Thursday, August 18, 2016

HOS Tjokroaminoto

Lukisan potret HOS Tjokroaminoto karya Affandi yang dipamerkan dalam pameran koleksi istana kepresidenan "17/71: Goresan Juang Kemerdekaan" di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 2-28 Agustus 2016.
 
Barangkali, posisi Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto serupa "godfather" bagi beberapa tokoh pergerakan nasional. Dialah guru tempat belajar bagi Soekarno, Semaoen, Tan Malaka, Alimin, Musso, dan lainnya. Bahwa kemudian anak didiknya terberai dengan ideologi pilihan masing-masing, mungkin, itulah bagian dari pembekalan atas cakrawala pengetahuan yang pernah diberikan oleh Tjokroaminoto bertahun-tahun sebelumnya.

Sayang, Tjokroaminoto berumur pendek, hanya 52 tahun (1882-1934). "Raja Tanpa Mahkota" yang mendirikan Sarekat (Dagang) Indonesia (1912) ini, kalau berumur lebih panjang, barangkali, bisa ikut terlibat menyusun platform negara ini dengan lebih baik bersama para (mantan) muridnya. Entahlah.

Lukisan karya Affandi tentang figur HOS Tjokroaminoto ini kemungkinan besar dilukis berdasar foto. Citra realistiknya relatif bagus. Citra tentang wong cilik atau rakyat kecil yang banyak dibela oleh Tjokroaminoto tampak pada latar belakang, yang berbeda jauh dari foto sumber lukisan ini. Semua adalah imajinasi Affandi.

Tjokroaminoto meninggal di Yogyakarta, dan dimakamkan di Kuncen, Wirobrajan, Yogyakarta. Tak heran kalau jalan utama yang menjelujur utara-selatan di utara perempatan Wirobrajan bernama Jalan HOS Cokroaminoto. Di pusaranya tercatat teks di atas batu marmer: Pahlawan Islam Yang Utama. (Ya cukup hafal, wong makam beliau hanya 50-an meter dari makam bapak mertuaku, hihi...). Tuhan, muliakanlah beliau di sisiMu.