Posts

Makan Malam Model Jero Wacik

Image
SUATU petang di tahun 2009, mendadak aku mendapat sms dari mbak Dyan Anggraini, Kepala Taman Budaya Yogyakarta (waktu itu). Isinya berupa undangan makan malam bersama Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik di hotel Melia Purosani. Jarak antara datangnya sms dan jadwal acara hanya kurang dari 2 jam. Karena lagi selo (longgar waktu), saya penuhi undangan tersebut. Ternyata ada sek itar 50-an orang datang di acara tersebut. Aku pun berhambur di antara keriuhan para undangan untuk makan enak di hotel berbintang 5 itu. Dan lebih menyenangkan lagi karena aku bertemu dengan banyak teman, juga para seniman senior, yang sudah cukup lama tidak srawung (bertemu). Seusai makan malam, para undangan diminta berpindah ruang di salah satu hall, karena agenda berlanjut dengan acara bincang-bincang. Tapi dari awal aku sudah nyeletuk, “Lho, kok formasi duduknya tidak menarik? Kayak mau kuliah umum, atau kebaktian di gereja, atau temu kader, hehe…” Itu karena para un...

Melihat Ekspresi Watak Bayu

Image
Oleh Kuss Indarto DALAM sebuah kesempatan, Dr. Rodrigo de Andrade, Direktur do Patrimonio e Artisco National, Brazilia, memberikan komentar pendek ketika menyaksikan pelukis Affandi sedang melukis: “… Sesungguhnya, beliau tidak melukis, (tapi) beliau memberikan dirinya sendiri ke dalam kanvas, dengan tube-tube yang berisi cat pada tangannya, jarinya berfungsi sebagai kuas…” Komentar tersebut dituliskan oleh (almarhum) pelukis Nashar dan termuat dalam katalog “Kata Rasa 100 Hari” untuk memperingati 100 hari kepergian Affandi, yang acaranya berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, tahun 1990. Saya kira komentar Dr. Rodrigo de Andrade tidaklah berlebihan, bahkan relatif cukup representatif untuk memberi gambaran atas totalitas kesenimanan Affandi ketika berhadapan dengan kanvas. Ketika di depan kanvas, maestro itu benar-benar terlihat tengah menggeluti dunia yang menghidupi diri dan reputasinya, juga harga diri dan cecitraan yang melingkunginya. Realitas ini, bagi saya, seperti seb...

Karya Seni dalam/untuk Masyarakat

Image
Oleh Kuss Indarto   Beberapa karya Endeng Mursalin dalam pameran kali ini, terutama lukisan tentang potret dirinya sendiri, memperlihatkan potongan kepeduliannya pada problem sosial politik yang tengah berkembang dalam perbincangan masyarakat. Pada 2 lukisan berwarna di antara karya lainnya terlihat di sana potret diri Endeng yang tengah teriak lantang. Mulutnya terbuka, sebagian giginya tampak, dan di tubuhnya seperti berada dalam kepungan berbagai persoalan seperti masalah impor yang menusuk daya kemandirian bangsa, dan lainnya. Karya seperti ini, bagi saya, seperti mengingatkan pada karya-karya perupa kontemporer China, Yue Minjun. Pada sebuah kurun waktu tertentu karya-karyanya seperti stereotype , seragam, monoton, namun ternyata membawa konsep kreatif yang sangat kritis. Minjun menampilkan potret dirinya yang tertawa dalam gubahan visual yang komikan, seperti komik atau kartun. Gigi-giginya berderet tidak wajar jumlahnya, yakni total hingga 60-an gigi. Lalu di batok ke...

GEGAR BIROKRASI

Image
KASUS pengunduran diri Lasro Marbun sebagai Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, tampaknya tak bisa dibaca secara sederhana. Ini sebuah sinyalemen juga simbol penting bahwa ada perlawanan dari dalam tubuh birokrasi untuk menolak banyak perubahan, atau apalagi revolusi. Sinyalemen ini semakin meneguhkan apa yang telah dikatakan oleh Gus Dur sekitar Oktober 2001 lalu saat mengawal i jabatannya sebagai RI-1 dulu bahwa ada 2 tubuh besar yang perlu direformasi besar-besaran: (1) birokrasi pemerintahan yang gemuk, lamban dan penuh belitan, serta (2) militer yang mesti dikembalikan ke barak, bukan banyak bermain di ranah (pemerintahan) sipil. Kesadaran seperti Gus Dur tampaknya juga dipahami betul oleh pasangan Jokowi-Ahok ketika memimpin salah satu propinsi terkaya dan terkompleks permasalahannya di Indonesia ini. Pembenahan dalam birokrasi di DKI Jakarta oleh Jokowi-Ahok terlihat cukup kentara. Dalam 1,5 tahun pemerintahan mereka setidaknya ada 3 kepala dinas (tingkat pro...

Jokowi dan Seni(man)

Image
Oleh Kuss Indarto Jokowi-JK resmi terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2014-2019. Setelah membaca pidato kemenangan (selengkapnya silakan baca di bagian bawah) yang dibacakan oleh Jokowi di atas geladak kapal pinisi “Hati Buana Setia” di Pantai Sunda Kelapa, ada beberapa hal yang bisa dicermati: (1) Jokowi-JK ingin menjalankan roda pemerintahan dengan baik tanpa banyak dijegal oleh lawan politik nya. Maka dia mengucapkan terima kasih mengapresiasi Prabowo-Hatta Rajasa sebagai “sahabat dalam kompetisi politik”, BUKAN seperti yang telah diucapkan oleh Prabowo dalam wawancaranya dengan BBC beberapa waktu lalu yang menyebut Jokowi sebagai “enemy” (musuh), bukan “rival” (pesaing), apalagi “sahabat”. (2) Jokowi menyebut dengan tegas bahwa Pemilu/Pilpres kemarin bukan hanya “sebagai sebuah peristiwa politik semata-mata, tetapi peristiwa kebudayaan”. Ini memberi indikasi yang kuat bahwa era pertarungan politik ke depan akan memberi porsi yang besar pa...

Elek Ning Jero

(Pengantar singkat untuk buku kumpulan kartun Prie GS., "Indonesia Tertawa" , 2014)   SALAH satu maestro seni rupa Indonesia, almarhum H. Widayat, saat masih mengajar di kampus Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta, sering membuat keder mahasiswa. Apalagi kalau mengritik karya-karya lukis para mahasiswanya. Tak jarang, saat menghadapi lukisan yang tidak menarik secara artistik dan estetik (baginya), pak Widayat langsung bertanya, “Ini lukisan siapa? Maunya apa?” Sang mahasiswa empunya lukisan tersebut dengan antusias bergegas menjawab, “Karya saya, pak!” Pak Widayat hanya berkomentar pendek: “Elek we durung, mas!” (Jelek saja belum, mas!) Seperti biasa, ledakan tawa seperti nyaris meruntuhkan tembok kelas mendengar komentar sang dosen itu. Dan dari titik momentum tersebut pak Widayat biasa memberi argument dan dalih atas komentarnya. Sejujurnya, saya juga punya komentar serupa ketika menyaksikan karya-karya kartun mas Prie GS yang terhimp...

Kesederhanaan dalam Ujian Konsistensi Artistik

DALAM pelataran sejarah, publik telah menengarai bahwa seni lukis abstrak telah lama mengemuka sebagai bagian penting dari dinamika seni rupa. Robert Atkins dalam ARTSPEAK: A Guide to Contemporary Ideas, Movements, and Buzzwords (1990) memberi peta kecil bahwa seni lukis abstrak telah muncul dan dipioniri oleh tiga sosok penting, yakni Wassily Kandinsky yang beproses di Munich, Jerman, dan Frantisek Kupka serta Robert Delaunay di Paris, Perancis. Pada rentang waktu yang nyaris bersamaan, yakni antara 1913-1916, tokoh constructivist Rusia, Vladimir Tatlin mengkreasi bentuk-bentuk relief abstrak yang dianggap sebagai pencapaian baru. Dalam perkembangannya, sekira tahun 1940-1950, setidaknya yang bisa ditapaki jejaknya di Amerika Serikat, tidak sedikit seniman yang masuk dan suntuk dalam kesadran kreatif abstract expressionism. Ada banyak nama yang membawa arus ini seperti William Baziotes, Adolf Gottlieb, Philip Guston, Franz Kline, Lee Krasner, Robert Motherweli, Barnett Moth...