Thursday, September 01, 2016

Sop Sapi


Setiap kali mampir makan di warung sop sapi itu, salah satu pelayannya, seorang laki-laki yang ber-make up cukup tebal dan kemayu selalu menyapa kami dengan santun. “Makan apa, mas? Adik makan juga?” sapanya pada kami sekeluarga. Warung itu ada di pinggir timur Kebumen, dekat batas kota, di sisi selatan jalan. Adikku yang merekomendasi tentang lezatnya sop sapi di situ. Dan memang benar, lidahku sekeluarga cocok. Pantas kalau warung itu cukup ramai. Bahkan mengantri banyak kalau pas jam makan siang datang.

Maka, setiap kali mudik beberapa bulan sekali ke Banyumas yang jaraknya sekitar 180 km dari Yogyakarta, kami berhenti makan di separuh jarak tersebut, yakni di jarak sekitar 100 km, persisnya di batas timur kota Kebumen. Dan setiap kali kami datang, mas-mas yang kemayu itu hampir pasti antusias menyambut kami. “Makan apa, mas? Ini masih komplit,” sapanya. Sementara pelayan lain, 4 perempuan, ramah meski datar cara penyambutannya.

“Ritus” itu berkali-kali kami alami setiap mampir makan. Hingga pada suatu kesempatan kami menemui kejanggalan. Seperti biasa, kami membelokkan kendaraan untuk istirahat dan makan di warung tersebut. Tapi mas-mas kemayu itu tak ada lagi. Tak ada lagi sapaan yang antusias. Di tengah-tengah saat makan, istriku berkomentar, “kok rasa bumbu kuahnya beda ya?” Aku mengiyakan sambil bilang, “mungkin kali ini masaknya sambil ngantuk.”

Beberapa bulan kemudian kami berkesempatan mampir lagi ke warung itu. Lagi-lagi, mas-mas kemayu itu tidak kutemui. Tak kudengar lagi sapaannya, juga make up-nya yang agak tebal. Maka, kutanyakan hal itu pada keempat pelayan warung yang masih ada itu. “Mas-nya itu kok tak kelihatan lagi, bu, mbak?” tanyaku. “Iya, dia sudah keluar,” jawab salah satu perempuan. “Kenapa? Pindah ke cabang lain? Atau ke restoran yang lebih besar?” desakku. “Tidak tahu.” Tak ada jawaban lain. Aku tak mencoba menginvestigasi lebih jauh. Kami kembali merasakan rasa sop sapi di warung itu tak lagi sekuat waktu-waktu sebelumnya.

Aku langsung berkesimpulan bahwa tampaknya mas-mas yang kemayu itu memang “ruh” dari warung tersebut. Dia tidak sekadar pelayan seperti 4 perempuan lainnya, tapi kemungkinan besar juga sebagai main chef (juru masak utama). Ini yang berimbas mempengaruhi ramai atau sepinya warung itu. Kian kurasakan, mas-mas yang berpenampilan berbeda itu memang hebat. Aku kehilangan racikan bumbu olahannya. Tapi itu sekaligus menginspirasi kami di rumah untuk sesekali memasak sop sapi, tentu dengan rasa yang (sementara) belum selezat masakan mas-mas yang kemayu itu. Semoga kamu sehat dan sukses, mas!

Akhir Agustus 2012