Sunday, October 02, 2016

Rajungan


(Dari status di facebook, 2 Oktober 2015)

Sebelum bertolak pulang, Mas Dibyo mengajak kami berenam untuk makan siang. Menu yang diandalkannya: kare rajungan. Ini kuliner berbahan baku utama rajungan, sejenis kepiting laut khas pesisir utara pulau Jawa. Tampaknya ini menu kebanggaan orang Tuban, Jawa Timur, bila kedatangan tamu dari luar kota.

Aku mengiyakan saja atas tawaran itu. "Halah, paling ya rajungan seperti yang pernah kusantap dua tahun lalu di kota ini", batinku agak underestimate. Maka, siang itu, Minggu, 27 September 2015, kami berombongan menuju ke sepenggal jalan yang sedikit menjauh dari pusat kota. Jalannya lebar namun cukup sepi. Manunggal, nama jalan itu. Dan "Ismu", nama warung yang kami tuju. Warungnya biasa. Secara fisik, jauh lebih sederhana ketimbang rumah makan yang kutuju dua tahun silam. Tapi, oh, banyak mobil berjajar jalan sekitar warung itu. "Mungkin memang ini jam makan siang," batinku. Oh, atau ini warung yang enak?

Kami semua langsung dipesankan menu yang sama oleh mas Dibyo. Pilihan minumannya juga serupa: air kelapa muda. Tanpa menunggu lama, hidangan kare rajungan pun datang. Masing-masing dari kami mendapat porsi yang sama: satu piring nasi, sepiring berisi 3 rajungan yang bertumpuk plus kuah kare secukupnya, dan satu piring kosong yang dimanfaatkan untuk tempat cangkang rajungan yang tak termakan.

Sendok kuambil. Kucelupkan dalam kuah, kutarik, dan kuarah ujung sendok itu ke ujung lidah. Huuaaahhh!!! Gila, pedasnya minta ampun! Baru sekali ini kurasakan kuah sayur pedasnya seperti balsem. Edan. Di luar rasa pedas, terasa sekali aroma enak masakan ini.

Satu persatu rajungan kusantap. Beda dengan kepiting yang banyak ditemui di kawasan lain, satwa lokal ini durinya tak begitu banyak dan tidak keras. Dagingnya pun juga lebih melimpah dan empuk. Tak ada perangkat lain selain sendok dan garpu untuk menyantapnya--seperti obeng kalau kita menyantap kepiting. Tapi memakannya dengan tangan kosong, atau "nyékér", justru terasa lebih menusuk atmosfir kenikmatannya.

"Menzalimi" kare rajungan dengan rakus, apalagi ketika perut begitu lapar, menurutku, menjadi siasat yang ciamik untuk melupakan penyakit sariawan yang tengah mendera mulutku hari itu. Bahkan itu bisa menyembuhkan karena cabai yang ada di dalamnya penuh kandungan vitamin C.

"Menzalimi" kare rajungan kali ini tak beda jauh dengan olahraga jogging yang sesekali kulakukan. Membuatku mandi keringat. Semua teman raut mukanya sama, wajah memerah dan berpeluh. Sangat menikmatkan. Aku keliru telah underestimate menerima ajakan makan ini.

Tak lama setelah ritus makan kulewati, aku bergegas menuju kamar mandi. Aku perlu membuang urine untuk keseimbangan. Tapi, ups, ada seorang bapak yang tengah duduk bersila di dipan tak jauh dari kamar mandi. Di hadapannya ada dua tampah cabai rawit yang pedas itu--ketimbang cabai hijau, merah, atau keriting. Gila! Ini dia sumber utamanya kenapa kuah kare rajungan itu sepedas bahkan melebihi pedasnya balsem.

"Berapa banyak cabai dipakai untuk sekali masak kare, pak?" tanyaku. Laki-laki berpembawaan santai itu menjawab sederhana: "Tiga-lima kilo..." Edan. Pantes pedasnya hingga ke ulu hati. Menohok banget. Cabai untuk memasak kare rajungan, ternyata, hitungannya bukan lagi berapa biji lagi. Tapi sudah berkilo-kilogram. Pantes, gila pedasnya!

Makanya, Anda bisa bayangkan to? Tadi saya ke kamar mandi, pipis, tetap dengan ritus memegang "perangkat lunak", sementara sebelumnya saya makan kare rajungan dengan tangan "nyékér". Panasnya tuh di sini…