinggi dari sosok Forrest Gump yang dilakoni Tom Hank itu, tapi gaya senimannya sudah luar biasa. Ora cucuk, ora sembada.

Itu tak cukup berlaku pada Bob. Pendeknya, sosok Bob bisa diharapkan dan berpotensi menjadi rising star dalam peta seni rupa Yogya untuk kurun waktu ke depan. Dan kalau berbicara untuk konteks peta Yogya, kok rasa-rasanya juga dengan “gampang” akan beringsut menuju scope yang lebih luas lagi, Indonesia. Bob akan bisa dengan “mudah” melenggangkan dan mengibarkan reputasi di jagad seni rupa Indonesia. (Wuih, elok tenan, su!)

Tapi, apa iya, betul begitu?

Nah, ini dia persoalannya. Gerusan waktu sekian tahun, ternyata tak seperti yang diduga sebelumnya. FSR ISI atau Yogya secara umum, setiap tahun ketamuan orang-orang “sinting” yang kemudian betah menetap, menempa, dan memproses dirinya menjadi seniman. Mereka tak lagi menjadi tamu, tapi juga ingin menjadi tuan, priyayi, dan juragan. Tak ada yang salah. Yang justru salah adalah mereka yang tak banyak melakukan progresivitas dalam laku proses seninya. Mereka yang terdepak adalah orang-orang yang tiada cukup punya nyali untuk bertarung secara positif dalam menentukan garis strategi berkeseniannya, membangun jaringan koneksitas yang ruwet dan saling punya kepentingan, juga pengetahuan dan pemahaman atas gejala kebaruan informasi seni yang mesti terus dikejar dan dipeluk erat.

Aku tak bisa mengamati secara detil, tapi setidaknya tokoh kita Bob pun barangkali salah satu (calon) seniman yang kemudian juga relatif tergerus oleh waktu, dan celakanya mulai dengan deras tergerus oleh pembaruan kreatif-agresif yang dilakukan oleh banyak teman atau rekan-rekan yunior-seniornya. Aku tak tahu persis dimana Bob menempatkan posisi dirinya ketika rekan-rekan lain mulai suntuk membangun networking yang lintas disiplin dan lintas geografis. Aku juga tak mengerti di mana Bob “bersembunyi” tatkala sahabat-sahabat perupa mulai menengok dunia wacana yang jelas memberi oksigen kreatif bagi kelangsungan sirkulasi nafas berkesenian. Aku kurang mengetahui seberapa heterogen lingkungan Bob yang barangkali akan mampu mendistribusikan modal-modal pengetahuan yang dapat dikelola sebagai sumber gagasan dalam berkarya. Karena pada kurun waktu yang sama, sekian banyak komunitas seni rupa bertebaran untuk menjadi medan kreatif yang baik bagi tiap personal dalam lingkup komunalitasnya.

Aku tak tahu persis. Hanya yang kuingat, ketika berpameran tunggal di LIP Yogyakarta tahun 2002 lalu, gelegak dan kegilaan kreatif Bob masih relatif sama dengan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Bahkan event-event kompetisi seperti Philip Morris Art Award atau Indofood Art Award juga lainnya – yang seolah di-emohi tapi dengan munafik diikuti oleh sebagian perupa kita – kalau tak salah nyaris tak menempatkan Bob dalam jajaran finalis seratus besar sekalipun. (Aku tak tahu persisnya). Artinya, Bob barangkali belum mampu secara utuh mengelola “ereksi” kreatifnya dalam medan kanalisasi yang progresif dan menyentuh-nyentuh dimensi kebaruan (novelty). Ngaceng-nya sudah oke, tapi siasat dalam proses ejakulasi hingga mengapai orgasme estetiknya “masih seperti yang dulu”.

Aku sangat suka melihat keliaran tangannya ketika memegang kuas, spidol atau pensil di atas kanvas atau kertas. Mabuk atau tidak mabuk, kalau lagi berkeinginan membuat coretan, unik cara dan hasilnya. Puisi rupa-nya kadang aneh, kadang lucu, kadang mengejutkan bagi aku yang sebelumnya telah terlanjur berfantasi secara linear. Hasilnya pun sebetulnya menarik, bahkan beberapa sangat menarik. (Malah aku telah memanfaatkan hasil goresannya untuk kepentingan “kapitalisme”-ku sendiri, seperti untuk ilustrasi di koran atau untuk disain cover buku sebuah penerbitan, dan hanya bilang tengkiu aja pada Bob).

Hanya masalahnya, sekarang kan berseni rupa itu tidak sekadar mementingkan aspek ketrampilan tangan semata. Menjadi seniman itu bukan sekadar mempertautkan naluri dan emosi yang diejawantahkan lewat kepiawaian tangan untuk memuarakan gagasan. Lebih dari itu, Bob! Seniman juga diidealkan mampu mengelola gagasan dalam pikirannya. Bagaimana gagasan yang muncul kemudian disistematisasikan dalam kerangka kerja seperti halnya, sebagai misal, seorang periset atau ilmuwan. Keren kan. Dengan begitu, seniman akan mendasari laku kreatifnya dengan beberapa tahapan, misalnya mencari referensi, merasionalkan (baca: mengenyahkan) “misteri” subyek gagasan, memberi konteks atas teks rupa-nya kelak, dan seterusnya.

Belum lagi, seniman juga diidealkan mampu membuat pemetaan atas subyek-subyek karya kreatifnya sendiri agar bisa memproyeksikan gagasan kreatif berikutnya. Mengapa mbak londo Mella Jarsma tetap berkutat dengan ihwal kulit, ngapain mas Nindityo masih bersetia dengan menggugat kejawaannya sendiri via konde, kenapa Entang Wiharso bersuntuk ria terus-menerus dengan tema-tema, mulai dari New God Series hingga Hurting Landscape. Atau mengapa teman-teman Apotik Komik menorehkan estetisasi kesehariannya dalam medan kreatif tembok-tembok kota. Semuanya, aku yakin ada alur, struktur dan sistematika berpikir dan kreatif yang mendasari dan kemudian diyakini. Tiada lain.

Gitu lho, Bob! Sebagai kakak (kelas) yang baik dan cakep (ho-oh to, su!), aku hanya bisa berpetuah layaknya pinisepuh kepada para kanoman. Aku merasa – meminjam istilah Hendro “Countrybution” Wiyanto – kamu telah berupaya menyia-nyiakan bakatmu sendiri, Bob. Padahal, yang kutahu sejak tahun 1991 dulu, sosok Bob begitu cukup identik dengan kegilaan dan ke-nggilani-an yang menerbitkan sebuah asumsi tentang dalamnya kreativitas, semangat pencarian yang progresif, dan capaian estetik yang cukup mengejutkan.

Oke, Bob, tetap jadilah kolektor tattoo yang produktif, dan harus menjadi seniman yang selalu lapar dan galak untuk selalu berkesenian. Ayo, Su! Teruskan tubuh-tubuh bobrok yang menarik dalam karyamu itu, bukan kebobrokan kreatif yang adalah juga kemandegan itu, Bob. Kutunggu segera kejutanmu!

1 comment:

yolanda said...

aku setuju dengan perlunya tahapan sistematis dalam pemikiran seniman

dan pada akhirnya 'de gustibus no est disputandum'-selera tidak untuk diperdebatkan- tidaklah selamanya merupakan pernyataan yg mutlak
karena estetika bisa didiskusikan akibat perkembangan pemikiran seni yg holistik dan sistematis