Tuesday, June 26, 2018

Gomblang




Ini seperti blessing in disguise dalam bentuk yang berbeda. Liburan Lebaran ini rencananya ingin ke Curug (air terjun) Cipendok di kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah. Tapi sepertinya itu telah menjadi destinasi wisata favorit dan mainstream. Jadi terlalu riuh dan kurang nyaman. Apalagi Baturraden yang pasti lebih crowded karena terlalu banyak pengunjung.

Kendaraan kuarahkan mencari kawasan ketinggian yang mungkin ada panorama bagus. Pada sebuah persimpangan, oh, ada banner kecil yang menawarkan sebuah tempat bernama "Curug Gomblang". Ah, ternyata aku kurang gaul, ada banyak tempat wisata di Banyumas atau sekitar kota Purwokerto.

Kendaraan kupacu pelahan karena jalan tak terlalu lebar dan cukup ramai situasinya. Dari kota kecamatan Kedungbanteng ke arah utara. Desa di utara Kedungbanteng yang pernah kudatangi beberapa tahun lalu adalah desa Windujaya. Sekarang kondisi jalannya bagus tapi tetap harus hati-hati karena sempit dengan salah satu sisinya jurang sedalam belasan hingga puluhan meter.

Setelah melewati desa Windujaya, jalan makin menanjak. Sangat terjal. Kendaran dengan mesin kurang beres mungkin akan berisiko tinggi melewati kawasan ini. Mobil dengan double gardan sangat disarankan. Sepeda motor matic kurang disarankan menempuh kawasan ini karena bila turun akan berisiko dengan rem yang bisa panas dan tidak berfungsi lagi. Bisa celaka.

Batas akhir desa Windujaya sudah kami lewati. Kini jejalanan tidak lagi mulus aspalnya. Bahkan terbilang buruk karena penuh lubang dan aspal banyak terkelupas. Sesekali jalan agak membaik, tapi berganti lagi dengan jalan berkerikil dan bebatuan. Kendaraan tak mungkin dipacu lebih kencang karena pasti penuh guncangan yang tak nyaman.

Kalisalak, nama desa yang kini kami lalui. Kami sempat melewati pertigaan jalan. Bila belok ke kanan atau timur menuju tempat wisata Ketenger. Sepertinya kondisi jalan lebih buruk. Maka tetap kami putuskan untuk belok kiri/barat ke arah Curug Gomblang. Jalan agak membaik. Tapi lama karena jalan bebatuan harus dilewati hingga kemudian sampailah di gerbang masuk lokasi wisata Curug Gomblang. Kawasan itu adalah hutan lindung milik Dinas Perhutani. Mobil diparkir di situ. Ada camp area atau tempat berkemah di seputaran tempat parkir.

Berikutnya petugas menyilakan kami untuk menumpang mobil Hiace dengan bak terbuka untuk menuju lokasi Curug Gomblang. Ada jarak sekitar 1 km yang masih terentang. Jalan bebatuan dengan tanjakan dan kelokan tajam memang sulit ditempuh dengan kendaraan biasa.

Setelah sekitar 10 menit perjalanan, sampailah kami di lokasi Taman Curug Gomblang. Saya menduga ketinggian kawasan ini sama dengan daerah Baturraden, yakni sekitar 650 mdpl (meter di atas permukaan laut). Sementara lokasi air terjun Gomblang-nya sendiri masih berada sekitar 250 meter dari taman atau gardu pandang dengan berjalan turun melewati jalan setapak yang sebagian telah ditata dengan baik. Ya, tidak mudah untuk menemu tempat yang indah.

Sayang kami datang saat senja hampir tiba. Petugas tidak menyarankan kami untuk turun mendekati curug karena cahaya matahari segera melenyap, lokasi pasti segera gelap. Tak ada listrik di situ.

Panorama di sekitar Curug Goblang sangat indah. Pun dengan curug berikut sungainya yang berair sangat jernih. Mandi di sungai atau sekitar bawah curug tentu sangat segar. Tapi pasti sangat berbahaya bila masih musim penghujan. Air sungai bisa tiba-tiba meluap karena hujan jauh di hulu sungai.

Apapun, Curug Gomblang sangat menarik untuk dikunjungi bila Anda cukup waktu untuk bertandang di kabupaten Banyumas atau sekitar Purwokerto, Jawa Tengah.