Monday, October 17, 2016

Bhumibol Mangkat



SIANG itu, tujuh tahun silam, persisnya awal Desember 2009 saya berdua dengan pak Tubagus Andre (kepala Galeri Nasional Indonesia) naik tuk-tuk—salah satu moda transportasi lokal—menuju BCC (Bangkok Culture Center) di pusat kota Bangkok. Kami bertolak dari hotel mungil di Jalan Rambuttri yang banyak turis back packer-an, tak jauh dari Jalan Khaosan yang jauh lebih riuh dengan turis back packer-an dari seluruh dunia.

Perjalanan cukup meriah karena deru mesin tuktuk yang keras, bahkan cukup memekakkan telinga. Maka, dialog kami dengan sopir tuk-tuk yang ramah itu harus diungkapkan dengan setengah berteriak biar suara masuk ke telinga. Bahasa Inggris kami bertiga juga tidak fasih-fasih amat, sehingga itulah yang membuat komunikasi jadi seru karena gesture tubuh, terutama tangan, melengkapi baku dialog.

Pada suatu kelokan jalan yang lebar dan cukup sepi, tiba-tiba sang sopir berteriak sambil menoleh ke arah kami: “Down your hat! Down your hat! Down your hat!” Bajigur! Opo to iki?! Saya dan pak Andre celingukan karena tak paham betul apa yang sopir maksudkan. Ya, kami tahu kalau dia (kurang lebih) bilang bahwa kami diminta melepaskan topi dari kepala. Apalagi saya yang tidak mengenakan topi, bingung apa maunya.

“Apa maksudmu kami harus melepaskan topi, bung?” teriakku merespon.

Sopir itu memperlambat laju tuk-tuknya, dan menjelaskan: “Kita akan melewati jalan sekitar rumah sakit kerajaan. Dalam rumah sakit itu sekarang ada raja kami, Bhumibol Adulyadej. Beliau sedang sakit dan dirawat di situ. Tolonglah hormati raja kami dengan cara melepaskan topi dari kepalamu. It’s impolite. Itu tidak sopan.” Owalaahhh…

Saya tak tahu kalau jalur yang tengah kami lewati itu ada bangunan rumah sakit karena tuk-tuk sama sekali tidak berjalan melewati bagian depan, tapi samping dan belakang rumah sakit. Bangunan itu tidak mencolok sebagai sebuah rumah sakit.

Tapi dari situ saya salut terhadap sang sopir tuk-tuk itu. Betapa kesetiaan dan penghormataannya sebagai rakyat terhadap sang raja Thailand begitu dalam, hingga meminta pelancong seperti kami juga ikut menghormati junjungannya. Betapa imajinasi tentang pemimpin yang dijadikan panutan baginya tetap hadir meski tidak dalam penampakan fisiknya. Saya tak tahu apakah ini juga bagian dari perluasan praktik kuasa panoptikon yang pernah diperkenalkan oleh Michel Foucault, namun saya tersadarkan betapa keberadaan raja (secara non-fisik atau kasat mata) itu telah berpendar dalam pemaknaan yang dalam bagi seorang sopir tuk-tuk hingga menciptakan etika tersendiri. Kami dianggap tidak memenuhi etika sosial di situ, tidak menghormati raja kalau tetap mengenakan topi (di kepala) tak jauh dari keberadaan raja—meski beliau sama sekali “tidak kasat mata”.

Kejadian serupa juga saya alami ketika menaiki boat di klang-klang atau ranting sungai Chao Phraya di pinggiran kota Bangkok. Di sepanjang klang yang saya lalui, ada sekian banyak rumah tinggal dan rumah peribadatan yang memajang foto raja Bhumibol di halaman di pinggir klang tersebut. Dan orang-orang lokal yang satu boat dengan saya, selalu mengatupkan kedua tangan sembari menunduk takzim di hadapan foto sang raja. Anda bisa bayangkan ketika pada satu kawasan foto-foto raja itu berjarak pendek satu sama lain, dan pada jarak-jarak yang tak panjang itulah mereka memberi penghormatan (pada foto) tanpa satu pun terlewatkan. Luar biasa!

Kemangkatan raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX pada hari Kamis, 13 Oktober 2016 kemarin, pasti memedihkan perasaan banyak warga Thailand. Junjungan mereka, simbol pemersatu mereka—dengan segala kelebihan dan kekurangannya—sedikit-banyak telah meruntuhkan harapan-harapan Thailand ke depan.

Harapan-harapan itu tampaknya telah memudar ketika menyadari bahwa putra mahkota, Pangeran Makhota Maha Vajiralongkorn, calon Raja Rama X adalah pangeran yang banyak membuat masalah: sering mabuk-mabukan di ruang publik, doyan main perempuan, dan cecitraan negatif lainnya, yang jauh dari reputasi positif ayahandanya. Sebetulnya, dalam banyak pikiran warga Thailand, mereka berharap pada Putri Maha Chakri Sirindhorn sebagai ratu—pemimpin pengganti Bhumibol. Sebagai kerajaan penganut garis patrilineal, tentu sulit peluang Putri Sirindorn sebagai pemimpin.

Saya hanya secuil kecil menyimak gerak aktivitas putri ini lewat celah berbeda, yakni pameran fotografi karya Putri Sirindorn. Ya, dia menuruni minat dan bakat ayahandanya yang juga menggemari jagat fotografi. Februari 2014, saya menyaksikan ratusan karya fotografi hasil jepretan Sirindorn yang memenuhi 2 lantai gedung BCC (Bangkok Culture Centre). Tema pameran itu: “Traveling Photos, Photos Traveling”, yang kalau tak salah terbagi dua bagian utama, yakni perjalanan sang putri membelah sekian banyak negeri di mancanegara, dan kunjungannya ke berbagai pelosok negeri Thailand. Kualitas artistik fotografinya saya kira sangat memadai, bahkan bagus. Setidaknya sedikit lebih bagus ketimbang ibu Ani Yudhoyono, hehehe… (Maaf lho, bu!).

Tapi poin pentingnya, saya kira, pameran itu seperti ingin memperlihatkan gerak aktivitas penting seorang yang layak memimpin sebuah kawasan, sebuah negeri. Potret tentang keluarga miskin, tentang bukit yang gersang, atau sebaliknya foto-foto eksotik perihal bumi Thailand yang bertebar keindahan, tentang sawah yang permai, tentang gerbang-gerbang desa yang ornamentik, semua ada dalam pameran tersebut. Setidaknya, dia seperti ingin memperlihatkan bahwa: “aku sudah mengunjungi dan tahu seluruh pori-pori negeri, dan paham hendak kemana sebaiknya negeriku ini akan dibawa…”

Thailand, kata beberapa pengamat, siap menghadapi banyak persoalan sepeninggal Raja Rama IX. Angka IX atau 9 atau sembilan memang seolah memiliki energi dan “tuah” yang kuat. Setelah itu, masih teka-teki. Tapi itu di Thailand, bukan yang lain…

Selamat jalan, Raja Bhumibol! ***