Monday, May 30, 2016

Selamat Jalan, S. Teddy D.

Mungkin tahun 1993 atau 1994, pintu masuk dan sebagian tembok gedung Seni Murni, Fakultas Seni Rupa (dan Disain) ISI Yogyakarta, ditutup dengan ratusan kertas fotokopian bergambar potret diri. Jajaran kertas itu meneror mata karena tertata secara repetitif dan dalam jumlah yang banyak. Kertas yang dilem di pintu gerbang kaca tersebut juga membuat ruang di balik pintu jadi gelap. Ternyata, itu semua ulah S Teddy Darmawan, sosok mahasiswa Seni Lukis angkatan 1992. Reaksi teman-teman mahasiswa waktu itu beragam. Ada yang komentar, “Asu, opo meneeehh iki?” karena anak-anak Kampus Gampingan (dari nama kampung tempat FSRD ISI Yogyakarta berada) sering bikin ulah. Pun ada celetukan lain yang beragam: “ah, caper”, “Karepe ngopo to iki?”, “Iki mata kuliah Eksperimental po?” dan lainnya. Biasa, selalu riuh dengan reaksi plus-minus. Kalau bertahun-tahun kemudian Teddy sangat eksploratif sebagai seniman dengan berbagai gagasan artistik dan estetik seni rupa, momentum aksi tempel fotokopian di tembok kampus itu bisa menjadi salah satu bukti awal.
20 April 1995 atau 1996 (lupa tahun persisnya) aku mengajak S Teddy D, Edo Pillu, Bramantyo, Sofwan Zarkasi (sekarang dosen ISI Surakarta), Eko Bola, dan lain-lain untuk bergabung dengan para aktivis perempuan. Kami semua berombongan 2 bus, berangkat tengah malam dari Gelanggang UGM menuju kota Rembang. Dalam rombongan itu ada mas Dadang Christanto (bersama keluarga), mbak Yuni Satia Rahayu (bertahun-tahun kemudian menjadi Wakil Bupati Sleman), Damairia Pakpahan (istri mas Dr. St. Sunardi), dan lainnya. Pagi hari rombongan tiba di Rembang. Sekitar pukul 10.00-an, kami semua menuju alun-alun kota Rembang untuk membuat aksi (yang kurang lebih mempertanyakan kembali sisi heroisme R.A. Kartini). Upacara resmi yang digelar oleh pemda gaduh oleh kedatangan kami. Apalagi kami, beberapa yang dari FSRD ISI Yogya berjalan dengan tubuh berlumuran cat putih dan hanya bercelana dalam. S Teddy D yang kalau tak salah berjalan paling depan di barisan bercawat itu cuek dengan kegaduhan itu. Kami mrengas-mrenges dalam kegaduhan, sementara pak Dandim yang berpangkat kolonel turun tangan, marah-marah berusaha mengatasi kehadiran kami semua. Bila sosok Teddy selalu liar dengan pilihan dan karya kreatif yang terus lahir dari tangan dan otaknya, dan cuek dengan problem tatanan, definisi, pagar-pagar estetika atau apapun namanya, bibit-bibit itu memang sudah lama hadir dalam dirinya.
Teddy, kalau kemarin, 27 Mei 2016, kamu pergi selamanya, dan Senin siang ini, 30 Mei, segera dikremasi, selamat jalan. Kelak kami, aku, dan semuanya pasti akan menyusul dalam keabadian. Ide dan artifak yang telah kau telurkan dan tinggalkan masih akan tetap hadir dalam keabadian juga. Ars Longa Vita Brevis.