Friday, April 21, 2017

CARA

Di Indonesia, dalam kurun 3-4 tahun terakhir, mencintai atau membenci Jokowi sepertinya sudah satu paket dengan mencintai atau membenci Ahok. Artinya, mereka yang mencintai Jokowi seperti sebangun dan sejajar dengan mencintai Ahok. Sebaliknya, mereka yang membenci Jokowi sepertinya juga membenci Ahok. (Maaf kalau oposisi biner “mencintai-membenci” mungkin kurang tepat). Tentu ini bisa jadi sekadar praduga karena tanpa dukungan data statistik yang memadai. Tapi “fenomena” ini cukup terasa, setidaknya yang berkembang pelataran medsos—yang saya amati dalam 3 tahun terakhir ini. Drama pertarungan kedua belah pihak ini begitu dahsyat melebihi “el clasico” antara Real Madrid dan Barcelona, antara Spanyol dan Catalan (sebutan “rasis” para pendukung Real bahwa Barcelona bukanlah bagian dari Spanyol, tapi ya kawasan bernama Catalan).
Realitas yang terjadi memang begitu menarik. Tahun 2014, ketika Jokowi memenangi pertarungan Pilpres melawan Prabowo, kata-kata yang berkembang dan sangat populer kala itu adalah “ada kecurangan”, “move on”, dan sebagainya. Kata-kata “ada kecurangan” menjadi representasi kekecewaan para pendukung Prabowo, dan “move on” seperti menjadi counter atau medan pengingat untuk bergerak ke depan—oleh pendukung Jokowi bagi para pendukung Prabowo.

Sekarang, situasinya seolah berbalik, seperti pertandingan yang berkedudukan draw, imbang, satu lawan satu (1-1). Para pembenci Jokowi menemukan medium untuk melampiaskan “kesumat” kekalahannya tahun 2014 dengan kemenangan Anies-Sandi atas Ahok-Djarot di pilkada DKI kemarin. Sebaliknya, para pendukung Jokowi dan Ahok terasa sesak menerima kekalahan cagub DKI yang petahana tersebut. Kata-kata yang sementara ini berkembang adalah “kemenangan dengan cara brutal” sebagai perwakilan rasa kecewa para pendukung Ahok, dan kata-kata “Jakarta Baru” yang memrepresentasikan ajakan pendukung Anies agar para pendukung Ahok menerima kekalahan. Kata-kata lain pasti akan terus membuncah dalam pusaran komunikasi di medsos dan media lain, meski belum atau kurang seikonik kata “move on” di tahun 2014 lalu.

Para pendukung dan pembenci itu berada di lapis bawah persoalan karena lebih sering menjadi obyek. Gembira ketika jagonya menang, atau kecewa tatkala junjungannya kalah adalah dua sisi persoalan yang akan hadir silih berganti. Di atas itu semua adalah para “disainer” yang merancang kepentingannya sendiri. Grand design atau disain besar itu sering kali dirancang pertama-tama untuk kepentingannya sendiri, sekaligus untuk mengawetkan kekuasaannya sendiri. Mereka tetap membutuhkan para pendukung dan pembenci di lapis bawahnya, dan bisa jadi tak peduli apakah disainnya mampu mengakomodasi lapisan di bawah atau tidak. Cuek. Maka benarlah eyang Harold Lasswell, ilmuwan politik abad 20 yang membilang bahwa politik adalah siapa mendapatkan apa, dimana, dan bagaimana (caranya).