Nasirun: Narasi Pertarungan dan Pertaruhan


Oleh Kuss Indarto

(Catatan yang hanya 30% dari tulisan "aslinya" ini termuat dalam katalog kecil pameran tunggal Nasirun, "Run: Embracing Diversity". Catatan utuh dimuat dalam buku tebal yang juga mengiringi pameran ini, yang berlangsung 29 Mei s/d 2 Juni 2016, di Sportorium kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

[Satu: Menuju Yogya, Uang Pintu, dan Bismillah]

MALAM telah menjemput ketika kereta api jurusan Bandung-Yogyakarta tiba di Tugu, stasiun kereta api terbesar di Yogyakarta. Ratusan penumpang pun turun dalam keriuhan. Beragam manusia berjejal membopong tas, koper, dan bawaan lain, bertumbuk bersama para penjemput yang telah puluhan menit menanti kedatangan kereta tersebut. Mereka bersengkarut dengan para kuli angkut yang tangkas menawarkan jasa kepada para penumpang yang penuh terbebani barang bawaan.
            Dalam keriuhan manusia itu, ada dua anak kecil belasan tahun yang terselip di antaranya. Mereka menumpang kereta api itu dari stasiun Kroya, kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sekitar 150 kilometer ke arah barat dari kota Yogyakarta. Langkah kedua anak itu cukup gontai karena seperti masuk dalam terowongan kenyataan yang belum bisa sepenuhnya diterima: terombang-ambing antara fakta dan fiksi bahwa dalam beberapa jam menumpang kereta api, mereka kini telah masuk dalam ruang raksasa bernama kota Yogyakarta yang relatif besar, ramai, penuh lampu benderang dan riuh dengan manusia. Ini kontras dibanding suasana dan kondisi dusun Ndoplang, desa Adireja Wetan, kecamatan Adipala, kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang barusan ditinggalkan sesaat menjelang rembang petang datang.
            Ya. Nasirun dan Slamet Riyadi nama dua anak itu. Mereka masing-masing baru beberapa hari sebelumnya dinyatakan lulus dari Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Maos, Cilacap dan SMP Pemda Cilacap, Jawa Tengah. Niatan mereka untuk meninggalkan kampung sudah sangat bulat. Ada bekal uang saku meski tidak terlalu banyak. Dalam tas, masing-masing juga membawa pakaian secukupnya ditambah beras beberapa kilogram. Mereka tak tahu untuk apa beras itu akan dimanfaatkan karena hendak melangkah kemana tujuan pun belum jelas—apalagi mencari kompor dan panci untuk menanak nasi.
            Nasirun dan Slamet Riyadi dengan pelahan berjalan beringsut menuju sepotong jalan paling legendaris di Yogyakarta, Jalan Malioboro. Ratusan meter tubuh jalan itu ditelusuri dari ujung utara hingga di sekitar Gedung Agung dan Kantor Pos Besar berada. Nasirun tak ingat persis hari dan tanggal mereka tiba di Yogyakarta untuk pertama kalinya itu. Ingatan yang bisa digalinya adalah pada baliho besar yang terpampang persis di sebelah gedung Kantor Pos Besar yang kala itu memajang gambar bertema tentang Gerhana Matahari Total (GMT). GMT sendiri terjadi di tanah Jawa dan kawasan lain di Indonesia pada tangal 11 Juni 1983. Ya, mungkin sekitar akhir Mei 1983 atau awal Juni 1983 mereka tiba di Kota Gudheg itu. Baliho di Kantor Pos itu karya seniman Samsoel yang membuat korporasi bernama Samsoel Group. Nasirun teringat betul ada sosok Hanoman dalam baliho—yang menurutnya janggal karena gerhana matahari dalam kisah di dunia pewayangan selalu berkait dengan Bathara Kala Rahu yang dikisahkan menelan matahari, bukan tokoh kera putih Hanoman.
            Niat dan tekad mereka berdua hingga menapak di Yogyakarta lebih banyak dibekali oleh keinginan besar untuk meneruskan studi, khususnya studi seni menggambar yang menjadi minatnya sejak kecil. Namun mereka tidak tahu sama sekali apa nama sekolah itu, dimana sekolah itu berada, dan bagaimana caranya masuk serta kapan waktu pendaftaran masuk sekolah tersebut. Semuanya buta. Semuanya blank. Mereka tak bisa mendapatkan masukan dari para orang tua di sekitarnya karena mereka jauh lebih tidak mengerti apalagi paham. Orang-orang di lingkungan mereka adalah murni para petani yang belum punya kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan—apalagi pendidikan menengah dan tinggi, terlebih disiplin seni yang mungkin tak tersentuh dalam alam pikiran mereka.
            Antara tekad dan kebimbangan, dua anak muda itu terus menapaki Jalan Malioboro. Pengalaman yang minim dalam persentuhan dengan masyarakat lain membuat mereka tambah masalah. Mereka agak gagap ketika mendengar dan harus berkomunikasi dengan berbahasa Jawa logat Yogyakarta. Meski sama-sama Jawa, dialek/logat ala Cilacap atau Banyumasan yang biasa dipakai oleh Nasirun dan Slamet Riyadi cukup berbeda. Bahkan tidak sedikit kata-kata dalam bahasa Jawa di Cilacap yang tidak dipahami oleh orang Yogyakarta. Begitu sebaliknya. Bahasa Jawa dialek Banyumas (termasuk di dalamnya Cilacap) oleh orang luar pemakai bahasa tersebut sering disederhanakan sebagai bahasa ngapak-ngapak karena sangat menekankan atau kental ketika mengucapkan konsonan “k” atau “g”. Sementara orang Banyumas sendiri menyebutnya sebagai bahasa cablaka karena dianggap relatif egaliter dan penuh keterbukaan. Hierarkhi kebahasaannya tidak sangat ketat seperti dalam bahasa Jawa khas Yogyakarta dan Surakarta—dengan tingkatan ngoko, krama hingga krama inggil. Nasirun dan Slamet Riyadi sendiri jarang bercakap-cakap dengan orang dari latar belakang bahasa yang berbeda membuat mereka berdua lebih sering berbicara sendiri, tidak banyak mencoba berkomunikasi dengan orang lain.
            Begitulah. Malam di Malioboro kian larut. Manusia yang bertebaran dan riuh pada jam-jam sebelumnya, kini mulai menyusut. Nasirun dan Slamet mulai gelisah karena tak tahu apa yang harus dilakukan. Tak tahu pula kemana kaki-kaki kecil yang bercelana pendek itu hendak dijuruskan. Mereka memutuskan untuk duduk-duduk di sepanjang Jalan Malioboro. Bukan tidak mungkin mereka berdua akan tidur di situ menunggu pagi ketika orang-orang membuka lembar kehidupan kembali—karena betul-betul tak tahu apa yang harus dilakukan.
            Gelagat kegelisahan dua anak tersebut rupanya diperhatikan oleh seseorang yang tengah melintasi Malioboro. “Nuju naon anjeun? Sedang apa kamu? Mau kemana?” orang itu dengan serta-merta bertanya pada Nasirun dan Slamet. Dari bahasa dan logatnya, pastilah dia orang Sunda. Wajah dan sapaannya tampak ramah meski sepertinya lelah setelah seharian bekerja. Di punggungnya masih terpikul sepasang wadah besar terbuat dari seng. Dia pedagang kerupuk rupanya, yang mungkin barusan berkeliling dari kampung ke kampung menjajakan dagangannya. Dua anak desa itu dengan ragu dan polos menjawab pertanyaan tukang kerupuk tersebut, bahwa mereka datang ke kota Yogyakarta semata-mata ingin melanjutkan sekolah menengah atas khusus menggambar, dan tidak tahu sama sekali alamat sekolah itu.
            Tampaknya, malam itu, si pedagang kerupuk seperti menjadi “malaikat kecil” bagi anak-anak Cilacap tersebut. Baik Nasirun maupun Slamet Riyadi sudah lupa sama sekali nama orang itu, namun masih sangat diingatnya bahwa mereka berdua diajak untuk berjalan mengikuti orang itu menuju rumah kontrakannya di bilangan Soragan, sebuah kampung sekitar 2 kilometer ke arah barat dari Jalam Malioboro. Kampung itu persis di sebelah utara rel kereta api. Rupanya, di rumah kontrakan itu tinggal beberapa tukang kerupuk yang semuanya berbahasa Sunda. Kemungkinan mereka memang dari daerah yang sama: Jawa Barat. Dengan baik hati anak-anak itu diberi makan malam dan tempat untuk tidur—tentu dengan segala keterbatasannya.
            Kebaikan tukang kerupuk itu rupanya berlanjut. Paginya, setelah semuanya berbenah, Nasirun dan Slamet diantar oleh tukang kerupuk dan seorang temannya untuk mencari sekolah menggambar yang ada di kawasan Yogyakarta. Dua tukang kerupuk betul-betul meluangkan waktu mereka pagi itu hanya untuk dua anak Cilacap tersebut. Mereka tidak bekerja seperti biasa, namun berbaik hati mengantar Nasirun dan Slamet Riyadi sembari bertanya kepada orang yang ditemuinya demi sang tamu.
            Setelah bertanya ke sana-sini, akhirnya mereka berempat melaju menuju bilangan Kuningan, Karangmalang—yang tempatnya di Yogyakarta utara, berdampingan dengan kampus IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta, UNY), atau sebelah timur kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Tempatnya, kala itu, satu kompleks dengan Akademi Seni Tari (ASTI) Yogyakarta—sebelum melebur menjadi bagian dari Institut Seni Indonesia sejak tahun 1984. Di situlah kemudian Nasirun dan Slamet Riyadi dilepas oleh dua tukang kerupuk untuk mendaftarkan diri masuk sekolah yang diinginkan dan mimpikannya: SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa).

***

Langkah besar pertama sudah direngkuh Nasirun dengan meneruskan studi di Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta. Ini pencapaian pertama dalam keluarganya karena dari tujuh bersaudara, baru dirinyalah yang bisa menapak naik ke jenjang pendidikan sekolah menengah atas. Saudara-saudaranya hanya berbekal pendidikan sekolah dasar. Sebagai anak ke-6 dari pasangan Sanrustam dan Supiah, dia menyadari bahwa kakak-kakaknya yang sama-sama lahir dan tumbuh di lingkungan pedesaan dan dalam lingkar keluarga petani, seperti pasrah dan nrimo, mengarus dengan keadaan sekitar. Namun Nasirun tidak. Dia memiliki krenteg (kekuatan atau passion dari dalam diri) yang kuat untuk keluar dari arus utama kebiasaan keluarga yang turun-temurun menjadi petani. Pilihan hidup dan pilihan profesi menjadi petani, dalam keluarganya, belum memungkinkan untuk berkecukupan secara ekonomis. Nyaris semua pas-pasan.
            Kakak tertua Nasirun, Ruminah beserta Muhadi, suaminya, dan anak-anaknya meninggalkan kampung halaman Adipala pada tahun 1970-an menuju ke Sumatera Selatan untuk bertransmigrasi. Keputusan keluarga Ruminah itu mendasarkan diri pada realitas yang dialami bahwa mereka ingin melepaskan dari kungkungan kemiskinan dan mencari kemungkinan-kemungkinan kehidupan yang lebih baik. Keputusan itu juga dialami oleh beberapa tetangga atau kerabat lain di kampung Doplang. Demikian pula dengan Ahmad Dawam, kakak Nasirun yang nomer dua. Ahmad Dawam dan istrinya Miskem sekeluarga memutuskan mengadu peruntungan dengan mengikuti program pemerintah untuk bertransmigrasi ke Tanah Rencong Aceh sekitar akhir dasawarsa tahun 1970. Kakak yang satu ini bahkan meninggal di Aceh tahun 2005 silam, lalu anak-anaknya meneruskan hidup dan beranak-pinak di Nangroe Aceh Darussalam. Pilihan untuk bertransmigrasi tentu masuk dalam nalar karena sebagai keluarga petani pas-pasan, mereka tak lagi memiliki lahan pertanian milik sendiri yang berukuran luas. Ayah-ibu mereka, Sanrustam dan Supiah, telah membagi harta mereka berupa petak-petak sawah yang tak seberapa luas. Bagi Ruminah dan Ahmad Dawam, harta warisan itu terlampau kecil untuk digarap dan terpaksa hanya bisa menjadi petani penggarap bagi sawah orang lain untuk survive. Realitas ini—lingkaran setan kemiskinan yang terus mengungkung—yang ingin dipangkasnya dengan cara bertransmigrasi.
            Jejak dua kakak tertua itu juga hendak diikuti oleh Bariyah dan suaminya, Madsuwardi. Bariyah adalah kakak perempuan Nasirun yang lain—atau anak kelima pasangan Sanrustam dan Supiah. Pasangan ini juga segera menyusul bertransmigrasi ke Sumatera pada awal dasawarsa 1980-an. Mereka sudah mendaftar di kantor transmigrasi, bahkan telah ditentukan di kabupaten dan propinsi mana hendak ditempatkan. Namun pada akhirnya mereka membatalkan untuk berangkat. Pertimbangannya, Bariyah adalah anak perempuan satu-satunya yang masih dekat dengan sang ibu, Supiah—yang telah hidup menjanda sekian lama. Dalam tradisi orang Jawa (atau suku lain di Indonesia), anak perempuan seperti memiliki “kewajiban” untuk menunggui dan ngopeni (merawat) hari tua ayah ibunya.
            Selain mereka, dua kakak dan satu adik laki-laki Nasirun tetap tinggal di dusun Doplang. Dua kakak laki-laki itu telah berkeluarga. Rois Hasyim telah berkeluarga dengan dua anak dan tinggal persis di samping rumah ibunya. Sehari-harinya menjadi petani dan guru mengaji bagi orang-orang dan anak-anak di kampung. Sementara Ahmad Zaenuri dan keluarganya menempuh hidup dengan menjadi pedagang obat. Ya, tukang obat keliling, satu profesi yang cukup langka dan dibutuhkan ketika waktu itu puskesmas berada jauh di kota kecamatan dan apotik hanya ada di kota kabupaten. Di antara saudara-saudara Nasirun, kondisi ekonomi Ahmad Zaenuri terbilang paling mapan. Dialah salah satu orang yang relatif cukup banyak membantu atau dimintai bantuannya oleh Nasirun (dan saudara lainnya) kala itu.
            Keadaan ekonomi keluarga yang sederhana inilah yang disadari oleh Nasirun untuk tidak bisa banyak menuntut. Ibunya sudah menjanda dengan warisan berupa sawah yang tidak luas. Sementara saudara-saudaranya yang lain sudah sibuk dengan kehidupan keluarga dan dunianya masing-masing. Maka, ketika Nasirun pulang dari Yogyakarta dan mengabarkan bahwa dirinya diterima masuk sekolah di SMSR, bagi keluarganya itu bukan sepenuhnya menjadi berita gembira. Itu menjadi tambahan beban keluarga karena ibu dan saudara-saudaranya segera membayangkan bergepok-gepok uang yang harus dibawa dan kelak disiapkan untuk menempuh dan menyelesaikan studi di sana.
            Ya, Nasirun mau tak mau mesti merundingkan niatnya yang telah mantap untuk bersekolah di Yogyakarta bersama ibu dan saudara-saudaranya. Keadaan ekonomi keluarga tak memungkinkan tersedianya dana demi kepentingan studi. Semuanya pas-pasan. Segalanya bahkan dalam keadaan terhimpit oleh kebutuhan yang lebih elementer—dan dana untuk kepentingan sekolah bukan bagian dari perkara elementer itu.
            Nasirun, sang ibu Supiah, dan saudara-saudaranya pada titik kritis itu akhirnya punya keputusan untuk menjual warisan berupa sepetak sawah yang tak terlalu luas yang tak jauh dari rumah tinggal ibunya. Itulah satu-satunya warisan yang kelak akan dijatahkan untuk Nasirun. Sementara petak-petak sawah lain di sekitarnya sudah menjadi bagian yang diwariskan untuk saudara-saudara lainnya. Memang masih ada pekarangan berikut rumah berdinding bambu dan berlantai tanah yang masih ditempati oleh satu-satunya orang tua yang tersisa itu. Namun itu sudah menjadi jatah yang kelak diwariskan untuk adik bungsunya, Komarudin.
            Persoalan pun kembali muncul: bagaimana mungkin menjual sepetak sawah dalam waktu yang singkat? Tentu tak mungkin menguangkan sawah dalam hitungan hari karena keluarganya tak punya akses pada kaum hartawan, sementara orang-orang di sekitarnya relatif homogen kondisi ekonominya—kurang lebih sama kekayaannya dengan keluarga Nasirun. Sedangkan Nasirun harus secepat mungkin mendapatkan uang yang cukup besar untuk membayar sekolah sekaligus biaya hidup beberapa bulan di Yogyakarta. Nasirun ngedrel (mendesak) terus pada ibunya untuk mendapatkan uang. Imajinasinya untuk hidup dan bersekolah di Yogyakarta sudah kian meletup-letup, tak bisa dicegah lagi.
            Ketika semuanya nyaris menemui jalan buntu, sang ibu mengusulkan tawaran solusi yang tak dibayangkan sebelumnya oleh Nasirun: menjual pintu kayu berikut ambangnya (gawangan-nya) termasuk sepasang jendela kecil, yang semuanya berada di dalam rumah dan difungsikan sebagai pembatas antara ruang tamu/depan dan ruang tengah. Semuanya terbuat dari kayu jati, kayu terbaik di Jawa. Glek! Nasirun terhenyak oleh pilihan solusi ibunya yang dianggap begitu ekstrem dan berani. Bagaimana mungkin interior rumah yang selama ini tertata rapi—meski dalam kesederhanaan—harus berubah dan berkurang karena ada pintu dan jendela yang dicopot karena dijual? Kenapa dia begitu ikhlas berkorban bahkan dengan “menggerogoti” rumahnya yang sudah begitu sederhana? Nasirun terharu dengan keputusan ibunya itu.
            Akhirnya pilihan solusi itu jadi keputusan keluarga. Semua setuju. Namun praktiknya juga tidak sederhana. Menjual sepasang daun pintu dan jendela berikut ambangnya—dalam waktu cepat—juga bukan perkara mudah. Apalagi di desa. Rundingan keluarga pun berlanjut. Hasilnya, keluarga kakak Nasirun, pasangan Bariyah-Madsuwardi diminta untuk membeli pintu dan jendela berikut gawangan-nya tersebut. Mereka setuju karena pertimbangan bahwa sang adik harus secepatnya dibantu pembiayaan sekolahnya yang sedang mendesak, dan kalau ada transaksi jual-beli barang dalam keluarga itu, toh barang tersebut masih menjadi milik keluarga besar, tidak lepas ke orang lain. Bagi sang ibu, Supiah, praktik itu dirasa lebih santun karena dia tidak menggantungkan tanggung jawabnya sebagai orang tua pada Nasirun dengan tanpa “modal”. Pintu dan jendela yang menjadi aset dalam rumahnya dijadikan “modal” untuk ditransaksikan dengan Bariyah anaknya. Dan itu untuk kepentingan anaknya yang lain, Nasirun. Bariyah-Madsuwardi membeli pintu berikut gawangan dan jendela itu seharga Rp 70.000,- (tujuh puluh ribu rupiah). Angka itu, sekitar Juni 1983, tentu sangat besar nilainya. Sebagai gambaran pembanding, Bappenas (Badan Perencana Pembangunan Nasional) mencatat harga beras di Yogyakarta pada bulan Maret 1983 sebesar Rp 273,92,-/kilogram. Nilai kurs 1 dollar AS kala itu sama dengan Rp 970,- (sembilan ratus tujuh puluh rupiah), dan harga perliter bensin premium masih Rp 320,- (tiga ratus dua puluh rupiah).
            Semua uang hasil penjualan pintu diserahkan untuk Nasirun. Itulah salah satu modal penting bagi anak muda tersebut dalam pertaruhan pada jalan hidupnya di tahun-tahun berikutnya. Itulah “uang pintu” yang mampu menjadi “pembuka pintu” bagi perubahan nasib diri Nasirun (dan keluarganya) ke depan. Supiah berani mempertaruhkan pintu, jendela dan gawangan-nya yang terbuat dari kayu jati pilihan itu demi jejak-jejak masa depan salah satu anaknya yang juga berani menerabas mencari jalan hidup berbeda ketimbang anak-anak Supiah yang lain. (Setelah pintu dan jendela berpindah tangan ke rumah Bariyah-Madsuwardi, lembaran kandhi (karung beras yang terbuat dari plastik) menjadi penutup antara ruang tamu dan ruang tengah rumah Supiah).
            Tak lama Nasirun pulang ke rumah. Setelah mendapatkan uang dan bekal lainnya, dia berpamitan hendak berangkat ke Yogyakarta dan resmi akan menjadi siswa SMSR. Dengan teduh ibunya berujar: “Inyong mung bisa nyangoni Bismillah.” Aku hanya bisa memberi bekal Bismillah. Bismillah, tentu, merupakan kependekan dari kalimat dan doa bagi pemeluk agama Islam, Bismillaahir rahmaani rahiim (dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Doa ini diucapkan untuk memulai segala sesuatu. Bagi Nasirun—bertahun-tahun kemudian—bekal almarhumah ibunya itu dirasakan begitu sederhana namun penting, menyentuh kedalaman perasaan, dan berarti bagi semua rentetan perjalanan hidup dan kariernya dalam berkesenian. Ibunya yang digambarkan oleh Nasirun sebagai sosok dengan pendalaman spiritualitas mumpuni itu sebelumnya sempat aktif sebagai penganut kepercayaan Sunda Wiwitan di tanah kelahirannya di Cikembulan, Ciamis, Jawa Barat. Sangu (bekal) dari ibunda itu kelak di kemudian hari selalu menjadi pangeling-eling (pengingat) ketika dia menjalani atau menghadapi berbagai persoalan hidup.

***
[Lima: Seniman Pasar, Tradisi, Buraq]

Kini, pencapaian Nasirun telah banyak, tergantung dari perspektif mana dia akan dilihat. Dari kuantitas berpameran, misalnya, seniman ini nyaris begitu sibuk tiap hari, tiap waktu. Sebagai contoh, tahun 2014 dia mengikuti pameran kolektif sebanyak 9 kali, lalu tahun 2015 karya-karyanya telah terdistribusi dalam 19 pameran kolektif, dan tahun 2016 ini—di luar pameran tunggal—Nasirun mengikuti sekitar 12 pameran. Nyaris tiap bulan selalu ada karya yang dieksposisikan kepada publik di dalam negeri maupun di mancanegara.
            Meski ukuran kuantitas berpameran tidak secara mutlak berbanding lurus dengan kualitas karya dan pameran, namun ada poin yang pantas diketengahkan untuk konteks ini, yakni ada produktivitas dari seniman yang tak bisa diabaikan, karena dari faktor itu juga menyeruak kreativitas. Kuantitas pameran atau banyaknya undangan pameran itu juga mengisyaratkan adanya pengakuan atau akseptabilitas masyarakat seni rupa terhadap karya dan reputasi Nasirun. Logikanya sederhana, bahwa seorang seniman akan banyak menerima tawaran berpameran karena pertimbangan kualitas karya dan bangunan reputasi seniman yang bersangkutan. Nasirun juga mengaku sulit untuk menolak ajakan berpameran. Hampir semua ajakan pameran nyaris diiyakan, mulai dari biennale seni rupa, pameran di sebuah galeri prestisius di Tokyo, art fair di Hongkong, hingga pameran untuk acara tujuhbelasan pada sebuah kampung. Sepanjang masih cukup waktu dan ada kesiapan karya, pasti akan disangupinya untuk ikut.
            Pada konteks tertentu, orang atau pihak yang mengundangnya karena ada pertimbangan tambahan, misalnya, kemungkinan daya serap pasar yang relatif bagus terhadap karyanya. Bisa dipahami kalau pameran seni rupa antara lain bertendensi pada pencapaian pasar, maka pertimbangan untuk membawa karya dari seniman yang marketable jadi sangat penting.
            Dengan nada bercanda Nasirun tidak jarang mendaku diri sebagai seniman pasar. “Inyong kiye bakul,” selorohnya dalam bahasa Jawa gaya Banyumasan. “Saya itu seorang pedagang.” Ini sebuah ujaran yang sengaja dilontarkannya untuk mengarus pada anggapan beberapa pihak—termasuk sebagian seniman yang merasa paling kuat idealisme berkeseniannya—bahwa dia seolah-olah seniman yang hanya berorientasi pada market. Seloroh Nasirun di atas adalah siasat yang dipakainya untuk menghindari debat yang tidak produktif tentang “seniman pasar” versus “seniman idealis/wacana”. Dia siap pasang badan atau pasrah kalau dibilang sebagai “seniman pasar”, namun tetap berupaya keras menggeluti dunia seni rupa dengan senantiasa melakukan ekplorasi dan eksperimentasi atas gagasan, konsep, medium dan eksekusi visual. Dia melakukan antitesis atas anggapan bahwa dirinya “seniman pasar”. Siasat kreatifnya itu pelan-pelan disadari sebagai sebuah bentuk perlawanan yang meminimalkan konflik, namun hasilnya cukup menohok memukul balik para pengritiknya. Nasirun bukanlah “seniman pasar” yang sepenuhnya tunduk pada kemauan pasar, namun justru sebaliknya, menghindari kontrak-kontrak dengan lembaga pelaku pasar seni rupa yang menjerat idealismenya. Karyanya secara gradual menemu hal yang baru dan segar, baik secara kebentukan maupun gagasan.
            Kira-kira, apa yang membuat karya Nasirun memiliki magnet tersendiri dalam peta seni rupa di Yogyakarta dan Indonesia? Ini bukan pertanyaan mudah karena akan menemui kompleksitas persoalan yang melingkunginya. Kita bisa merunut pada konsep dasar dari proses penciptaan Nasirun tahun 1993 saat dia berpameran tunggal di Mirota Gallery.
            Konsep itu dijuduli “Proses Menggauli Budaya Nenek Moyang” yang selengkapnya berbunyi: Berawal dari kecintaan saya dengan pertunjukan wayang kulit. Sebuah tontonan yang penuh dengan cerita yang di dalamnya terkandung banyak pesan, gambaran kehidupan manusia di dunia, serta watak-watak yang dimilikinya. Dari hal tersebut, kemudian saya tertarik akan bentuknya, ornamen-ornamennya, serta warna-warnanya. Lebih-lebih kekuatan stilisasinya, merupakan daya tarik yang demikian kuat. Lebih-lebih lagi adalah nilai-nilai filsafat yang dikandungnya. Dalam lukisan-lukisan saya, wayang saya gunakan sebagai penggambaran perilaku umat manusia. Itulah salah satu proses kreasi saya dalam melukis, berusaha ingin memadukan pengalaman-pengalaman tersebut, dengan kemampuan teknik yang saya peroleh lewat bangku akademik. Kemampuan pikiran saya, ditambah dengan kemampuan teknik yang saya peroleh lewat bangku akademik, menjadi suatu lukisan yang penuh dengan cerita. Cerita-cerita tersebut kadang-kadang lepas dari peristiwa yang sesungguhnya, namun kadang-kadang mirip dengan cerita yang sesungguhnya. Demikianlah seni lukis saya. Yang bermula dari kenangan terhadap pertunjukan wayang di saat saya masih anak-anak, kemudian timbul tuntutan untuk lebih memahami ceritanya, falsafahnya, serta berbagai cerita lainnya (di luar cerita wayang) yang demikian banyak dan mengesankan. Kesemuanya itu akan saya coba untuk menggalinya, yang pada akhirnya nanti akan memberikan ciri khas lukisan-lukisan saya.”
            Konsep tersebut nyaris sama persis dengan konsep pameran Tugas Akhirnya di Fakultas Seni Rupa dan Disain ISI Yogyakarta tahun yang sama—karena sebagian karya yang dipamerkan di Mirota Gallery memakai materi karya dan garis kreatif yang masih serupa.
            Konsep ini mengindikasikan banyak persoalan yang kiranya masih relevan untuk terus dikuliti karena visualisasi atas konsep tersebut masih terus mengendap pada karya-karyanya hingga kini. Karya Nasirun masih identik dengan dunia wayang, dan wayang nyaris selalu mengisyaratkan perbincangan tentang ornamen, detail, sistem simbol visual, semiotika, hingga filsafat dan lainnya. Wayang dalam karya Nasirun bukanlah wayang dengan visualisasi yang an sich, tertib secara visual seperti halnya yang dapat disaksikan dalam pergelaran aslinya, namun sudah digubah sedemikian rupa menurut versi Nasirun. Hal yang masih menguat adalah spirit, dan narasi tentang wayang yang merepresentasikan atas segala hal dan peristiwa yang terjadi dalam realitas sosial kekinian. Baginya, wayang selalu aktual untuk masuk dalam segala ruang dan waktu. Wayang dapat digubah melampaui aspek ruang dan waktu.
            Dalam pengamatan saya, dari karya-karya Nasirun yang dibuat dan dipresentasikan dalam pameran tunggal pertamanya tahun 1993 hingga pameran tunggalnya tahun 2016 ini (23 tahun kemudian), ada figur yang setia muncul pada satu-dua karya, yakni kepala/wajah perempuan berambut panjang dan bertubuh kuda. Misalnya dalam lukisan bertajuk “Misteri Blawong” (1993, cat minyak di atas kanvas, 145 x 90 cm) pada pameran tahun 1993 di Mirota Gallery. Tujuh tahun kemudian saat berpameran tunggal dengan tajuk “Ojo Ngono”, Oktober 2000 di Galeri Nasional Indonesia, karya yang di dalamnya mengetengahkan figur serupa ada pada lukisan berjudul: “Selamat Datang Blawong” (2000), “Imaji Nafsu” 1995), “Imaji Manasar” (1995), dan “MIsteri Blawong I” (1994). Dan sekarang, 16 tahun kemudian, kembali ada dua patung perempuan betubuh kuda, terbuat dari resin setinggi 175 cm.
            Sosok kepala perempuan bertubuh kuda, atau sebaliknya figur kuda berwajah perempuan itu mengingatkan pada sosok yang teridentifikasi sebagai buraq, yakni sosok binatang ajaib yang terlibat dalam peristiwa spiritual terbesar pada sejarah Islam ketika Nabi Muhammad menjalani Isra-Mi’raj. Sosok ini juga serupa dengan pegassus yang ada dalam kultur Yunani. Memori orang Indonesia, khususnya orang Jawa, mengenal sosok buraq tidak muncul seketika dan tidak selalu mengacu pada visualisasi yang berasal dari Timur Tengah serta narasi sejarah spiritual Islam, tapi mula-mula lebih dekat pada acuan visualisasi wayang yang merujuk pada epos Ramayana dan Mahabarata yang berasal dari India.
            Epos Ramayana dan Mahabarata sendiri masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan agama Hindu diperkirakan terjadi pada abad pertama masehi—jauh sebelum Islam masuk. Ada banyak karya seni dan karya literer kuno di Jawa masa lalu yang diduga merupakan tafsir terhadap kedua epos tersebut. Hingga kini telah banyak variasi visual tentang sosok itu dalam dunia perwayangan yang khas Jawa dan tidak mengadopsi mentah-mentah dua epos India tersebut. Ada upaya pembumian teks atau visualisasi itu. Sekurang-kurangnya, dalam rentang 15 abad telah terjadi modifikasi alur epos maupun penciptaan visualisasi tokoh-tokoh utamanya. Kedatangan Islam ke Jawa ikut menyumbang pengaruh atas perkembangan literer dan visual perwayangan, baik kandungan filosofis maupun aspek visualnya. Tapi secara umum, rujukan pada kedua epos tersebut tetap sangat kuat. Visualisasi sosok kuda terbang yang mirip dengan sosok binatang buraq, dalam tradisi perwayangan Jawa, beberapa kali muncul bukan sebagai binatang tunggangan belaka melainkan sebagai penjelmaan tokoh misterius (tak berasal-usul) dan di antaranya ada yang kawin dengan manusia dan melahirkan orang sakti.
            Menurut Wicaksono Adi, binatang ini hadir sebagai sosok infra-human sekaligus supra-human, yang lebih rendah sekaligus lebih tinggi dari manusia. Maka ia tak dapat muncul pada sembarang waktu dan sembarang tempat. Domisili, sejarah dan wataknya pun tak dapat ditentukan dengan pasti. Ia samar dan sukar dirumuskan.
            Penghadiran sosok perempuan atau manusia bertubuh kuda, atau kalau dipahami sebagai buraq, seperti diandaikan oleh Nasirun sebagai sebuah medan penyemangat bagi dirinya. Dia seperti ingin dibawa makhluk serupa itu untuk menuju situasi yang berbeda, yang lebih baik, menemu keajaiban hidup dengan perubahan nasib yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tak berlebih kiranya kalau buraq itu banyak terbenam dalam kanvasnya, atau karya-karya dengan medium lainnya, karena barangkali itu serupa doa dan pengharapan dari Nasirun untuk mengubah jalan hidup menjadi penuh keberuntungan. Ya, Nasirun sendiri yang tahu persis bagaimana perubahan itu terjadi dan terasa dalam dirinya, luar dan dalam, lahir dan batin. Setidaknya sejak dia dan sahabatnya, Slamet Riyadi, tigapuluh tiga tahun lalu nekad pergi ke Yogyakarta naik kereta api—bukan naik buraq. ***

Popular posts from this blog

Lukisan Order Raden Saleh

Memanah

Apa Itu Maestro?