Wednesday, November 08, 2006

Art Child 2

Aku senang dapat kesempatan dan dipercaya oleh Mas Totok dari PPPG Kesenian untuk ikut nulis kata pengantar di katalog pameran lukisan anak-anak, Art Child. Sedianya pameran itu dibuka Sabtu, 11 November 2006 besok di Taman Budaya Yogyakarta. Itu tuh sebelah barat Toko Progo, Gondomanan. Sebaiknya Anda nonton deh. Ajak anak atau keponakan Anda. Bagus2 kok. Bayangin, anak2 nglukis segede 4 meter dan bagus2. Itu tuh di atas, salah satu contohnya, karya anak Perancis. (Sayang gak jelas anak usia berapa tahun. Tapi kalau nurut teorinya Viktor Lowenfeld sih, anak2 ya 0-14 tahun).

Ada dua pameran sebenarnya, tapi di jadiin satu, yaitu yang internasional, dan nasional. Aku kebagian nulis pameran yang nasional bareng pak DR. Agung Suryahadi dari PPPG Kesenian. Sedang untuk yang internasional, ada tulisan pak DR. Agung S juga, bareng pak DR. Dwi Marianto.

Aku nggak spesifik nulis tentang materi pameran itu karena males kejebak untuk bahas karya yang "baik" dan "buruk". Tapi lebih masuk ke soal pewacanaan atas fenomena lomba lukis anak2 yang kurasa mulai sedikit patologis. Aku agak emosional juga hehehehe. Ini nih petikan 3 alinea terakhir tulisanku:

...Perkara-perkara teknis yang remeh tersebut, saya kira, pantas dikemukakan kembali tatkala di tengah-tengah kita sekarang ini dunia anak sudah begitu lekat dengan hal yang industrial. Termasuk lomba lukis anak yang hadir bagai agen mesin industri sehingga melupakan hakikat bermain ataupun pleasure yang begitu penting bagi perkembangan kejiwaan anak-anak. Mereka acap profesional dalam teknis penyelenggaraan, namun bukan pada pendekatan psikologi(s) anaknya. Tidak sedikit ditemui juri yang tidak kapabel dan tidak uptodate pemahaman seni rupanya namun punya jaring “mafia” perlombaan. Atau orang tua yang mengejar prestise dan piala lewat tangan mungil anak-anaknya. Alhasil, yang sering ditemui adalah karya-karya seni rupa anak yang mulai cenderung stereotip, repetitif, seragam, dan maraknya praktik epigonisme.

Inilah silang sengkarut yang mesti dihentikan. Hal terpenting tentu saja adalah selalu membebaskan sama sekali si anak untuk melakukan aktivitas mencorat-coret atau menggambar untuk tetap menjaga sifat kekanak-kanakan si anak, seperti kata filsuf Perancis Rousseau, “Let childrenhood ripen in children!” Biarkan masa kanak-kanak matang pada diri anak-anak. Bukan menjadikan mereka sebagai kuda pacu bagi sistem nilai orang tua yang dengan paksa dibenamkan, seperti sering ditemui dalam lomba lukis anak yang kian menjadi komoditas nan kapitalistik itu.

Begitulah. Kita memang menginginkan anak tumbuh secara alamiah pada usia atau jamannya, bukan malah – misalnya – menjadi kanak-kanak justru tatkala seseorang telah tua menjadi pejabat…

No comments: