Friday, November 17, 2006

Tulisan Jadul

Aku terkesiap saat Janu, teman yang usianya sekitar 14-an tahun di bawahku, dan masih kuliah, datang beberapa hari lalu dan bawa majalah kampus, Sani. Wuih! Itu majalah yang aku dan beberapa teman buat saat kuliah di ISI Yogya masuk semester 4, kira-kira nyaris 15 tahun lalu. Saat aku masih lugu, "latihan" berambut gondrong, pakaian dikumal-kumalkan, gaya dicuek2kan. Njijiki banget kae kalo inget. Tapi masih imut abis, paling enggak waktu udah bisa gonta-ganti cewek. Sok playboy bin Don Juan norak kae. Njijiki pooollll! Hahahaha, lucu banget deh. Ini nih tulisan anak yang baru latihan nulis di tengah lingkungan kampusku yang jauh dari atmosfir intelektual(itas). Isinya cuman adu nyentrik, adu norak etcetera hahaha. Aku inget, itu kutulis beberapa bulan sebelum aku masuk kerja jadi karikaturis/ilustrator di harian Bernas yang membuat kuliahku jadi molor sepuluh tahun hahahaha! Bayangin, karena tiap semester ganti kartu mahasiswa baru, so aku punya 20 kartu mahasiswa! Njijiki meneh to?

Harlah ASRI: Kampusku

Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Sani No. 1 Th. I Maret 1991 hal 16-18,
yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Mahasiswa
Fakultas Seni Rupa dan Disain ISI Yogyakarta)



SEJARAH telah mencatat perjalanan panjang lembaga pendidikan seni rupa ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) mulai dari awal kemerdekaan sampai jaman penuh dengan tantangan yang kompleks seperti sekarang ini. Mulai dari jaman awal pertumbuhan dunia seni rupa modern sampai kepada masa-masa “panen raya”, mulai dari era sanggar sampai era “booming” yang hingar-bingar. Barangkali kita perlu sejenak menengok ke belakang untuk mengilas-balik keberadaan kampus Gampingan dan perjuangannya di tengah-tengah iklim yang begitu kurang peduli terhadap dunia pendidikan seni rupa khususnya dan dunia seni rupa pada umumnya.

Catatan sejarah berdirinya ASRI ditengarai dengan peresmian pembukaannya pada tanggal 15 Januari 1950 di Bangsal Kepatihan, Malioboro, oleh Menteri Pendidikn, Pengajaran dan Kebudayaan pada waktu irtu, Ki Mangunsarkoro. Namun pemikiran-pemikitan dan hasrat untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan/akademi seni rupa sudah jauh-jauh hari diawali. Perencanaan pendirian ASRI sudah dimulai ketika bangsa Indonesia tengah mengalami situasi bergolaknya perjuangan fisik. Ini jelas kurang menguntungkan. Dan wajarlah bila proses pendiriannya memakan waktu yang sangat panjang.

Ketika bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, keinginan para seniman untuk mendirikan ASRI semakin bergelora. Mr. Soewandi (ingat ejaan Soewandi) yang menjabat sebagai Menteri PP dan K pertama waktu itu pun memberikan angin akan gagasan tersebut, juga pemerintah daerah Yogyakarta yang merupakan kota dimana para pencetus gagasan bertempat tinggal sekaligus kota dimana gagasan itu pertama kali muncul. Namun situasi awal kemerdekaan yang masih belum stabil jugalah yang menyebabkan segala keinginan tersebut tidak segera terlaksana.

Pada tahun 1948, gagasan yang telah lama terpendam muncul kembali ke permukaan dan dibicarakan dalam Kongres Kebudayaan Nasional yang berlangsung di Magelang. Pada kesimpulannya, kongres tersebut menyetujui bahwa bangsa Indonesia memandang sangat perlu didirikannya sebuah akademi seni rupa. Paling tidak, inilah motivator dan pendorong semangat bagi para penggagasnya. Namun sekali lagi pil pahit kembali ditelan. Perang Kemerdekaan atau Clash II terjadi, dan segala kegiatan otomatis terhenti.

Walaupun demikian, usaha-usaha untuk itu masih tetap dilakukan, meski lambat sekali. Pada akhir tahun 1949 usaha-usaha untuk mewujudkan ASRI hangat kembali. Tanggal 14 November, Menteri PP dan K lewat suratnya mengundang segenap tokoh budayawan dan seniman di Yogyakarta untuk merencanakan segala ihwal yang berhubungan dengan pendirian akademi ini. Surat tersebut segera disusul dengan keluarnya Keputusan Menteri Nomor 26/Keb. yang bertanggal 17 November 1949 yang (sekaligus) mengangkat R.J. Katamsi sebagai ketua, Djajengasmoro sebagai wakil ketua, Sarwana sebagai sekretaris dan beberapa peluksi dan guru sebagai anggotanya, antara lain: Hendra, Kusnadi, Sindoesisworo, Soerjosoegondo, Prawito danlain-lain.

Sidang-sidang panitia pendirian ASRI segera dilakukan. Sidang ini dihadiri tokoh-tokoh Jawatan Kebudayaan dan kalangan seniman Yogyakarta. Rencana-rencana tentang pendirian ASRI sebenarnya sudah dimasukkan sebagai agenda Kementerian PP dan K sejak tahun 1947 yang disusun oleh R.J. Katamsi. Dengan adanya kesempatan tersebut rencana-rencana yang telah disusun segera dibentangkan.

Setelah mengadakan serangkaian pertemuan sebanyak 4 kali pada bulan November 1949 yang bertempat di kantor Djawatan Kebudayaan (di jalan Batanawarsa 34) dan di Kementerian PP dan K (di jalan Mahameru, Yogyakarta yang ketika itu menjadi ibukota RI), dengan menambah beberapa perubahan pada konsep yang diajukan oleh R.J. Katamsi tersebut, berhasillah disusun suatu “Rencana Akademi Seni Rupa Indonesia”.

Surat Keputusan Menteri PP dan K yang tertanggal 15 Desember 1949 memutuskan bahwa pendirian ASRI bertempat di Yogyakarta. Dan peresmian pembukaan harus dilakukan pada tanggal 15 Januari 1950.

Melewati proses pengesahan secara yuridis oleh Menteri PP dan K selesai, muncul masalah baru. Wadah pendidikan seni rupa sudah terbentuk tetapi pengadaan tenaga pengajar mengalami hambatan dan kesulitan. Memang Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya yang di dalamnya banyak sekali tokoh-tokoh seni rupa yang sangat tangguh. Namun sejak pecah Perang Kemerdekaan banyak seniman yang tidak diketahui rimbanya, seperti pelukis Rusli misalnya. Rusli tidak pernah muncul dalam keempat rapat persiapan (November 1949) walaupun namanya tercantum dalam daftar undangan yang diharapkan hadir. Sebetulnya Rusli, yang sampai saat itu merupakan satu-satunya seniman yang pernah mengenyam pendidikan formal seni rupa di Santiniketan, India, diharapkan sekali kehadirannya selain R.J. Katamsi yang pernah belajar di Belanda. Juga tidak muncul pada saaat itu pelukis Affandi yang tengah mendapat beasiswa untuk belajar di Santiniketan. Adapun nama-nama yang diusulkan untuk menjadi guru pada waktu itu antara lain: Ir. Purbodiningrat, Pangeran Hadinegoro CBI, R.J. Katamsi, Hendra, Kusnadi, Mardio, Djajengasmoro, Sri Martono, dan masih banyak lagi.

Dan akhirnya, hari Minggu kedua bulan Januari 1950 impian para seniman Indonesia atau Yogyakarta pada khusunya, terkabul. Upacara peresmian pembukaan ASRI yang dihadiri oleh banyak kalangan seni rupa Indonesia. Pejabat direktur ASRI yang pertama adalah R.J. Katamsi dengan pembagian jurusan waktu itu: seni lukis, seni patung, dan pahat, seni pertukangan, seni rekalame, dekorasi, ilustrasi dan grafik, guru gambar ijasah A dan B, dan jurusan seni bangunan.

Para pendaftar untuk angkatan pertama ketika itu sebanyak 160 orang. Setelah diadakan ujian penyaringan, yang dapat diterima hanya seperempatnya atau kurang lebih 40 orang. Dan di antara itulah tokoh-tokoh yang kelak kemudian tercatat sebagai staf pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) ISI Yogyakarta atau seniman berlevel nasional seperti Abdul Kadir MA, HM Bakir, Saptoto, Edhi Soenarso, Abas Alibasyah, Widayat, dan lainnya. Sedang gedung-gedung yang dipakai untuk ruang kuliah masih sangat sederhana dan memprihatinkan, yang terpencar pada beberapa tempat seperti di Gondolayu, Bintaran, dan Ngabean.

Tahun 1963, penataan struktural di ASRI diperjelas di mana dipisah-pisahkan antara kelas-kelas tingkatan SMTA dan tingkat fakultas. Status perguruan tinggi penuh diberikan oleh Departeman Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), dan mulai menerima calon-calon mahasiswa lulusan SMTA dengan masa pendidikan tiga tahun. Siswa-siswa setingkat SMTA dipisahkan dari ASRI dan membentuk wadah baru, SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia, kemudian berubah menjadi SMSR dan kini bernama SMKN 2 Kasihan, Bantul). Tahun 1964 sudah menghasilkan sarjana-sarjana mudanya yang pertama.

Status ASRI berubah pada tahun 1968 dengan adanya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0100/1968 yang mengubah status ASRI menjadi STSRI (Sekolah Tinggi Seni Rupa Idonesia). Dengan status yang baru ini, maka sejak itu lembaga pendidikan seni rupa ini berhak menyelenggarakan pendidikan tingkat sarjana penuh dengan masa pendidikan 4,5 tahun.

Pemegang tampuk kepemimpinan dari jaman ASRI sampai STSRI sudah mengalami 4 kali pergantian. Yang pertama R.J. Katamsi yang lalu digantikan oleh direktur kedua, I Djunaedi M.Ed. Kemudian Abas Alibasyah menjadi direktur ketiga yang untuk selanjutnya berturut-turut digantikan oleh Abdul Kadir MA, dan terakhir Drs. Saptoto.

Setelah kurang lebih 16 tahun nama SRSRI “Asri” berkibar, akhirnya status dan nama itu hilang dan digantikan dengan Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) di bawah naungan Insitut Seni Indonesia yang merupakan perguruan tinggi negeri ke 44 di Indonesia. ISI diresmikan oleh Mentyeri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. DR. Nugroho Notosusanto pada tanggal 23 Juli 1984.

ISI yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 39/1984 tanggal 30 Mei 1984, merupakan gabungan dari 3 lembaga pendidikan seni yang sudah ada dan bertumbuh lama di Yogyakarta: Akademi Musik Indonesia (AMI) yang berdiri tahun 1952, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) yang berdiri tahun 1961 dan ASRI (1950). Penyatuan ketiga akademi seni tersebut sudah direncanakan sejak tahun 1973 dengan suatu keinginan dan kesepakatan untuk membentuk lembaga pendidikan tinggi kesenian yang lebih luas cakupannya dan lebih besar kewenangannya baik di bidang seni maupun dari segi ketentuan-ketentuan pendidikan tinggi.

Meleburnya STSRI “ASRI” menjadi FSRD ISI pada prinsipnya tidak mengalami banyak perubahan status apalagi fasilitasnya, bila dibandingkan dengan AMI dan ASTI. Ini bukan berarti menutup mata akan kemajuan-kemajuan pada beberapa sisi sepanjang usia ISI yang sudah 6,5 tahun telah mewarnai keberadaannya.

Lepas dari masalah di atas, diakui atau tidak, nama ASRI sudah melegenda bagi masyararakat Yogyakarta maupun warga seni rupa Indonesia. Perjalanan panjang sejarahnya yang masih tetap ‘asri’, sampai kini terus mewarnai dan mewarisi generasi penerusnya. Ada dua sisi yang kontradiktif dari warisan ASRI kepada FSRD: kebanggaan dan/atau beban akan sosok sejarah yang telah mumpuni.

Mana yang melekat dalam batin?

1 comment:

fa said...

apa sih arti sebuah nama yang terpenting kualitas dan karya yang terbaik yang di hasilkan untuk bangsa.