Friday, June 08, 2007

Entang di Kompas (edisi Semarang)


Di bawah ini adalah kutipan berita review pameran tunggal Entang di harian Kompas edisi Jawa Tengah), Senin, 28 Mei 2007.


Entang Pertanyakan Nilai Kemanusiaan Mempertanyakan Kehancuran Etika

Manusia berkepala botak yang membuka mulutnya lebar-lebar terlukis dalam sebuah cermin berlatar belakang ornamen bunga. Sebagian mulut dan pipi manusia itu tak lagi terlukis rapi. Lukisan itu berjudul "Are you looking back or front?" Lukisan itu merupakan salah satu karya Entang Wiharso yang dipamerkan di Rumah Seni Yaitu, Semarang, 25 Mei-16 Juni.

Tidak jauh dari lukisan itu terpampang lukisan dalam kanvas berukuran 290 x 600 sentimeter. Lagi-lagi manusia berkepala botak menjadi tokohnya. Mereka tergambarkan duduk di kursi panjang disandingkan dengan beragam latar, seperti manusia tanpa kepala, manusia membasuh kepala, manusia penuh angkara membawa kepala manusia lain. Dalam lukisan berjudul "In Toxic" itu juga terdapat lukisan poster yang bertuliskan "etika itu apa?"

Dari dua lukisan yang dipamerkan di Rumah Seni Yaitu Semarang yang bertema "In Toxic" itu saja sudah terkandung gereget pelukis kelahiran Tegal, Entang Wiharso, yang mempertanyakan tentang meredupnya nilai-nilai kemanusiaan. Lukisan kaca berjudul "Are you looking back or front?" itu mau menyapa pemerhatinya untuk kembali bercermin tentang keberadaannya sebagai manusia, terus melihat ke depan atau mau menengok ke belakang atau berefleksi.
Menengok atau berefleksi tentang apa? Pertanyaan itu terjawab dari setiap lukisan dan instalasi karya Entang. Dalam lukisan "In Toxic", Entang mengajak setiap pemerhati lukisan mempertanyakan kembali arti etika.

"Karya saya merupakan metafora dari bencana alam sekaligus isu dari sebuah sistem politik, keagamaan, dan budaya. Segala keprihatinan dan sistem itu menjadi toxic system (sistem racun) yang mendorong manusia kepada ketidakadilan, kekerasan, penindasan, diskriminasi, dan kemiskinan," kata Entang Wiharso, Sabtu (26/5).

Menurut Entang, sistem racun itu sedikit demi sedikit menggerus etika. Etika tak lagi berfungsi optimal dan berada dalam proses pelapukan. Padahal etika merupakan sebuah kepekaan relasi atau hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan alam.

Seni menjadi cermin bagi manusia untuk kembali mempertanyakan dan membenahi kemanusiaannya yang mulai lapuk. Seni juga mengembalikan manusia kepada pertanyaan yang paling mendasar, apakah kita telah kehilangan rasa perasaan?

Kurator Kuss Indarto mengatakan, pameran lukisan Entang ini merupakan sebuah peristiwa. Peristiwa itu memuat interaksi dan dialog antara pelukis dengan lingkungan sekitar. "Lewat karya- karyanya, Entang berusaha menggulirkan problem identitas manusia dewasa ini yang multidimensi. Sayang, saat ini pesan itu masih sulit ditangkap," kata dia. (AB4)

No comments: