Friday, September 23, 2016

YAA, Kontemporer, dan Manual

Oleh Kuss Indarto

EMPAT puluh tiga pelukis siap berkontestasi dalam satu ruang yang dihelat oleh Sangkring Art Space, di bilangan Nitiprayan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Perhelatan itu bertajuk YAA, Yogya Annual Art, berlangsung mulai 20 Mei hingga 20 Juli 2016. Dr. Hilmar “Fay” Farid, sang Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan direncanakan akan membuka resmi YAA. Ini merupakan perhelatan kali pertama yang kelak—seperti namanya—akan berlangsung secara rutin tiap tahun (annual). Dan, bisa jadi, ini menjadi ambisi tersendiri bagi pengelola Sangkring Art Space untuk memiliki sebuah peristiwa seni rupa yang ikonik, yang menjadi simbol sebuah kawasan, dan diingat oleh masyarakat selama mungkin. Setidaknya jagat seni rupa Yogyakarta atau di luar Yogyakarta bisa “dipecah” perhatiannya tidak sekadar pada Biennale Jogja atau ArtJog yang telah lama menggenang dalam ingatan publik.

Putu Sutawijaya a.k.a. Liong dalam sebuah percakapan di suatu sore di pertengahan April 2016 menyatakan bahwa ide untuk melahirkan YAA ini akarnya sudah lama. Bahkan nyaris sama usianya dengan kelahiran Sangkring Art Space yang telah didirikan 9 tahun lalu. Gagasan tersebut lebih meruncing setelah ruang seni yang berada di tengah kampung di kabupaten Bantul itu menghelat sebuah pameran bertajuk “Reborn” pada pertengahan tahun 2015 lalu. Kala itu gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang membuka pameran. Dari sebuah obrolan seru bersama teman-teman seniman dan manajemen Sangkring setelah pembukaan pameran itulah kemudian ide untuk menciptakan perhelatan yang ikonik makin menguat.

Ide itu pun kemudian dibumikan lagi, kata Liong, dengan sebuah kenekatan. Ya, kenekatan di tingkat action ini diwujudkan dengan membangun lagi satu ruang pameran di bagian belakang dari lahan yang telah ada—dari ketersediaan tanah yang seluruhnya seluas sekitar 3.000 meter persegi. Sebelumnya, Sangkring Art Space sudah memiliki dua ruang pajang atau ruang pameran yang luas. Dan sekarang, satu ruang baru lagi telah nyaris selesai setelah dikerjakan dengan ngebut. Luas ruang baru itu 14 x 35 meter yang di dalamnya terpilah dalam 5 petak ruang. Plafonnya relatif cukup tinggi, yakni 5 meter dari lantai. Ini lebih ideal ketimbang, misalnya ruang pameran di Taman Budaya Yogyakarta yang sebagian besar plafonnya hanya berketingian sekitar 2,75 meter.
“Waktuku akhir-akhir ini banyak kuhabiskan untuk menunggui proses pembangunan gedung baru ini,” tutur Liong sambil ngakak. Dia memang seperti menjadi “mandor” bangunan bagi gedung baru yang dibangunnya karena untuk pembangunan kali ini relatif tidak mudah baginya mencari tukang. “Banyak tukang yang bagus-bagus standarnya sedang dikerahkan untuk membangun berbagai hotel di banyak tempat di Yogyakarta,” keluhnya. Kali ini pun Bapak dari 3 anak tersebut menjadi menjadi arsitek bagi bangunan baru itu—setelah dua ruang pameran sebelumnya diarsiteki oleh seorang kolektor dari Magelang yang juga pemilik Syang Art Gallery, yakni Ridwan Muljo.

Di sisi lain, kenekatan Putu Sutawijaya ini membuat heran para kolektor atau pemilik ruang seni dari negara lain yang sempat dating ke Sangkring beberapa waktu sebelumnya—ketika proses pembangunan gedung masih gencar berlangsung. Mereka yang datang dari Singapura antara lain heran, “Untuk apa kamu sebagai seniman repot-repot membangun galeri? Itu kan tugas orang galeri atau pemerintah, bukan kamu sebagai seniman?!” tutur Sutawjaya menirukan orang-orang Singapura itu. Sutawijaya sendiri juga merasa punya tanggung jawab untuk mengambil peran di sisi penyediaan sarana fisik karena Negara juga belum maksimal menyediakan hal itu.

Sutawijaya cuek sambl jalan terus. Dia tetap merampungkan gedung sembari terus berkoordinasi dengan para seniman yang akan menangani perhelatan YAA, yang terutama adalah Yuswantoro Adi, Samuel Indratma, Nyoman Adiana (adik kandungnya), Yaksa Agus, Maslihar Panjul, dan lainnya. Mereka inilah yang hendak menopang jalannya semua acara dari awal hingga akhir.

Yuswantoro mengonsep perhelatan YAA dengan kembali mempertanyakan ulang—secara sederhana—keberadaan seni rupa kontemporer. Yus sempat berbincang dan menafsir bahwa ukuran atau indikasi kontemporer tidak terletak semata-mata pada praktik dan medium baru seperti yang banyak terjadi kini. Secara sederhana, kata kontemporer itu berarti sejaman, pada waktu yang sama, sebaya, seumur, sewaktu, kiwari, mutakhir, atau dewasa ini. Pendeknya: kekinian. “Dengan kata lain, sejauh karya seni tersebut bersifat kekinian, apapun praktik dan mediumnya tetap sah disebut sebagai baru sebagaimana rumus dasar sebuah karya seni yang bisa berlaku universal (tidak hanya dalam seni rupa) dan harus memiliki sifat novelty atau kebaruan,” tutur seniman berbadan tambun tersebut.

Penerapan dari konsep mendasar tentang kontemporer itulah yang ditekankan oleh Yuswantoro, yakni menampilkan (hanya) karya seni dua dimensi dalam perhelatan YAA. Para seniman pesertanya semuanya adalah hasil pilihan Tim Sangkring—bukan dari hasil aplikasi para seniman. Mereka adalah para seniman yang telah mulai menancapkan nama dan reputasinya dalam orbit seni rupa di Yogyakarta atau kawasan lain, namun belum terlalu banyak diserap dalam berbagai peristiwa seni yang sangat prestisius. Begitu kira-kira dasar pemiihan para senimannya. Sebetulnya ada 48 seniman yang diundang dalam acara YAA ini. Namun 5 seniman berhalangan untuk berpartisipasi karena berbagai alasan. Mereka yang sudah memastikan akan terlibat untuk memamerkan karya antara lain adalah Ampun Sutrisno, Anto Sukanto, Galuh Tajimalela, Hilman Hendarsyah, Kuart, L. Surajiya, Luddy Astagis, Panca DZ, Robert Kan, Roy Karyadi, W. Adin Wiedyardini, dan Woro Indah Lestari. Pun ada nama-nama yang selama beberapa tahun terakhir ini mulai banyak berseliweran dalam garis orbit seni rupa: Agus “Baqul” Purnomo, Agus Triyanto BR, Erizal, Erianto, Hayatudin, I Nyoman Darya, Nengah Sujena, dan beberapa nama lainnya. Hal lain yang menjadi pertimbangan dari para tim selektor YAA adalah batasan usia yang ditetapkan maksimal 45 tahun. Tentu ini menarik karena sebenarnya beberapa perhelatan seni rupa lain juga memberlakukan batasan usia bagi seniman pesertanya. Misanya BaCAA (Bandung Contemporary Art Award) yang membatasi usia pesertanya maksimal 40 tahun. Pameran seni rupa FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) juga pernah membatasi maksimal 35 tahun. Lebih menarik lagi, kalau menyimak data para seniman peserta YAA, mayoritas usianya sudah melampaui 30-an tahun, bahkan beberapa di antaranya sudah berada di kisaran usia 40-an tahun. Tentu ini perlu dipikirkan lebih matang lagi tentang konsep perhelatan ini yang menyangkut ihwal klasifikasi para seniman pesertanya.

Yogya Annual Art juga memberi porsi yang sebesar-besarnya pada para seniman yang menggarap karyanya dengan kemampuan teknik atau skill tanpa bantuan perangkat yang berbau teknologis. “Jadi ya kami membayangkan bahwa berdasarkan teknis pengkaryaannya, perhelatan ini menjadi Yogya Manual Art karena semua karyanya dibuat secara manual, murni dengan tangan, bukan lewat campur tangan yang kental peran teknologi. Misalnya lewat digital printing yang ditimpa dengan cat. Kami menolaknya,” tegas Yuswantoro Adi.

Pada bagian lain, Yus juga menawarkan gagasan lain untuk menghadirkan satu seniman old master yang sudah almarhum yang dihadirkan karyanya untuk mendampingi karya para seniman muda ini. Pilihannya jatuh pada tokoh seni rupa abstrak Indonesia, yang juga (mantan) dosen Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, Fadjar Sidik. Ya, semacam “Tribute to Fadjar Sidik”. Tentu, ini sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusi sang seniman old master tersebut dalam mengawali perkembangan dunia seni rupa (abstrak) di Indonesia. Ini mengingatkan pada pameran seni rupa FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) tahun 2005 yang bertajuk “Shout Out” yang menggandengkan antara puluhan karya seniman muda dan beberapa seniman senior, khususnya para eksponen Gerakan Seni rupa Baru (GSRB), yakni karya F.X. Harsono, Hardi, dan Bonyong Muni Ardhi.

YAA kiranya layak untuk diharapkan menjadi sebuah perhelatan baru yang ikonik bagi Sangkring Art Space. Syukur bisa melampaui itu, yakni ikonik bagi Yogyakarta. Namun itu tak mudah karena butuh ketegasan dan kekuatan konsep yang lebih matang lagi. Di luar itu, kawasan ini sudah menopang penuh dengan menyediakan melimpahnya sumber daya seniman yang relatif berkualitas. Pada titik inilah teramat saying kalau diabaikan. Apalagi kalau hanya karena dalih konsep kontemporer yang menunggal dan menyempit, yang beku dan baku bahkan kaku—yang ujung-ujungnya kurang mengakomodasi keluasan dan keliaran imajinasi para seniman. Alangkah sayangnya… ***