Monday, November 05, 2007

Kompetisi yang Sepi Kontribusi




Oleh Kuss Indarto

(Ah, 4 tahun lalu aku mengulas sekaligus mengritik pameran Biennale Jogja yang dikuratori Hendro Wiyanto. Sekarang, hmm, gantian aku yang jadi (salah satu) kurator Biennale Jogja tersebut. Berikut catatanku atas Biennale Jogja 4 tahun lalu yang (dalam bahasa Inggris) dimuat di harian The Jakarta Post, Oktober 2003)

Biennale atau kompetisi seni rupa dua tahunan, seperti halnya kebanyakan perhelatan kompetisi seni rupa, hampir selalu menuai kontroversi dan perdebatan. Dan kali ini, riuh-rendah kontroversi tersebut kembali mengiringi pameran Biennale Yogyakarta VII yang berlangsung 17 hingga 31 Oktober 2003 di Taman Budaya Yogyakarta. Biennale yang dimahkotai tema kurasi Countrybution, oleh kuratornya, Hendro Wiyanto, sepertinya dihasratkan sebagai sebuah catatan kecil seniman (yang terpilih dalam perhelatan ini) untuk “menandai” kecenderungan meredupnya peran negara dalam masyarakat. Relasi negara-masyarakat yang kian mengecil itu diasumsikan menjadi celah sekaligus peluang untuk diisi oleh seniman dalam peran-sertanya sebagai makhluk sosial (homo socius) di samping tentu saja sebagai homo esteticus.

Sementara hal penting yang menjadi kontroversi, seperti berulang-ulang terjadi dalam tiap biennale, adalah persoalan proses dan hasil seleksi. Yakni perihal bagaimana upaya dan metodologi penyeleksian itu diberlakukan. Dan mengapa akhirnya memilih perupa A dan kenapa bukan perupa B. Inilah hal-hal mendasar yang selalu menjadi pangkal perdebatan meski sebetulnya telah klasik dan cenderung akan menjadi hal yang kontraproduktif. Apalagi tajuk kurasi kali ini adalah kata plesetan yang sangat provokatif mengundang kontroversi, cercaan dan cemoohan: countrybution! Ini adalah gabungan dari kata country dan contribution, yang ditangkap dengan sederhana oleh banyak publik seni rupa bahwa biennale kali ini merupakan ajang bagi para perupa terpilih sebagai perupa yang telah “berjasa” memberi kontribusi (besar) terhadap negara Indonesia. Atau paling tidak kalau ditarik masuk dalam ranah seni rupa, mereka yang terpilih adalah perupa yang telah banyak memberi kecenderungan bagi geliat dinamika seni rupa di Indonesia, atau minimal Yogyakarta.

Jumlah dua puluh satu (21) perupa dan kelompok perupa yang terpilih dalam perhelatan ini, memang kemudian dianggap tidak cukup memadai untuk menjadi sebuah representasi dari dinamika seni rupa Yogyakarta dalam dua atau empat tahun terakhir. Apalagi kalau ajang biennale ini dianggap sebagai alat ukur untuk membaca kecenderungan paling baru dan paling kuat dari dinamika seni rupa Yogyakarta, tentu banyak pihak yang akan menolaknya. Meskipun tentu saja tak bisa ditampik begitu saja nama-nama kuat dalam belantara seni rupa Indonesia dan internasional yang terlibat dalam pemeran kali ini. Sebut misalnya Heri Dono, Dadang Christanto, Agus Suwage, Mella Jaarsma, Anusapati, dan lainnya.

Namun, apapun, kontroversi yang tengah dan masih berkecamuk dalam ruang pamer dan pewacanaan di media massa, materi-materi pameran yang terpajang dalam biennale ini tentu tak bisa dikesampingkan begitu saja. Setidaknya kalau kita mencoba memberi upaya pembacaan lebih lanjut, dengan atau tanpa menyandarkan proses pemaknaannya dari garis kurasi yang bisa membuat kita terperangkap dalam resepsi yang menunggal, atau justru menjadikan kurasi tersebut sebagai titik pijak awal untuk mengembangkan lebih lanjut apresiasi yang lebih penuh dimensi.

Misalnya, dapat kita apresiasi karya Ugo Untoro, Father and Son, yang begitu imajinatif. Ugo mewujudkan gagasan tentang relasi antara bapak dan anaknya tak jauh berbeda dari gambaran sebuah mobil. Sebuah replika mobil Dodge dengan disain tahun 1950-an berwarna merah jambu yang sangat mengundang mata. Mobil dengan ukuran 250 x 120 x 60 cm ini sangat tidak lazim untuk bisa beredar di jejalanan karena formatnya yang melebar. Dalam interiornya terlihat jelas bahwa karya yang dibuat dengan medium resin ini menyediakan kursi unruk duduk yang sangat panjang. Risikonya adalah adanya jurang yang amat melebar antara penumpang yang berposisi sebagai pengemudi dan penumpang lain di seberangnya. Ugo seperti hendak menggambarkan kepada kita betapa bahwa, kini, relasi antara bapak dan anak adalah relasi penuh kesaling-asingan. Meski mereka masuk dalam satu atap, ada ikatan biologis, tetapi lembaga keluarga telah dianggap mengendur perannya.

Dalam format yang sama, mobil Ugo tersebut juga menganalogikan posisi penguasa dan rakyatnya yang hidup di bawah atap bernama negara. Mereka sama-sama berkendaraan yang sama, tetapi masing-masing telah duduk dengan keinginan yang berbeda, pikiran yang tak sama, dan komitmen yang bisa jadi berseberangan. Mereka yang menjadi penguasa adalah para politikus, bukan negarawan sehingga mental kepemimpinannya selalu dibungkus oleh kepentingan yang sempit dan tidak berorientasi ke depan. Kiranya, ini karya ini menggotong sebuah gagasan sederhana namun cukup cerdas dari Ugo Untoro.

Karya lain dapat disaksikan sebagai gambaran kematangan kreatif kreatornya. Salah satunya Mella Jaarsma yang kembali mengekplorasi tema tentang kulit, berjudul Rubber Time II. Seperti biasa, karyanya, terutama pada saat seremoni pembukaan, Mella menampilkan diri sebagai performance artist untuk membungkus dirinya dalam “baju” kulit penyu. Dia berbaring di lantai beberapa puluh menit, bersanding dengan patung-patung lain yang digeletakkan di lantai dan mengenakan “baju” lain yang terbuat dari bahan kulit lain.

Bagi Mella, sebagai orang Belanda yang telah belasan tahun tinggal, menikah dan beranak-pinak di Indonesia, hal-ikhwal kulit menjadi hal yang tidak sederhana. Karena di luar kulit yang menjadi penutup tulang dan daging, ada kulit lain yang amat kuat hubungannya dengan soal identitas. Misalnya jilbab, bisa menjadi kulit untuk memberi garis identifikasi atas keislaman seseorang (perempuan). Dengan demikian, sebenarnya, ihwal identitas bukanlah sesuatu yang hadir dalam diri kita secara kodrati, melainkan hadir dalam bingkai konstruksi. Negara, agama, pendidikan, adat, dan lainnya bisa menjadikan seseorang mengkonstruksi identitas atas dirinya. Jadi, identitas memang bukan sesuatu yang telah terberi (given), melainkan sebuah hal yang terus-menerus berproses. Kulit yang telah ada sebelumnya, akan ditelan oleh kulit lainnya untuk membentuk “kulit” atau identitas baru.

Dalam kaitan dengan hal “kulit”, Biennale Yogyakarta VII bagi saya tidak cukup kuat memberi “kulit” baru bagi para pesertanya. Mereka adalah para “bintang” seni rupa kontemporer Yogyakarta atau Indonesia dewasa ini. Atau kalau dalam hierarki militer, kebanyakan dari mereka adalah para perwira tinggi yang memang layak untuk berebut ruang untuk berebut perhatian dalam ruang pamer dan ruang isu di media masa. Inilah yang membuat kerja kurasi oleh kuratornya kiranya relative gampang karena sudah mencomot para bintang yang tak perlu lagi diragukan kualitasnya. Meski tidak semuanya, tetapi kebanyakan dari peserta biennale kali ini tampil dengan kualitas karya yang cukup menghibur dunia seni rupa.

Yang pasti, karya mereka tentu bukanlah pistol yang bisa memberi kontribusi untuk menembak para koruptor atau politisi kampungan di sekujur negeri ini. Lupakanlah kontribusi verbal seperti itu.

No comments: